"E-evan ..." aku berlirih memanggil seseorang di sudut sana yang sedang sibuk membuka selembar demi selembar buku yang dibacanya.
"Hmm..." dia hanya berdehem menjawabku.
"Mm ... itu ... aku...,"
"Duuh, apaan sih Ervin? Hmm? Kamu mau tanya apaan?" tanyanya yang penasaran dengan topik pembicaraanku.
"Itu, Van... Aku, Kapan sih boleh balik ke rumah?" tanyaku sedikit ragu.
Okey, jadi aku jelasin sekarang. Semenjak hari waktu dia bilang mau hukum aku, ternyata hukumannya adalah dikurung di sini, kamar Evan! Tau gak sih ini tuh udah hari ke-3 dan dia belum juga pulangin aku ke rumah, bosen banget cuma duduk gaje tanpa ada pekerjaan lain yang bisa dikerjain.
Kenapa gak ada yang curiga selama 3 hari aku di kurung? Karena 3 hari itu berpapasan dengan hari ujian sekolah selama satu pekan jadi otomatis kelas X dan XI diliburkan. Tante Mila? Dia gak akan pernah curiga selama aku sama Evan, entah kebohongan apa yang disampaikan Evan sampai tante Mila percaya sama dia gitu aja.
Dea dan Reynand? Aku yakin pasti mereka mencari aku, tapi bahkan hp aku aja gak sama aku sekarang, disita sama Evan. Aneh banget kan? Untung aja aku dikurung sama pacar sendiri, bukan penculik beneran. Dan lebih untungnya lagi Evan gak pernah tuh yang marahnya meledak-ledak kaya dulu-dulu kalo aku bikin kesalahan.
"Kamu mau pulang?" tanyanya datar, masih memperhatikan buku yang dibacanya.
"E-em." Kataku mengangguk pelan. "Gak akan, kamu masih harus di sini sampai aku mau pulangin kamu." tegasnya sambil menggelengkan kepala.
"Ih, Evan! Gimana coba kalo tante Mila cariin aku? Kamu gak mikirin itu apa? Trus, kalo misalnya ada yang curiga gimana? Kalo mereka lapor polisi gimana?" tanyaku tanpa henti.
Dia tertawa sinis lalu menatap tajam ke arahku. "Lapor polisi? Kalo memang ada yang mau lapor polisi, yah cuma tante Mila. Jangan ngarang deh kamu."
"Kalo Dea? Kamu kan tahu gimana Dea yang nekad itu."
"Kemarin dia sms, katanya mau keluar kota ikut sama mamanya." Jawabnya santai. "Kamu mau cari alasan apa lagi?" tanyanya yang sontak membuatku mengerucutkan bibir. Dia beranjak dari meja belajar dan melangkah mendekatiku yang duduk di ranjang king-size ini.
"Ervin sayang... kamu beneran udah bosan yah ngekorin aku?" tanyanya sambil memiringkan kepala di depanku.
"Ini tuh bukan ngekorin, Evan. Tapi namanya di sekap!"
"ERVIN!" Suaranya memuncak. "Kamu tuh kenapa sih? Aku udah bilang jangan ngomong kasar!" bentaknya.
"Aku gak ngomong kasar Evan, ini fakta. Emang kamu lagi nyekap aku kan sekarang?" kuberanikan diri melawan, berharap dia akan mengerti perkataanku.
Dia meraih daguku dan mendongakkannya sedikit, soalnya kan aku duduk di ranjang terus dia lagi di posisi berdiri, dan dia juga agak membungkuk sedikit.
"Ini salah kamu, sayang..."
"M-maksud kamu?!"
"Salah kamu karena minta minta putus dari aku."
"Tapi kan... Itu semua juga karena kamu, Evan. Kamu selingkuh, kan? Aku jelas-jelas liat sendiri kok kalau kamu ---- AAKKHH!!" dia mengeratkan cengkramannya di daguku membuatku meringis kesakitan.
"Dan kamu dengan gampangnya percaya apa yang kamu lihat?" tanyanya dengan tatapan tajam. "Bukannya kita udah bahas ini sebelumnya? Aku kan sudah bilang kalau dia itu Cuma orang di masa lalu dan gak penting lagi. Yang penting sekarang itu kamu, ERVIN!" dia menegaskan kata-katanya dengan mimik serius.
"Aku bukan tipe pria yang akan selingkuh dari wanita yang kucintai, dan itu kamu, Ervin. Kenapa sih kamu gak ngerti juga, huh?" tanyanya sambil menggoyangkan daguku ke kanan-kiri.
"Ingat yah, Ervin. Sekali lagi kamu bahas ini, aku gak akan segan-segan mengambil langkah yang lebih ekstrim. Dan ingat, jangan pernah kamu keluarin kata 'putus' lagi dari bibir manis kamu itu!" Tegasnya lalu melepaskan cengkraman di daguku. Aku hanya mampu menunduk lesu.
Evan! Gimana caranya aku bisa percaya sama kamu kalo yang kamu jelasin Cuma sebatas 'orang di masa lalu dan gak penting lagi'? Kamu bahkan gak jelasin kronologis kejadiannya, atau apalah untuk sekedar meminta maaf. Ini? Kamu malah nyekap aku dan larang aku untuk minta putus. Dasar gak jelas! Nyebelin! Gerutuku dalam hati.
***
"Pagi sayang," sapanya ketika muncul dari balik pintu. Dia berjalan ke arahku sambil membawa senampan penuh berisi menu sarapan.
"Sorry yah, pagi ini kayanya kita gak bisa sarapan bareng. Aku udah hampir telat nih." Katanya sambil meletakkan nampan itu di atas meja di samping ranjang.
"Kamu makan yang banyak yah sayang ... Nanti kamu sakit kalo gak makan." Tambahnya lagi sambil mengacak rambutku.
Aku udah sakit sejak kamu kurung aku di sini, Evan! Bantahku dalam hati.
Melihat aku yang cuma menunduk lesu tanpa bergerak menyentuh makanan yang dibawakannya, dia memperingatkan dengan tegas. "ERVIN!" dengan nada yang mengancam.
Aku menghela nafas berat lalu perlahan mengambil segelas air putih dan meminumnya. "Good girl." Katanya sambil mengacak kembali rambutku.
"Ya udah, kalo gitu aku pergi dulu yah sayang ... Kamu hati-hati di rumah." Pesannya sambil mengecup keningku, aku hanya mengangguk.
Hati-hati? Maksud kamu hati-hati jangan sampai coba kabur lagi, iya? Gerutuku sambil melihat dia menjauh dan akhirnya keluar untuk segera berangkat ke sekolah.
Jadi pernah sekali aku coba untuk kabur. Hari itu udah malam, tepat sehari dia mengurungku di ruangan Aini. Aku coba cari celah di ruangan ini dan aku dapat, ada jendela yang gak berjeruji di sisi kamar ini. Aku coba keluar lewat situ dan sampai di halaman belakang. Mungkin karena aku kurang berpengalaman dalam melarikan diri, akhirnya Evan sendiri yang nangkap aku dan kembali mengurungku di sini.
Hari itu dia marahin aku, tapi bukan marah yang meledak-ledak sih. HUFTH! Rasanya tuh udah kaya Siti Nurbaya yang dipingit dalam rumah, nungguin bentar lagi si Datuk Maringgi datang ngelamar. HUAAAA!! Nyesek dan nyiksa banget, banget!
Evan aneh banget sih? Kalo misalnya emang dia gak mau aku minta putus, setidaknya dia jelasin kek atau minta maaf atau apalah pokoknya yang bisa buat aku ngerti dikit soal kejadian hari itu. Kan nyebelin yah kalo gak ada kejelasan? Udah gitu pake nyekap aku segala, terus ngelarang aku minta putus? Maunya apa coba?
-Malam hari-
Aku mendengar seseorang membuka pintu kamar, aku cepat-cepat merebahkan diri di ranjang dan pura-pura tidur. Siapa lagi kalo bukan Evan? Kalo misalnya yang masuk itu pelayan, pasti ngetuk dulu, gak kaya Evan yang langsung main masuk aja. Gimana coba kalo aku lagi ganti baju trus dia masuk? DASAR!
Kurasakan sepertinya ranjang ini bergerak, apa si Evan juga ikutan naik ke kasur? Oh No! Maksudnya aku tidur bareng Evan, gitu? Ah GAAAAKK! Ervin bego! Mestinya lo gak usah pura-pura tidur dan ngelarang dia naik ke kasur sekarang. Bodoh!
Tidak sampai situ, sekarang dia bahkan menghadapkan tubuhku ke arahnya dan memelukku seerat mungkin, hampir aja aku gak bisa nafas.
"Ervin sayang..." gumamnya lembut yang masih bisa ku dengar.
"Aku sayang banget sama kamu. Ku mohon ... jangan pernah keluarin kata-kata 'putus' lagi dari mulut kamu," katanya sambil membelai rambutku.
"Aku takut kehilangan kamu lagi, sayang ... I love you so damn, you know?" dia terdengar putus asa, ini bukan Evan banget. Lalu sesaat kemudian...
CUP! Dia mengecup puncak kepalaku mesra lalu kembali memanjakan rambutku dengan belaiannya.
Sampai aku gak sadar... sekarang aku bisa tidur dengan lelap di pelukannya.
***
Luhaa! Bagaimana dengan chapter ini? Moga readers semua masih suka yaak sama cerita gaje karyaku ini (─‿‿─)
Keep read and votement ☆
YOU ARE READING
My 'PSYCHO' Boyfriend
Teen FictionAwalnya begitu manis dan menyenangkan. Hingga akhirnya makin ke sini, pacar gue kok makin aneh, ya? Beneran aneh! Serius! -Ervin Alvira Kamu gak boleh bandel ya, sayang.. -Evan Wijaya Kisah seorang gadis bernama Ervin, yang menjalin hubungan dengan...
