Teriakan dan jeritan bercampur baur menjadi sebuah keriuhan. Aku berpaling berusaha mencari tahu dengan apa yang tengah terjadi, ketika akhirnya mataku menangkap sebuah kerumunan, aku bergegas mendekatinya.
Devia di sana. Menangis terduduk dengan tangan dan seragam belumuran darah.
Jantungku berdegup kencang, panik dan takut berbaur jadi satu. Aku mendorong tubuh yang menghalangi, berusaha secepat mungkin mencapai adikku, saat kulihat tubuh Daniel-sahabat adikku-yang terbujur di sampingnya dengan luka menganga di leher. Perutku langsung terasa mual.
Namun, aku berusaha menahannya dengan berjongkok di samping adikku.
"Devia, kamu tidak apa-apa?"
Devia yang menyadari kehadiranku langsung merengkuhku. Ia menggeleng sembari terisak. Tubuhnya gemetar. Seumur-umur tidak pernah aku melihatnya setakut ini.
"Ak... Aku mendengarnya berteriak. Sa.. Saat aku menemukannya di... dia sudah seperti ini."
Aku menepuk-nepuk punggungnya perlahan, mencoba menenangkan adikku yang masih duduk di Rains Junior High School. Menyaksikan hal mengerikan seperti ini pasti membuatnya dirinya shock berat.
Seorang guru datang memeriksa keadaan, tak lama mobil ambulance menyusul.
Mereka menaikkan Daniel ke atas brankar lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
"A... Apa dia akan mati, Viona?" tanya Devia takut. Dia masih memelukku sambil berdiri.
Aku menggeleng. "Semoga saja tidak."
Lalu tak sengaja mataku menatap sosok itu. Flash. Entah Al atau Ash. Aku tak bisa membedakannya. Berdiri seorang diri jauh di ujung sana. Saat dia menyadari tatapanku yang tepat ke arahnya. Dia berbalik dan melangkah pergi.
---
Author POV
Ash sedang memberikan tatapan menggoda pada salah seorang siswa cheers, saat Al berdiri di depannya dan menutup pandangannya.
Ash mendecak sembari memutar bola matanya.
"Ada apa?" tanyanya malas tanpa melihat ke arah Al dan memilih menyeruput lemonade cola yang ada di meja.
"Kita perlu bicara," ucap Al mengabaikan keacuhan saudara kembarnya itu.
Ash mengedikkan bahunya. "Silahkan," sahutnya santai.
"Tidak di sini."
Ash mendecak sembari menggelengkan kepalanya. Dia menyempatkan menyeruput lemonade cola-nya sekali lagi, memberikan sedikit kerlingan nakal pada salah seorang dari tiga anak cheers yang terlihat senang menanggapinya, sebelum akhirnya melangkah keluar kantin.
Mereka baru saja tiba di belakang sekolah, saat Al melemparkan satu pukulan keras di wajah Ash.
Membuat Ash yang tidak siap terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Sebelah tangannya bertumpu pada dinding sedangkan yang sebelah lagi ia pergunakan untuk menghapus jejak darah yang sempat mengalir dari bibirnya pecah.
"Aku tahu pasti kau yang melakukan serangan pada siswa Junior tadi," sambung Al saat melihat seringai menyebalkan di wajah saudaranya.
"Aku peringatkan, Ash. Ini untuk terakhir kalinya. Jangan. Membuat. Ulah. Lagi," ancamnya.
Ash memasang ekspresi pura-pura takut. Membuat Al menghela nafas melihat kelakuan saudara-nya itu.
Dia sudah hendak beranjak pergi ketika tiba-tiba Ash menerjangnya dengan keras hingga membuatnya jatuh terkapar.
Ash mendekat dan berjongkok di sampingnya.
"Kita ini vampire, Al. Sudah kodratnya kita minum darah manusia.
Manusia itu hanya bagian dari rantai makanan. Tidak perlu pakai moral apalagi hati cuma untuk sesuatu yang kita makan. Kita..."
Kraakk...
Viona menyumpah dalam hati pada angin yang telah menjatuhkan ranting kering yang baru saja terinjak kakinya. Dia berdoa dalam hati semoga kedua-nya tidak mendengar suara ranting patah itu.
Namun, sepertinya doa yang ia panjatkan tidak terkabul. Karena tiba-tiba saja angin keras menerpa wajahnya. Kemudian saat ia membuka mata, Ash telah berdiri di hadapannya.
"Hai, food," sapa Ash yang membuat tengkuk Viona merinding dan jantungnya berdentam-dentam dengan keras. Sebuah seringai sempat bermain di wajahnya sebelum akhirnya wajah yang tampan itu berubah mengerikan diiringi dengan munculnya sepasang taring yang memanjang.
---
Sabtu, 18 Oktober 2015
YOU ARE READING
High School Vampire
FantasyAku tahu dia mempesona. Sangat. Bahkan seluruh sekolah mengakuinya. Ada banyak cewek yang bersedia melakukan apa saja untuk menarik perhatiannya. Berada di sampingnya. Duduk di sebelahnya. Seperti posisiku saat ini. Namun, satu hal yang tidak mereka...
