[Syukur pov]
Kadang aku tak mengerti jalan pikiran kedua adikku. Kami bertiga bersaudara, tapi tak ada mirip-miripnya. Bukan dari rupa, karena muka kami memang masih sambung menyambung satu sama lain, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia, eh malah nyanyi lagi. Oke, balik lagi ke kedua adikku ya? Iya? Iya aja deh!
Tapi...sebelum ke adik-adikku, lebih baik aku perkenalan diri dulu ya, siapa tau ada yang mau jadi sahabatku, atau lebih juga gak apa-apa, hehe, ngarep banget sih aku! Panggil saja aku 'Syukur', jangan ditertawakan. Itu memang namaku, orangtuaku langsung yang memberi nama itu. Katanya sih dahulu kala sebelum punya anak aku, sampai 5 tahun mereka harus menunggu mendapat kepercayaan untuk menjadi Ibu dan Ayah, makanya saat aku hadir ditengah-tengah mereka, ucapan syukur yang tiada henti mereka panjatkan pada Allah SWT. Yang telah menitipkan aku pada orangtuaku, menitipkan? Salah lagi kan bahasaku! Maafin aja ya, nilai bahasa Indonesiaku kurang memuaskan, jadi jika ditengah jalan kalian bertemu dengan kata-kata yang tidak beres, jangan salahkan aku, jangan salahkan penulis juga, tapi...salahkan siapa ya? Pokoknya semuanya benar tak ada yang boleh disalahkan!
Sekarang sudah jelas kan kenapa namaku syukur? Kalo masih belum jelas, dibaca ulang juga tak apa-apa.
Setelah mengenalkan diriku sendiri, aku mau ngenalin adik-adikku juga nih. Kadang aku iri pada mereka, kadang aku mikir Ayah dan Ibu tidak adil memberikan nama, nama mereka seperti kakak beradik beneran, ada mirip-miripnya, berbeda dengan aku. Adik pertamaku namanya 'Aiman', aku dan Aiman beda usia 3 tahun, saat ini dia masih kelas 2 SMA, anaknya pendiam, cuek dan susah diatur, tapi kalo yang menasehatinya adalah Ibu dia pasti akan langsung menurut. Kenapa? Karena Ibu adalah segalanya bagi kami, surga ditelapak kaki ibu.
Dan, adik keduaku namanya 'Aida', Aiman dan Aida cuma berbeda usia satu tahun, masih kelas 1 SMA, mereka satu sekolah, tapi tidak pernah mau berangkat bareng. Kenapa? Bukan karena gak akur, tapi karena Aida kalo dandan lamanya minta ampun! Padahal dia tidak bersolek sama sekali, tapi kalo mandi...nungguin dia sampe selesai, bisa ditinggal lari maraton dulu deh sepertinya, saking lamanya. Ah aku udah mulai berlebihan nih, tapi memang begitulah adik-adikku. Walau bagaimanapun aku tetap sayang pada mereka, apalagi pada Ibu dan Ayah.
Nama mereka memang kota, tapi tetap saja kalo Ibu yang manggil, nama mereka berubah semua. Dan aku bersyukur dengan nama 'Syukur' karena Ibu memanggil namaku dengan baik dan benar.
"Idah...cepetan keluar, tuh Iman udah berangkat sekolah, kamu dandan lama banget!" itu suara Ibuku tercinta memanggil Aida, bener kan namanya jadi berubah?
"iya bu, iyaaa..." Aida datang sambil menggendong tas dan menenteng sepatunya dari kamar. Setelah sampai didepan Ibu, "jangan panggil 'Idah' dong Bu, namaku kan 'Aida', nama udah bagus-bagus diganti-ganti mulu nih Ibu mah."
"sama aja, cuma beda dikit doang kok."
"tapi kan kalo teman-teman Aida dengar, mereka jadi ikut-ikutan manggil Idah, Bu."
"udah dong Da, kamu ini cuma masalah nama aja protes mulu!" akupun ikut menyahuti kalo udah ribut kayak gini, bakalan lama selesainya. Sebagai anak dan kakak yang baik, aku akan menjadi penengah diantara mereka, hehehe. "mending kita berangkat sekarang, kakak anterin biar cepet."
"yang bener kak? Asyik... Jarang-jarang kan kakak nganterin adik tercintanya ini." ucap Aida sambil tersenyum menggoda. Kamu salah sasaran Aida, masa kakak sendiri kamu goda juga? Gak mempan! Haha, aku tertawa dalam hati.
"Bu, kami pamit ya," kataku pada Ibu, sambil mencium punggung tangannya, kemudian disusul oleh Aida sambil meminta uang jajannya.
"iya, hati-hati dijalan... Syukur, jangan ngebut-ngebut ya nak."
"iya Bu, assalamualaikum,"
"wa'alaikumsalam."
Ada satu keluarga lagi yang belum aku kenalkan, 'Ayah'. Dimana beliau sekarang? Ayah hari ini sudah berangkat bertugas, tempat kerjanya bukan dikantor, tapi di sawah. Keluarga kami adalah petani, tapi bukan buruh tani. Setiap hari libur biasanya aku dan adik-adikku membantu ayah disawah. Walau bagaimanapun, kami tetap berusaha menjadi anak yang berbakti, dengan cara kami masing-masing.
Sekarang, saatnya berangkat mengantar Aida kesekolahnya, kemudian aku akan langsung ke tempat kerjaku. Mau tau aku kerja apa dan dimana? Nanti aja ya, dipart selanjutnya, hehehe...
***___***
Assalamualaikum...para pembaca yang menyempatkan waktunya untuk mampir ditulisanku, terimakasih ya?
Ini adalah cerita seorang sahabat yang mengijinkanku menuliskan kisahnya. Tapi tidak sama persis, hanya beberapa bagian saja kisah nyatanya, sedangkan sisanya murni dunia khayalku.
Jika ada kesamaan nama, tempat, kisah, dan sejenisnya, maaf ya, sungguh tidak ada unsur kesengajaan :)
YOU ARE READING
Si Sulung {ending}
Spiritualberbeda-beda sifat tidak menjadikan kami menjauh, karena semua itu adalah penyeimbang kehidupan kami, akan terasa sempurna jika kita saling menerima dan menghargai satu sama lain...itulah keluarga, menurutku.
