Suspicious...

64 6 0
                                        

Denmark, 5 April 1940

Hari cuti Kami telah berakhir, Bjørn,Cristian dan aku. Karena tidak ada truk militer yang menjemput, kami bertiga memutuskan untuk berjalan ke barak Kami didekat Perbatasan Jerman, lebih tepatnya di Felsted.

Jam masih menunjukan pukul 5 pagi. tentu masih terlalu pagi dan dingin untuk berjalan sejauh 10 kilometer. Untuk menghangatkan suasana, Bjørn menawarkan rokok kepada kami berdua. Langsung saja Cristian mengeluarkan korek apinya untuk menyalakan rokok Kami bertiga.

"Jadi bagaimana liburan mu, Cristian?" Tanyaku.

" seperti biasa, Membaca buku, membantu ibu di perternakan" .

"Bagaimana dengan kau Bjørn?".

"Kalian tidak usah tahu" menjawab dengan Angkuh.

" ayolah Bjørn, sudah 2 tahun di pasukan dan kau masih juga kaku?" Ejek Cristian.

" jika kuberitahu Kau pasti tertawa" .

" ayolah Bjørn, aku penasaran" rayu Cristian.

"Psst" bisikku Ke Cristian.

"Apa?" Mendekatkan telinganya ke muka ku.

"Dia baru saja menikah" ujarku.

" HAHA, Jadi seperti itu" teriak Cristian.

Langsung Muka Bjørn memerah dan menutupi malu dimukanya dengan topi. Sebenarnya Wajar, orang yang baru menikah biasanya malu menyebar luaskan berita kalau mereka sudah menikah. Dan aku tetap sendiri....

"Jadi, bagaimana dengan *ehemm*, kau tahu itu" melirik pedas Ke Bjørn.

" ya seperti itu" membetulkan topinya.

"Ayolah, tinggal bilang saja 'Menyenangkan', Kenapa harus repot" ejek Cristian sambil tertawa kecil.

" Sudah Cristian, jangan ganggu dia".

"Nah, sekarang bagaimana dengan mu Walter? Apa sudah menemukan wanita idaman mu? Tanya Cristian.

"Belum" menggelengkan kepala.

" kalau begitu, cepat CARI!!" Bentak Cristian.

"Baiklah" jawabku.

Kenapa dia mengurus tentang masalah percintaanku -_-, aku yang cari wanita kenapa dia yang membentak.

Suasana diam sesaat, dipecahkan dengan suara gemuruh truk. Kami semua langsung menoleh kearah dimana suara truk berasal. Kami berharap itu adalah truk militer. dan ternyata bukan. Hanya truk sipil.

"Akh, Kita dibohongi!!" Teriak keras Cristian.

" Tapi Kita bisa menumpang truk itu untuk mencapai Persimpangan jalan" saran Bjørn.

"Nah, ide bagus itu" jawabku sambil menaruh koper di pinggir jalan.

Aku mencoba mengancungkan ibu jariku kearah datangya truk sipil. Masih kucoba mengangkat ibu jariku dengan melambaikanya Ke atas. Truk sudah mulai dekat dengan kami. Tapi, kecepatanya tidak juga turun, seharusnya truk itu sudah bisa melihat kami bertiga. Cristian memiliki inisiatif sendiri. Ia ambil batu di dekat jalan, langsung di lempar batu itu, hingga mengenai Kap mobil. Sempat oleng sementara truk itu kemudian langsung berhenti. Kami berdua menatap heran sekaligus 'wow' dengan kelakuan Cristian. Lalu kami berdua menoleh Ke Cristian yang sedang membersihkan tanganya setelah melempar batu tadi.

" apa?" .

" apa Kau sadar apa yang kau lakukan tadi?" Memasang muka menyeramkan.

"Ehh, iya" jawab ragu Cristian
" kau......" mengepalkan tangan.

Lebih baik aku pergi sekarang untuk menghindari masalah ini. Kulihat Dari jauh Bjørn memarahi Cristian sambil memukulinya. Kusempatkan melihat keadaan supir truk yang malang itu. Kulihat lebih dekat, aku seperti mengenali supir itu.

" Justinus?" Sahut ku.

" Walter?" Jawabnya dengan terbata-bata.

" oh sial!, apa yang kau lakukan dengan truk sipil?" Membantunya keluar dari truk.

"Truk militer kita rusak, Jadi aku diperintahkan untuk membawa truk sipil.

Masih kulihat dari jauh Bjørn memukul sekaligus memarahinya. Ku tolong Justinus berjalan dari truk sampai Ke pinggir jalan. Lalu membaringkanya. Lalu,

"HEII! ada Justinus disini" teriakku.

" hah, Justinus?" Menjawab Kompak.

Bjørn dan Cristian langsung berlari ke arah Justinus.

" Justinus Kau tidak apa-apa?" Cemas Bjørn.

" ya, aku tidak apa-apa" jawabnya sambil memegang kepalanya yang luka.

" sini biar ku perban dulu" tegasku sambil mengeluarkan perban.

" Hah, untung saja aku tidak melemparnya lebih tinggi lagi" berbicara dengan nada sombong.

" Kau... sekali Lagi kau berbicara seperti itu, Kau akan pulang ke Barak tinggal jari telunjukmu saja!!" Ancam Bjørn.

" Baik...lah" menjawab dengan nada takut.

Masih saja mereka berdua dapat bercanda, tidak peduli dimana pasukan berada, mereka berdua selalu membawa canda tawa di pasukan.

" Nah, sudah selesai" tukas ku.

"Ya, terima kasih Walter" berusaha berdiri.

Justinus berjalan kearah truknya lalu berteriak,

"Bjørn,Cristian, Ayo naik!!" Teriak Justinus.

" hah?" Menjawab dengan kompak lagi.

"Aku tidak?" Tanya ku.

" tentu saja Kau juga bodoh" candanya.

" haha, aku hanya bercanda Justinus".

Langsung saja, aku naik ke bagian belakang karena sudah tidak ada tempat yang tersisa di depan. Di bagasinya terlihat banyak kotak yang sepertinya berat. Truk langsung berjalan Ke arah barak kita. Karena penasaran, aku membuka kotak. Di dalamnya terdapat Amunisi baru, kotak P3K , suku cadang dan senapan mesin!! Untuk apa semua peralatan ini? Denmark sedang tidak berperang. Karena dihantui lagi rasa penasaran aku bertanya ke Justinus.

"Justinus" teriakku.

"Apa?" Jawabnya.

" apa Kau tahu isi kotak ini?" Tanyaku.

" eh.. aku.. tidak tahu isinya" jawab dengan sangsi, " memang kenapa?" Balasnya.

" tidak apa-apa" jawabku.

Tentu saja ini membuatku bingung, kenapa Justinus gugup menjawab pertanyaan ku?. Apa yang Justinus sembunyikan??.

Second HopeWhere stories live. Discover now