Malam bertabur bintang. Alindya atau yang akrab dipanggil Lindy itu tengah asik memainkan ponselnya setelah 2 jam ia berkutat dengan tugas-tugas sekolahnya yang menggunung. Ia membalas pesan dari sahabat-sahabatnya. Dalam sebuah Group chat di Line yang bernama 'Klub Cecunguk'
Alindya Khansa : Oi!oi!
Mutiara : Apaan sih lin? Berisik deh
Andini P : Tau lo lin
Andini P : *Cony cynic*
Alindya Khansa : Pada jahat, yaudah gue left aja deh
Alindya Khansa : *James cry*
Shania Dafaera : Gih sono left! Gue gak mau ngundang lagi
Mutiara : Parah lo shan haha...
Shania Dafaera : Hayati lelah:( Kalo baper pada left
Alindya Khansa : Kalian hobi banget sih ngebully gue. Heran
Fania Shafaera : Soalnya lo doang lin yang paling enak di bully haha...
Fania Shafaera : *Evil laugh*
Lindy berjalan ke arah kasurnya, melempar pelan ponselnya ke pojok kasur, lipatan selimut. Ia menggerutu, mengutuk para sahabatnya. Kemudian merebahkan badanya, melungkupkan kepalanya ke dalam bantal. Lindy merasa sangat lelah. Hari ini jadwalnya sangat padat. Ulangan, pengambilan nilai olahraga, kerja kelompok ditambah dengan tugas-tugas yang lainnya. Matanya sudah memerah akibat menahan kantuk yang sudah datang saat ia mulai membuka buku tugas. Ketika ia mulai memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara dentingan ponsel. Berat hati ia kembali membuka matanya
Kliingg!
Lindy meraih ponselnya yang tadi ia lempar ke pojokan kasur. Terlihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
From : +62882153174090
Hai lin!:)
Lindy membelalakan matanya setelah membaca pesan tersebut. Terbentuk kerutan-kerutan halus di dahinya. Wajahnya menampilkan ekspresi kaget sekaligus bingung. Lindy memutuskan untuk tidak membalas pesan tersebut. Dengan cepat ia kembali merebahkan badanya dan meletakkan ponselnya di nakas.
Ah paling temen gue ada yang ganti nomor, batinnya. Ia bertekad akan menanyakan pada teman-temannya besok.
Lindy mulai memejamkan matanya kembali. Ia berharap kali ini tidak ada suara yang mengganggunya lagi. Ia sangat butuh istirahat, besok akan jadi hari terberatnya lagi. Karena, ia akan dihadapkan soal-soal tak berperikemanusiaan, soal kimia.
Padahal jauh diujung sana seseorang sedang berharap dan menunggu balasan pesan dari Lindy. Seseorang yang tak akan pernah Lindy duga. Bukan sahabat-sahabat dekatnya.
YOU ARE READING
Apology
Teen FictionPernah dengar tidak, kalau membuat seribu burung bangau dari kertas origami bisa mengabulkan keinginanmu? Kendengaran konyol memang. Tapi.. jika itu memang nyata, aku akan membuat permohonan agar dia kembali di sisiku dan memaafkanku. -Alindya Khan...
