Bagian #1."Awal"

229 11 5
                                        

      

     Jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Sesekali terdengar suara lolongan anjing saling bersahutan, sementara kendaraan masih sesekali melintas.
Hembusan angin semilir membawa hawa dingin yang kian menyelimuti suasana sepi itu.

Dari arah depan jalan, sorot lampu yang amat terang dari sebuah mobil bermuatan kian mendekat. Mobil itu kemudian berbelok masuk ke arah terminal yang sudah sepi, lalu berhenti.

"Halo, Pak! Di mana ini posisinya? Kami sudah sampai di Dam," kata sopir mobil itu melalui telepon.
"Oh, ya ya... tunggulah 15 menit lagi, saya ke situ!" jawab lawan bicaranya.
"15 menit, Pak? Cepatkan lagi lah..."
"Ya, pokoknya kalian tunggu saja. Oke."
"Ya sudahlah, yang cepat ya, Pak."

Setelah menaruh ponselnya di saku, ia mengambil botol air minum di dekat jok.
Di sebelahnya, temannya tampak terkantuk-kantuk. Tangan kanannya mengucek mata, lalu membersihkan kotoran yang menempel.

"Jam berapa sudah, Bang?" tanyanya ingin tahu.
"Jam 2, Bro. Kalau ngantuk, tidur saja dulu. Kita ada waktu sebentar buat istirahat. Pasti capek, kan? Aku juga, hehe."
"Kutinggal sebentar ya, mau kencing dari tadi nih."
"Iya, iya."

Setelah keluar dari mobil, orang itu berjalan ke arah depan mendekati sebuah pos keamanan. Lampunya masih menyala, tapi penjaganya sudah terlelap dengan dengkuran nyaring.

"Aduh, di mana ini cari toiletnya..." gumamnya kesal.

Sampai di sebuah gang sempit, ia berhenti. Tidak ada orang di sana, jadi langsung saja ia membuka resleting celananya.
"Ah, tak apalah. Daripada kencing di celana, kan? Hehe," ujarnya sambil tertawa kecil.

Begitu selesai merapikan celana, tiba-tiba terdengar suara dari ujung gang. Suara itu terasa tidak asing—seperti erangan seseorang.

"Ah, masa di tempat seperti ini ada... wah wah!" gumamnya pelan.

Karena penasaran, ia mendekat. Samar-samar terlihat sepasang kekasih bersandar di tembok, tengah berhubungan badan.
Rasa kantuknya langsung hilang seketika.

"Gile bener... main di sini."

Walaupun ia bukan orang sini, ia sering mendengar bahwa daerah ini kerap menjadi tempat mangkal para PSK, biasanya beroperasi mulai tengah malam.

Namun, ketika keduanya selesai melampiaskan birahi, sesuatu yang mengerikan terjadi. Sang pria, setelah merapikan pakaiannya, tiba-tiba menghujamkan tangan kanannya ke arah dada wanita itu.

JRUAASSS!!!

Suara tusukan disusul semburan darah segar yang memuncrat. Wanita malang itu hanya mampu ternganga, tubuhnya mengejang tanpa suara.

TES!

Sebuah benda berdegup keluar dari tubuhnya—jantung manusia—dan seketika disantap sang pria dengan lahap.

Orang yang mengintip dari sela gang itu mulai gemetar, napasnya memburu.
"Hantu... hantu... hantu..." bisiknya berulang.

Saat ia mundur perlahan, sebuah balok kayu terjatuh. Suaranya membuat sang pemangsa menyadari keberadaannya.
Gemeretak giginya terdengar, taringnya mencuat. Ia menatap tajam ke arah suara langkah yang berlari menjauh.

☆☆☆☆☆

Langkah kakinya terasa berat, seakan ada yang menahan. Keringatnya bercucuran deras. Saat ia menoleh ke belakang, dilihatnya laki-laki pemangsa tadi sudah berdiri di ujung gang, menatapnya dengan tatapan nanar.
Sontak saja ketakutan menyergap dirinya. Bagaimana jika ia juga akan menjadi mangsa berikutnya?

Sesampainya di mobil, ia segera membangunkan temannya yang tengah tertidur.
"Ba... bang, bangun! Bangun, bang! Ada hantu! Ada hantu!"
"Ehh... hantu? Hantu apa...?"
"Hantu, Bang. Makan orang di—"

BALIKPAPAN GHOSTHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora