"Terkadang, gue rasa, gasemua hal bisa di jelasin pake kata kata ya, hai gue luke, i want to get to know you more,
+63998290223xxx
- Luke, call me asap ;) xoxo"
Daisy pov
Pagi! Well, hari ini aku merasa senang sekali, karena surat kecil yang Luke berikan padaku, ia lucu, kami belum mengobrol banyak, iya hanya menuliskan 2 kalimat dan nomor ponselnya di kertas itu, semalam aku terlalu mengantuk untuk membuka ponsel dan menghubunginya, namun pagi ini, aku akan mencoba meneleponnya, here we go
Aku menggegam kertas bertuliskan milik luke itu, dan memencet nomor yang tertera pada ponsel ku, selesai.
Klik
Aku memencet tombol itu, sekarang aku bergetar ketakutan siapa yang akan mengangkat, apa yang akan terjadi, seluruh pertanyaan 5w + 1h seputar luke ada di pikiranku.
DIANGKAT! Fyi, its 6 am, and i guess dia masih tidur tapi terbangun gara gara aku, uppsie.
"Mmh yea? Who's this"
Aku bergetar stengah mati, suara milik luke begitu indah terdengar di telingaku, suara paginya. Oh shoot.
"Halo?"
"Mmh, hi luke, im just, um yeah, u know, morning, im sorry if i made um woke up" see? Im akward.
"Daisy? DAISY? DAISY SMITH TETANGGA BARU YANG KEMARIN MAKAN MALAM BERSAMA KELUARGA gue?" Um, sepertinya luke begitu syok aku telepon.
"Uhm, yes hehe, im sorry ok, btw about school, lo bisa kerumah gue buat gue jelasin tentang sekolah oke?" Aku menawarkan, karena ia siswa baru di sekolah ku dan juga aku harus membantunya, ditambah posisi ia yang duduk di sebelahku, itu tanggung jawabku
"I'll be there in 10 minutes, see ya, bye" ia memutuskan teleponya, oh god, aku belum mandi, aku harus mandi.
Aku memang lelet, tapi karena aku buru buru karena akh takut Luke sudah datang, aku langsung mandi cepat dan membuat bun di kepalaku seperti biasa, aku hanya mengenakan sweater wol berwarna cokelat muda dan celana jogging pendek. Aku mengambil buku buku yang kupikir akan perlu untuk Luke, laptop, dan ponselku, lalu kembali ke atas kasurku. Baru saja bokongku menyentuh kasur, jendela kamarku yang mengarah ke balkon terdengar suara ketukan.
Aku membuka pintu balkon perlahan, lalu Luke turun dari atap rumahku dan berhasil membuatku ingin mati saat itu juga.
"Gosh Luke, you surprised me half to death, oh my god Luke" aku memegangi dadaku dan masih berusaha mengumpulkan napas, Luke terlihat panik dengan sikap ku.
"Are you okay?" Ia bertanya dengan sangat kawatir, dan itu membuatku tertawa
"Yes, pfft hahahaha, your face Luke, im fine, i just surprised" wajah bingungnya semakin membuatku tertawa sampai aku terjatuh, ralat, belum jatuh, karena luke menahan ku, ugh.
"Aye, careful girl"
Aku yakin pipiku semerah tomat sekarang
"Ayo masuk" kataku mengajak Luke masuk, ia berhutang cerita padaku.
Ia masuk dan berkeliling kamarku.
"Hey Luke, lo kenapa lewat balkon gue, kan ada pintu depan" aku memulai percakapan
"Kan gue kalau kemana mana sekitaran kompleks selalu lewat atap, lebih nyaman aja dari pada lewat pintu depan, terlalu formal" katanya sambil berjalan menujuku.
"Nih buku buku yang perlu lo siapin buat bes-" aku mendongak ke arah Luke, wajahnya tepat di atas kepalaku, mengendus bau rambutku sambil memejamkan matanya, wtf is he doing?
"Luke?" Aku memanggil Luke, namun ia malah mengangkat pipiku agar menatap matanya, aku dan Luke bertatapan cukup lama, 2 menit. Aku tidak bosan dengan matanya, aku menyukai mata indahnya, biru langit.
Lalu Luke mengecup mataku.
Wut
Ok
Ok
Aku syok, dan mematung.
"Sorry daisy, i cant resist it, your eyes are so beautiful" luke memulai pembicaraan setelah aku mematung cukup lama.
"Ey luke, its fine, i like yours too, they are, perfectly match with your dimples and your um- face?" Aku membalasnya
"I thought your eyes was blue like mine too, yeah you know"
"Benar kok, emang biru, but mata lo itu so so bright and mine kinda dark, karna punya lo biru langit, punya gue itu biru laut, kalau gasalah sih" membenarkan kata kata luke
"Yeah, kalau engga salah ya berarti bener"
"Iya juga sih, bisa aja lo"
"Bisa lah"
Luke tertawa bersama ku tanpa henti, lalu ia memelukku erat.
"Luke? Um- badan lo gede tau, gue gabisa napas huh" kataku menaruh nada humor
"Badan lo kecil banget" sambil melepas pelukannya pelandan duduk di kasur ku
"Thanks?"
"Ok btw ini buku bukunya ya yang perlu lo bawa besok sekolah, jangan sampe salah, kalau salah, nanti pasti lo kena denda" kataku, lagi.
"Yeah yeah" luke hanya manggut manggut tidak jelas sambil menatapku
"luke stop it, dont stare at me like that, you are intimidating me you know"
"Ahahaha" luke tertawa hambar dan kembali melihat ku.
"Stop it"
"Look, you are too cute, i cant"
"Luke stop, im serious, gue gatahan di liatin orang luke, ok, LUKE STOP RGGH" aku menerjang tubuh luke dan menbuatnya jatuh, lagi lagi, ia tertawa, kenapasih dia menjengkelkan?
"Lo lucu kalau marah, daisy, overall, lo cantik."
"Um-eh, lo juga kok, um, tampan" aku malu setengah mati, kupastikan aku merah, jangan lagi, jangan lagi.
"Lo blushing? Aw cutie" luke menyadari aku blushing. Great.
"Ih engga kok" aku menutupi wajahku dengan buku yang ada di depanku
"Iya, ngaku lo"
"Ok luke, udah malem nih, gue harus kerjain tugas, berhubung lo masih baru, jadi belom ada tugas, sedangkan tugas gue numpuk" aku mengalihkan topik, aku malu, sumpah.
"Yaudah gue tungguin sampe selesai" luke, lu ngomong santai amat ya, plis, dia gasadar atau gimana ya, aku kan grogi terussalah tingkah terus kalau deket dia.
"Gaus-" tangan luke menutup bibirku sehingga pembicaraanku terpotong.
"Gue mau disini dulu sampe gue pingin pulang, oke?"
Luke duduk di atas kasur dan menyalakan televisiku, yeah luke. Serasa rumah sendiri.
YOU ARE READING
Lost In You ⇒ //cake
FanfictionCause you made me lost in your eyes your everything.
