Senyummu

173 3 0
                                        


Tepat 2 tahun Anky menyimpan perasaan suka kepada seorang cowok di sekolahnya. Bukan teman dekat, hanya teman biasa. Wajar saja jika Anky menyukai sosok Muhammad Alif Pramudya yang kalem, ramah, pintar, ketua klub Science, dan tidak macam-macam. Sosok anak cowok baik-baik. Ditambah wajahnya yang di atas rata-rata alias ganteng. Meski dikenal dari ujung ke ujung di sekolah tapi tidak lantas membuatnya sombong. Alif tetaplah Alif. Itu yang makin membuat Anky rela dan setia menjadi pengagum rahasianya.

Anky juga tahu, bukan hanya Anky yang menyukainya, ada Rara, Sisca, Indah, Sayyu, Tasya, dan masih banyak lagi. Tasya ini saingan terberat Anky. Dia yang paling sering ngedekatin Alif dibandingkan cewek-cewek yang lain. Tasya memang makhluk tercantik di sekolah ini. Ketua ekskul dance lagi. Tapi tampaknya Alif tidak mengambil pusing hal itu. Sikapnya sama seperti dia memperlakukan teman ceweknya yang lain. Seperti kejadian siang ini.

"Alif, kamu ikut aku aja ya? Nanti aku anterin sampai rumah kamu deh, ya?" bujuk Tasya manja ke Alif yang sedang menunggu bis di halte depan sekolah.

"Bukannya nolak Tas, tapi aku gak mau ngerepotin kamu. Lagian aku juga gak langsung pulang kok. aku mau ke tempat lain dulu," Alif menolak dengan sopan, dia tahu Tasya paling tidak suka ditolak.

"Ya udah gak papa, aku anterin deh, mau ya Lif?" 

"Aduh sorry banget ya Tas, hari ini aku beneran gak bisa. Aku buru-buru Tas. Maaf ya," Alif langsung menghentikan sebuah bis dan menaikinya. Meninggalkan Tasya yang keheranan dan cemberut masam.

"Isshh! Alif nyebelin! Udah untung gue ajakin pulang bareng, eh dianya malah pergi duluan. Awas lo nanti, lo pasti bakal takluk sama gue," rupanya Tasya sudah bosan juga dicuekin Alif terus-terusan. Kesal hatinya.

Anky yang juga sedang menunggu mikrolet di halte hanya terkikik pelan melihat muka Tasya yang kesal dan cemberut.   

Keesokan harinya, suasana kantin ramai sekali karena pas jam istirahat siang. Suasana ramai tidak lengkap tanpa adanya gosip-gosip baru seputaran sekolah. Gosip kali ini tentang kehadiran anak pindahan baru di kelas 11 yang katanya cantiknya ngalahin Tasya. Wiihhh.. Tasya sudah kelimpungan banget. Dia berkoar ke sana kemari mencari informasi tentang 'calon rival'-nya ini. 

Emilia Vahrika, anak kelas 11-B. Keturunan Jerman - Indonesia. Cantik, mungil, jago bahasa Inggris, dan tajir. 

Perfecto!

 Sudah bisa dipastikan, Emi akan menjadi inceran Tasya dan gengnya. Tasya dan teman-temannya masih duduk di kantin sambil nanya ke anak-anak yang lain tentang Emi.

"BRUKK!" tiba-tiba bahu Anky ditabrak seseorang dari arah berlawanan di depan kelasnya.

"Eh, maaf kak.. saya gak sengaja.. maaf ya," seorang gadis cantik dan mungil berdiri di depan Anky sambil menunjukkan wajah khawatir. Takut Anky marah karena kecerobohannya.

"Gak papa kok. Kamu anak baru ya? Gak pernah lihat sebelumnya," Anky merasa cewek di depannya ini adalah tokoh utama gosip hari ini.

"Ohh, iya kak. Emi, kak."

Emi mengulurkan tangannya ke Anky.

"Anky. Oh ya, gini .. kalau boleh aku masih ngasih tau. Kamu hati-hati ya di sini. Apalagi sama yang namanya Tasya, anak kelas  12-A."

"Tasya?"

"Iya Tasya. Hati-hati aja ya."

"Saya sudah tahu kak, tapi terimakasih kak Anky mau ngasitau ke saya. Sekali lagi maaf ya kak Anky, tadi nabrak kakak.."

"Santai aja, gak papa. Aku duluan yah, bentar lagi bel masuk," Anky mendahului Emi untuk masuk ke kelasnya.

Tapi Anky sedikit heran, ngapain anak baru itu keluar dari kelasnya? 

"Ah, mungkin dia ada perlu kali," batin Anky.

Anky duduk kembali ke kursinya. Kelasnya masih belum banyak orang karena memang masih jam istirahat. Tapi Anky langsung betah duduk di kursinya yang kebetulan pas dekat jendela kelas. Bukan karena belajar atau apa, tapi karena memperhatikan Alif yang sedang duduk membaca buku dengan tenang di mejanya. Itu sudah menjadi kebiasaan Anky sejak kelas 1. Memperhatikan Alif dari kursinya. 

Meski kanan kirinya ada Ayas dan Rizal, temannya yang selalu bersama Alif. Alif masih asik membaca buku. Wajahnya yang serius semakin membius pandangan Anky yang terus memperhatikan Alif. 

"Alif kalau udah baca buku, serius banget mukanya. Lagi baca buku apa sih Lif? Apa Alif sadar akan keberadaanku yang selama hampir 3 tahun ini memperhatikannya? Ahh .. mengkhayal kamu Ky! Kamu kan hanya teman biasa buat Alif... Gak papa deh, yang penting masih bisa merhatiin Alif meski diam-diam begini.. Aku sudah senang kok. Selama bisa lihat dia.."

Pikiran Anky menemaninya hingga bel masuk kelas pun berbunyi, saat itulah ketika tiba-tiba Alif menoleh ke belakang dan matanya tepat melihat mata Anky yang masih melihatnya. Anky salah tingkah! lantas langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela. 

Tanpa Anky tahu. Alif menarik ujung bibirnya pelan. Alif tersenyum. 

Meski sekilas. Itu sudah cukup.

*to be continue


Senyumku Hanya UntukmuHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora