Ini adalah cerita pertama yang gw buat.
Mohon saran dari pembaca tentang cerita gw dan terimakasih yang udah luangin waktu buat baca cerita gw.
Hanaru ragu dengan keputusan yang ia pilih, ia ingin mundur dan menyerah saja, tetapi tidak semudah itu. Ada rintangan yang harus ia lewati didepan sana. Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Lunar sebelum ia dan tiga temannya pergi menyusuri hutan tersebut.
***
"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk pergi, Hanaru ? Jika tidak, menetaplah disini dengan teman-temanmu, aku tidak keberatan," kata Lunar dengan wajah polos, tetapi Hanaru tahu bahwa Lunar sangatlah cemas terhadap dirinya dan tiga temannya.
"Hmph, jangan mencemaskan kami Lunar, apa kau tidak tahu siapa jagoannya disini hah ?" Ketus Sylla dengan wajah cemberut.
"Kau tidak perlu khawatir Lunar, kami bisa bertahan bersama-sama, jika salah satu dari kita harus berpisah, maka kita akan mengorbankan Hanaru lebih dulu" Ucap Stella dengan santainya.
"Ehhhh???? Kenapa harus aku yang dikorbankan ? Kan ada Steve, lagipula dia lebih besar dan renyah daripada aku," Jawab Hanaru yang tidak terima karena dia yang dijadikan korban.
"Hanaru, Hanaru, Hanaru... coba perhatikan baik-baik, Steve itu besar tetapi alot, sedangkan dirimu itu ideal untuk jadi santapan" Balas Sylla yang tetap memojokkan Hanaru.
"Bagaimana kalau kita berdua saja yang jadi korban ? Bagaimana Hanaru ? Jadinya impas kan?" Tambah Steve yang malah melenceng dari topik pembicaraan awal
"Sudah cukup bercandanya, ada hal yang lebih penting dari ini, apakah kalian semua sudah siap ?" Tampang Hanaru pun berubah menjadi sangat serius, ketiga temannya dan Lunar menatapnya dengan penuh percaya diri. Mereka semua pun mengangguk setuju untuk pergi.
"Ayo semua, kita habisi mereka semua. Lunar, kami pasti kembali. Pegang janji kami" Kata Sylla dengan tampang yang meyakinkan dan senyumnya yang menawan. Walaupun tubuhnya kecil, tapi dialah sang penyelamat di timnya tersebut.
***
"Steve, total musuh didepan ada 25" Ucap Hanaru yang sebelumnya telah mendeteksi musuh.
"Hancurkan dengan swing blade, mereka musuh yang mudah" sambung Hanaru, Hanaru berperan sebagai otak dari timnya, semua pergerakan dari tim tersebut dikontrol olehnya, nalar otaknya yang jenius dalam menyusun strategi tidak dapat dibantah lagi. Berkatnya, mereka tidak harus membuang energi lebih untuk membunuh musuh-musuh mereka.
"Stella, dibelakangmu. Menghindar!!" teriak Hanaru yang baru menyadari ada musuh dibelakang Stella yang tak terdeteksi sebelumnya. Secepat kilat Stella pun menghindar dengan lincah, Stella adalah archer yang lebih menggunakan serangan jarak dekat ketimbang jarak jauh. Ia lebih suka bertarung jarak dekat daripada jarak jauh, namun disisi lain, ia ingin menjadi seorang archer. Ia selalu menyerang musuh dengan sangat cepat dan akurat, ia adalah orang yang membantu Steve ketika ia kesulitan menghadapi musuh didepannya, saat Steve meminta tolong, secepat kilat Stella langsung maju dan membantu Steve menghabisi musuh-musuhnya. Sementara itu didepan sana Steve sangatlah menanti nanti saat-saat seperti ini, ia bagaikan mesin pembunuh yang tidak akan berhenti menebas semua musuhnya dengan dual blade yang ia gunakan. Ia tidak akan puas sampai menemui musuhnya yang sepadan, tetapi saat tidak bertempur, ialah orang yang paling periang diantara semuanya. Tidak ada yang tahu bagaimana itu bisa terjadi.
"Selesai sudah, tidak ada musuh dalam radarku lagi". Hanaru merasa lega karena akhirnya dapat mengalahkan semua musuh. Mereka terlihat sangat puas dengan pertempuran yang sangat sengit tadi. Namun Hanaru masih bingung dengan satu monster yang tidak dapat ia deteksi tersebut. Ia memikirkannya dalam-dalam.
YOU ARE READING
Wrong Dimension
FantasySinar tersebut menyambar 3 remaja, Hanaru, Stella, dan Steve. Sinar tersebut menyebabkan mereka berpindah ke dimensi yang lain, dimensi yang tidak mereka kenali sama sekali. Dimensi yang sangat mirip dengan dimensi di bumi. Lalu kekacauan pun terjad...
