Home

22 3 0
                                        

"Duh! Apaan sih lo Ta annoying banget tau gak. Udah awas gue mau bikin sandwich. Laper nih gue!" teriak Ardela --yang biasa dipanggil Ardel-- saat menyadari Alta sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.

"Astaga Del jangan sensi-sensi kenapa sih jadi orang. Bikinin gue juga dong makanya. Gue juga laper kali." Alta memelaskan wajahnya. Ardel tau ini hanya sandiwara yang sering dilakukan Alta setiap datang ke rumahnya. 

"Eh Ta, gue tuh kenal lo seumur hidup gue selama 17 tahun. Udah mau gumoh gue. Gak usah sok melas lo. Lagian gak ada juga yang nyuruh lo dateng ke rumah gue. Udah sana pulang." Dan dari jawaban Ardel, Alta tau bahwa Ardel sedang datang bulan, dan tidak ingin diganggu. 

"Ah, Del lo mah tega sama gue. Rumah gue jauh harus naik gojek, pake helm pula, macet Del ini Jakarta." Alta kembali memelaskan wajahnya. 

Dengan cepat, Ardela menjitak kepala Alta gemas.

"Pala lo! Rumah lo itu disamping, kampret. Dih najis ganteng-ganteng idiot."  Ardela memutar bola matanya dan kembali melanjutkan membuat sandwich.

"Anjir anjir pala gue benjol Del. Ah lo mah tega." 

"Emang."

"Ngomong-ngomong, iya gue tau gue ganteng. Tapi aku idiot cuma ke kamu kok, beb Ardel." ucap Alta sambil menggunakan nada sok imut pada akhirannya, sambil mengedipkan satu matanya kearah Ardel.

Satu detik.

Dua detik.

"..PULANG SANA LO ALTA MARIO ALEXANDER. JANGAN BALIK LAGI KALO BISA!" Teriakan Ardela terdengar sampai keujung ruang rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Alta.

"Ah gak mau. Nanti lo kangen gue." Alta kembali memancing sahabat kecilnya itu. Namun tak ada jawaban dari Ardel.

"Del."

"Ardela."

"Woi Del."

"Bebi Ardel."

"Ardela Alexandra."

"Sayangku."

Ardela segera memalingkan wajahnya kearah Alta.

"Najis." Jawab Ardela.

**



Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Dec 26, 2015 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

HomeDonde viven las historias. Descúbrelo ahora