***
Tragedi ikan cupang itu telah berlangsung cukup lama. Namun Ehy seakan menutup rapat pintu maafnya untuk Serep, tak sedikitpun memberinya celah. Serep jadi semakin geram. Kematian ikan cupang peliharaan Ehy dibalas dengan nyawa istrinya, suatu ketidak adilan yang takkan termaafkan.
Padahal saat masih bocah, Serep dan Ehy sangat bersahabat. Serep yang cenderung memiliki sikap anteng dan Ehy dengan karakternya yang tak mudah diterka, saling mengisi satu sama lain. Mulai dari zaman bermain becekan di sawah hingga beranjak ke zaman bermain becekan di jamban (TAMBAH PARAH YAA), mereka jalani bersama-sama. Selain rasa saling menyayangi (antar-sahabat, jangan mikir yang bukan-bukan), tumbuh rasa saling percaya di antara mereka. Memang begitulah seharusnya sepsang sahabat berperilaku.
Namun rasa sayang dan saling percaya itu sirna selepas Serep melakukan suatu kesalahan yang tak disengaja.
Ehy telah mempercayai Serep untuk menjaga cupang unyu peliharaannya selama ia pulang kampung ke Probolinggo.
Tetapi Serep yang ditugaskan untuk memberinya asupan makanan tidak dapat menjalankan amanah itu dengan baik. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Serep, mengingat dirinya sibuk membantu orangtuanya berdagang ikan lohan di pasar. Mulanya Serep dapat menjaga cupang yang diberi nama Marshanda itu dengan baik. Seiring dengan meningkatnya order ikan lohan dagangan orangtua Serep, waktu luangnya semakin terkikis akibat ia harus selalu menemani lohan yang kian disibukkan dengan jadwalnya shooting film atau mv (lu kata itu luhan exo -_-). Alhasil, karena makin berkurangnya asupan gizi yang diterima Marshanda dari hari ke hari, jelaslah sebab kematiannya, yaitu karena kelaparan.
Serep pun meminta maaf pada Ehy atas kelalaiannya dalam menjalankan amanat yang diberikan, namun Ehy tak serta merta memaafkan kesalahan Serep, sebab Marshanda adalah ikan cupang kesayangannya. Seketika itu pula Ehy memutuskan benang merah yang menjadi penghubungnya dengan Serep.
"Aku takkan memaafkanmu!" ucapan Taehyung yang terakhir kali ia lontarkan pada Serep di hari kematian Marshanda mendadak berdengung kembali di telinga Serep.
Tanpa sadar Serep mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mengingat Ehy membuat amarah kembali membuncah dalam dadanya.
"Aku juga takkan memaafkanmu." geram Serep sebelum akhirnya beranjak dari tempat peristirahatan Awel yang terakhir.
***
Gunung Tangkuban Perahu kini berdiri dengan angkuhnya di hadapan Serep. Alih-alih menunggu seminggu lagi, ia memilih untuk langsung pergi ke sana setelah pemakaman Awel. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mempersiapkan diri untuk pertarungan yang akan dihadapinya beberapa hari lagi.
Di tengah semangat Serep yang membara itu, ternyata masih terselip rasa khawatir. Bagaimana ia bisa melawan siluman tengkorak sementara ia sendiri tak punya kekuatan apa-apa?
Serep mengesampingkan rasa takutnya sejenak, memilih untuk menyusuri daerah ini terlebih dahulu. Siapa tahu ia bisa menemukan sesuatu yang dapat membantunya mengalahkan Ehy.
Tanpa Serep sadari, jawaban dari itu semua telah terpampang nyata di hadapannya.
Seorang kakek duduk bersila di atas batu besar. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit melafalkan sesuatu, entah doa atau mantra. Awalnya Serep hanya ingin bertanya apakah ada tempat untuk beristirahat. Namun, melihat sang kakek terlihat serius bersemedi, Serep pun mengurungkan niatnya.
"Apa yang sedang kau cari, Anak Muda?"
Sontak Serep menengok. Itu suara si kakek, kan? Apa kakek itu sedang berbicara kepadanya?
Serep mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, namun ia tak menemukan tanda-tanda adanya orang lain selain dirinya dan si kakek. Serep kembali fokus pada si kakek. Kalau kakek ini benar-benar mengajaknya mengobrol, mengapa ia masih terlihat khusyuk melafalkan guna-guna sementara matanya tertutup rapat?
