SOS - Part 1

129 11 4
                                        

"Mau kopi?"

"Air putih aja."

Gadis dengan cepolan berantakkan itu mendesah gemas. "Jauh-jauh ke caffe cuma pesen air putih."

Aku mengedikkan bahu. "Itu lebih sehat dibanding kopi." Lalu tersenyum miring seakan makin merendahkan pesanannya.

Ia, Syaqila, melotot tak terima. Aku hanya menaikkan alis dengan santai dan Qila berlalu pergi dengan memberi dengusan kesal sebelumnya. Aku hanya terkekeh kecil.

Aku mengetuk-ngetuk tepi meja yang berbentuk bundar ini dengan telunjuk. Mengedar pandangan, dan sesekali tersenyum ketika ada teman kampus yang juga singgah disini.

"Lo makan gak?" Pertanyaan pertama setelah Qila duduk didepanku.

Aku menggeleng. Menopang dagu, aku memandang keluar jendela cafe.

"Lo gak laper?"

"Gua kalo laper pasti makan." Aku meliriknya sekilas.

"Lo gak bisa dikasih basa-basi banget ya?" Ketusnya.

"Gak."

"Uuh, gua lempar heels juga lo!" Aku sedikit tersentak saat high heels nya sudah ada dalam pegangan dan siap untuk dilempar padaku.

Aku tertawa. "Sensi banget? Pms?"

Qila dengan tersungut-sungut memasang kembali sebelah heels nya. Ia menghembuskan nafas dan memasang wajah melas.

"Gua abis dimarahin dosen."

"Mungkin dia kesel liat muka lo yang nyebelin itu." Aku mendorong keningnya dengan telunjuk.

"Secantik ini lo bilang nyebelin?!" Qila menunjuk wajahnya sendiri dengan ekspresi sangat tidak terima.

"Permisi, mba."

Sepiring nasi goreng dengan segelas jus jambu hadir mengisi meja yang kosong. Aku mengernyit seakan ada yang kurang.

"Air putih gue mana?"

"Hum?" Qila yang sedang memegang garpu dan sendok itu memandangku dengan wajah polos yang ingin sekali aku gesekkan ke aspal.

"Air putih gueeee, Qilaaa!"

"Itu lo beneran pesen emangnya? Bukan bercanda doang?"

Aku meringsutkan punggungku sambil menghembuskan nafas lelah. Lelah dengan makhluk didepanku ini.

Aku menyandarkan punggung ke sandaran sofa yang empuk. Mataku yang daritadi mengedar kemana-mana, tanpa sengaja terfokus pada Qila. Dia memandangku dengan wajah shock, bingung, bego, atau apapun itu.

"Gua pesenin ya?"

"Gak perlu. Udah gak aus." Aku mengibas tangan tanda menolak.

"Yaudah kalo ntar tiba tiba aus, minum jus gue aja." Dia menggeser gelas jusnya kehadapanku.

Aku mengangguk. Merasa malas memandang Qila yang sedang makan, aku memilih untuk melihat seisi cafe ini. Tapi seketika aku teringat sesuatu.

"Bukannya tadi lo pesen kopi?"

Dia menggeleng. "Gak jadi."

"Labil." Aku merampas pelan sendok digenggamannya dan menyendokkan nasi goreng hingga masuk ke mulutku.

"Gua mau buka usaha, loh." Tuturku sambil mengunyah dan suara yang agak ragu.

"HAH?!" Teriaknya lebay.

"Ih apasih alay!" Aku melirik sekitar dan tidak sedikit orang yang melihat kami berdua.

Dia terbahak tiba tiba dan itu menyebalkan. "Emang lo bisa apa?"

Sunrise Or Sunset?Where stories live. Discover now