Nesya terlihat bekonsentrasi pada kertas-kertas karton dan kayu-kayu kecil yang dirangkai nya hingga membentuk bangunan mirip rumah boneka tapi belum sepenuhnya selesai. Rumah kecil itu lebih mirip bangunan dalam rumah yang dibuat bertingkat satu dengan segala ornamen kecil mirip rumah sungguhan. Dindingnya sendiri terbuat dari kertas karton dengan warna pastel kesukaan Nesya. Tapi tiba-tiba saja handphone gadis itu menjerit nyaring, hingga membuat sang pemilik menghela nafas kesal karena gagal berkonsentrasi pada tugas akhir kuliahnya.
"Hallo" kata gadis itu malas. Dia masih melihat rumah kecil yang menjadi bahan presentasinya disidang skripsi yang akan diadakan dua hari lagi.
"Apakah benar ini Nona Nesya Adriana E? " tanya sebuah suara dibalik teleponnya.
"Ya, dengan siapa saya berbicara ini?" Tanya Nesya, ia berkerut dahi mengingat pemilik suara yang ia tidak kenal.
"Saya salah satu tim HRD dari Rumah Pelangi Indonesia, memberitahukan bahwa anda berkesempatan mengikuti wawancara seleksi yang akan diadakan perusahaan kami senin besok"
"Heh-? Mas ini tipu-tipu ya, saya aja belum lulus kuliah, masih lusa saya sidang. Ini kok kasih tahu kalau saya suruh ikut wawancara. Ngelamar keperusahaannya situ aja gak pernah" cecar gadis itu curiga. Hellooo ini jaman penipuan kan??, stress nih orang mau nipu cewk sepintar eike.
Bukannya malah jawab, si mas-mas pemilik suara malah cekikian dibalik telapon, sontak saja Nesya tambah geram. Gak salah lagi nih pasti orang iseng.
"Eh mas....."
"Mbak" potong mas-mas dibalik telepon, jeda beberapa detik mas-mas itu ngelanjutin ngomongnya. "Gini mbak, mbak nya memang gak pernah ngelamar kerja diperusahaan kami, tapi mbak direkomendasikan sama dosen anda yang bernama pak Beni. Gimana apa mbak bersedia datang untuk wawancara?"
Eh darimana juga nie mas-mas tahu nama dosen Nesya?. Tipu-tipu? Masak iya?. "Gak janji ya mas, saya akan konfirmasi dosen saya dulu. Siapa tahu mas nya ini penipu" jawab Nesya yang masih ketus.
"Baiklah, saya tunggu partisipasi nya. Trima kasih selamat siang"
Flip
Nesya masih memandang handphonenya dengan dahi berkerut dalam. Masak iya, pak Ben dosen nya yang killer itu rekomendasiin dirinya?. Sidang skripsi aja masih lusa?. Kayaknya nesya harus tanya sama orang yang ada sangkutnya ini.
Semantara ditempat lain Ando cekikian atas tingkah laku konyol adek kelasnya yang direkomendasikan sang ayah. Dia pikir respon orang yang akan ia telpon akan sama dengan respon orang yang ia telpon pertama, yang bernama Zafran. Eh gak tau nya, malah celotehan mak-mak yang gak percaya sama omongannya yang iya. Nasib-nasib, meskipun begitu Ando beranggapan bahwa gadis yang dia telepon barusan pasti tipe cewk yang luchu. Semoga saja.
***
Nesya melihat rumah megah bercat putih gading dihadapannya. Rumah yang sudah lama tak ia datangi, bahkan kelewat lama. Terakhir dia ingat ketika acara ulang tahun perusahaan ayahnya yang diadakan oleh sang pemilik rumah megah ini.
Kaki gadis itu melangkah pelan memasuki pelataran rumah setelah dipersilahkan masuk oleh penjaga gerbang. Halaman disisi kanan dan kirinya masih sama, begitu luas dan terawat dengan jalan panjang menuju rumah utama. Pintu besar putih dengan handle bercat emas, disampingnya sudah berdiri anggun seorang wanita muda dengan stelan abunya melambai girang dengan senyum sumringahnya.
Dia kak Ai. Aila Meysha R.A. kakak sekaligus sahabatnya. Gadis berambut pirang ini warga keturunan. Nesya dekat dengan kak Ai karena dulu kak Ai gak punya banyak temen perempuan saat acara yang diadakan perusahaan milik daddy nya. Selain itu saudara kak Ai lebih didominasi oleh pria, jadilah dia selalu mayun saat pesta. Nesya yang selalu jadi ekor sang ayah, dan tak mau lepas dari ayahnya selalu ikut kemanapun ayahnya pergi. Saat itu umur Nesya masih 4 tahun saat bertemu dengan kak Ai yang diadakan perusahaan. Kata kak Ai, dia sangat seneng ketemu dengan Nesya yang saat itu unyu banget. Jadilah mereka berteman sampai sekarang. Meskipun sekarang kak Ai sudah punya suami dan anak, wanita itu masih menganggap Nesya adik dan juga sahabatnya.
Pernah suatu ketika, ayah Nesya akan pergi dinas luar yang ditugaskan Daddy kak Ai ke Inggris, waktu itu Nesya yang berumur 14 tahun ngotot pingin ikut karena kak Ai jauh-jauh hari memberi kabar bahwa dirinya juga berada di inggris. Kak Ai menjanjikan liburan keliling inggris waktu itu, makanya Nesya ngotot ingin ikut sang ayah. Karena kebaikan hati daddy nya Aila akhirnya Nesya dapat terbang dengan sang ayah ke negeri yang terkenal akan tugu jam dinding nya. Tapi semua kenangan yang awalnya indah itu berakhir bencana dihidup Nesya.
"Dek-" Aila mengguncangkan tubuh gadis yang sudah dihadapannya. Nesya tersenyum sadar. Tapi yang dilihat Aila bukan senyum yang tadi sempat tercipta ketika gadis itu memasuki gerbang, ada yang berbeda dengan senyumnya.
"Ayo masuk" Nesya mengangguk patuh ketika Aila menarik lengannya masuk melewati pintu.
Kak Ai sudah menganggap Nesya sebagai adek kandungnya. Maka dari itu Aila jarang sekali memanggil nama Nesya.
"Ih- masih aja ngelamun" Aila meletakkan jus dimeja depan Nesya yang kini tengah duduk.
"Ish- siapa juga yang ngelamun. Aku lagi pandangin nih foto yang gak pernah berubah dari aku kecil" Nesya menunjuk foto keluarga milik Aila dengan dagunya. Foto dimana kak Ai masih sangat kecil disana, dengan keempat saudara lelaki sekaligus kedua orang tuanya.
"Kamu itu alasan aja. Eh tunggu disini, aku punya kejutan buat kamu" Aila ngibrit kelantai atas setelah mengucapkan kata itu.
Nesya menghembuskan nafas lega. Meminum jus jambu yang tersaji dihadapanya. Pikirannya melayang lagi. Entah kenapa setiap dia melihat Aila dirinya selalu terbayang masa lalu yang kelam itu. Masa dimana dirinya terpuruk hingga sekarang. Masa dimana dirinya tak berharga lagi.
"Taraaaaaa"
Nesya menoleh kesumber suara. Aila sedang berputar memerkan gaun pastel miliknya, dengan menenteng gaun berwarna senada ditangan kirinya.
"Bagus kan dek?. Nih satunya buat kamu" ucapnya girang, gadis itu menyodorkan gaun yang ia pegang sedari tadi pada Nesya.
"Bener nih buat aku" ucap gadis itu dengan sedikit menganga.
"Kak Ai ini mau ngeledek aku ya, aku tahu aku bantet" ucapnya masih tak percaya.
Aila mendekat, menangkup gemas pipi Nesya yang memang berisi. "Kamu ini, siapa yang bilang bantet sih. Kamu itu cantik, cute meskipun kurang tinggi dikit" ucapnya diakhiri tawa.
"Tau deh yang tetep langsing meskipun sudah beranak" cibirnya manyun.
Aila geleng-geleng kepala dengan sikap ajaib Nesya. Baginya Nesya adalah sahabat baik yang pernah dimilikinya. Gadis itu selalu mengerti dirinya, layaknya adik kandung perempuan, yang tak pernah ia miliki sampai sekarang.
"eh mana si echa"
"Jangan ngalihin topik deh dek. Si princess lagi boci diatas. Eh hampir lupa kamu harus pakek nih gaun waktu acaranya ultahnya princess sabtu besok" katanya telak.
"Duh nih kak Ai ada aja kelakuan. Kenapa gak kembaran aja sih sama kak Sam?"
Aila melotot ke arah Nesya. Secara kakak kembarnya itu pria. Bahkan semua saudara kandungnya.
"Kau mau mati" Aila bedecak tak suka.
"Duh- kenapa juga Om Ben dan tante Key punya anak cewek atu tapi kelakuan nya masallah"
"Ahahaha....dek-dek. Tuhan itu maha adil. Adanya kamu emang buat aku dandanin" ucap Aila dengan masih tertawa karena Nesya kalah telak.
Selamat siang. Ada yang lihat tapi gak ada yang vote. Gpp mungkin gak ada feel atau ceritanya masih abu-abu alias gak jelas.
Nulisnya dikit aja, kebiasaan ku hihihi semoga aja ada yang mau baca cerita ku yang ini.
Maaf kalau masih ada TYPO N GAK ADA FEEL nya.
Jangan lupa VOMMENT nya.
#cubitpipinyanda.
JE LEEST
Mr. Grey
RomantiekAku tidak pantas untuk dijadikan istri Aku juga tidak pantas untuk dicintai Bagiku, sejak kejadian itu aku begitu kotor. Tapi, bukankah aku hanya seorang perempuan yang memiliki hati yang rapuh. Nesya Adriana Elvarette
