****
God knows since when you're in my heart.
Siang hari ini, sehabis pulang kuliah. Aku berdiri lagi di tempat biasanya orang-orang selalu menunggu kehadiran kerabat, orangtua, kekasih atau siapa pun itu di bandara. Ini tepat setahun lamanya dia pergi jauh dari pandangan mataku dan juga ini tepat dibulan kedelapan aku menunggunya pulang di bandara. Mencari-cari sosoknya turun dari dalam pesawat.
Jam terus berjalan, menit terus berganti dan detik pun tak henti-hentinya terus berdetak. Kulirik jam dipergelangan tanganku sudah jam 5 PM berarti sudah 5 jam aku duduk menunggu sosoknya muncul di hadapanku. Lagi-lagi kenyataan pahitlah yang kudapati. Dengan segenap rasa kecewa, aku beranjak dari kursi yang kududuki. Aku berjalan bersama kekecewaan.
Aku berjalan membawa rasa yang masih tersimpan rapi untuknya. Wahai cinta ketauhilah, Tuhan selalu tahu sejak kapan sosokmu ada di dalam relung hatiku dan sejak kapan namamu terukir di sanubari hatiku.
Since i'm there you have been with me.
Aku selalu percaya bahwa kapan pun kamu akan muncul kembali di hadapanku. Dan bila saat itu tiba, kita akan menjalani lagi hari-hari bersama seperti dulu. Kehadiranmu selalu kutunggu. Karena sejak aku ada, kau sudah ditakdirkan untukku.
I promise, you the only one in my heart till eternity.
Aku telah berjanji. Aku telah berjanji sejak pertama kali kita bertatap muka saat itu. Masih ingatkah kau? Saat itu sosokmu yang maskulin sedang bermain basket di lapangan kampus bersama teman-temanmu. Pada saat itu, kau tidak tepat melempar bola yang ingin kau masukan ke dalam ring. Hasilnya bola itu memantul keluar lapangan dan mengenai kepalaku.
Tiba-tiba semua orang mengerubungiku, lalu memintamu membawaku ke ruang kesehatan. Saat itulah, kisahmu dan kisahku terukir. Saat itu juga aku berjanji, kamu adalah satu-satunya di dalam hatiku walaupun saat itu kamu belum mengetahui namaku. Klise memang, tapi seperti itulah keadaannya.
Bunyi panggilan yang berasal dari gawaiku cukup mengejutkan untuk menyadarkanku kembali ke dunia nyata. Kuambil ponsel yang diletakkan di kursi penumpang sambil melajukan kembali mobil setelah mengetahui bahwa lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau.
"Hallo," sapaku.
"Di mana kamu nak? Kenapa belum pulang ke rumah? Nanti malam kita ada acara dinner. Kamu jangan sampai lupa!" ujar Mama.
Mama yang telepon rupanya. Aku sama sekali tidak melihat siapa yang menelepon sebelum menjawab panggilan telepon ini.
"Sebentar lagi aku sampai, Mam. Yaps, aku gak lupa kalo nanti malam ada dinner di rumah," jawabku.
"No no sayang dinnernya bukan di rumah."
"Loh waktu itu, Mama bilang di rumah kan?"
"Rupanya Mama belum ngasih tahu kamu, ya. Kita gak jadi dinner di rumah. Papamu mau kita dinner di luar, Ify," jelas Mama.
"Oke Mam, sampai jumpa di rumah," ujarku lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Papa seorang pebisnis handal yang mempunyai beberapa cabang perusahaan di belahan dunia. Seperti biasanya selalu ada jamuan makan malam dan aku selalu beralasan di pertengahan makan malam untuk selalu pulang lebih cepat. Malam ini, aku akan melakukannya lagi seperti biasa. Dulu, ia selalu membantu untuk membuat alasan. Tapi sekarang aku harus membiasakan diri tanpa kehadirannya lagi. Kenapa tidak dari pertama aku menjadi pacarnya, dia tidak kukenalkan kepada orangtuaku. Kini aku menyesal tidak melakukan itu di saat dirinya entah di mana.
Tidak terasa mobil yang kukendarai sudah mulai memasuki garasi. Aku bergegas keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobil. Aku ingin cepat-cepat sampai ke dalam kamar. Hari ini, sangat melelahkan bagi tubuh dan hatiku. Tapi baru beberapa langkah memasuki rumah, suara Papa sudah mengisi indra pendengaranku. Huh, niatku terbatalkan.
YOU ARE READING
Ketika Hati Tak Bisa Memilih
Romance"Aku janji aku akan kembali untukmu," janji Gabriel. "Benarkah?" tanyaku. "Ya, aku janji karena sejauh manapun aku pergi cinta akan tahu dimana tempatnya berlabuh.. "Dan cintaku akan berlabuh untukmu, percayalah Fy," lanjutnya. **** "Hiduplah bersa...
