Ben.. Ya ampun. Jadi client rese itu Ben?
"Halo. Selamat sore Bapak Ronny Williams. Maaf saya terlambat", katanya sebelum sadar bahwa aku ada di samping papaku.
"Iya tidak apa-apa.", jawab papa santai. Papa mah gitu orangnya. Apa-apa ga papa. "Perkenalkan ini anak saya, dia yang akan membantu saya sore hari ini", lanjut papa.
"Perkenalkan saya..." kata Ben yang langsung aku potong "Ben." kataku sambil tertawa hambar.
"Eh elo." jawabnya kaget.
"Iya gue" balasku singkat karena aku sedang sangat emosi dengan dia.
"Jadi, udah pada kenal ya," kata papa ikut nimbrung. Aku hanya membalasnya dengan satu kata atau mungkin belum bisa disebut sebagai kata yaitu, "Hmm."
"Cie kenal dari mana tuh.." kata papa sambil menggodaku.
"Dikenalin Arnold", jawabku lagi-lagi singkat. Aku masih kesal dengan Ben yang ternyata sangat sangat rese. Entahlah, mungkin akunya saja yang berlebihan.
"Ohhhhh. Jadi, Ben, coba perkenalkan nama lengkap kamu." kata papa pada Ben.
"Perkenalkan nama saya Benjamin Alexander Sugiatomo. Saya merupakan anak dari Bapak Peter Sugiatomo. Saya diutus oleh beliau kemari untuk membahas project yang akan kita kerjakan bersama." jawab Ben dengan nada formal sambil tersenyum manis.
"Oh kamu anaknya Peter toh. Saya rasa saya pernah lihat kamu. Di mana ya?", balas papa.
"Di graduation Eliz", jawabku sebelum Ben berhasil menjawab.
"OHH IYA! Kamu yang disebut-sebut Eliz si Adam Levine KW ya. Hahahahaha. Kamu tau ga sih, kemaren 1 mingguan itu dia uring-uringan loh ga mau makan. Kata kakaknya sih gara-gara kamu ga contact dia.", kata papa pada Ben sambil tertawa yang berhasil membuat Ben menyeringai padaku dan membuat aku malu semalu-malunya.
"Apaan sih. Ngga ya. Ga usah ngarang", ucapku kesal.
"Yaudah terserah kalo ga mau ngaku. Oh iya Ben, ayo kita bahas. Terus berhubung kamu gebetannya Eliz, jangan panggil Bapak ya. Panggil aja om. Kalo di kantor, baru manggil om dengan sebutan bapak." ujar papa.
"Oke, om" jawab Ben tersenyum lagi.
Mereka pun membahas proyek yang akan mereka buat. Selama pembahasan, aku terus menerus memasang ekspresiku yang sedang kesal. Entah kenapa, aku kesal sekali hari ini. Akhirnya mereka pun selesai membahasnya. Ingin rasanya aku cepat-cepat pergi meninggalkan mereka berdua.
"Liz, kamu pulang kemana dulu?", tanya papa padaku.
"Ga tau.", jawabku sinis.
"Pulang bareng gue aja, Liz. Boleh kan om?", kata Ben padaku yang dilanjutkan dengan pertanyaan pada papaku.
"Tentu boleh dong.", balas papa bersemangat.
"Gak. Gue bawa mobil sendiri." balasku singkat padat dan jelas.
"Wah, kebetulan banget, Liz. Gue kesini ga bawa mobil, dianterin supir gitu. Jadi pas kan, gue nyetir mobil lu aja." jawab Ben padaku.
"Iya, Liz. Kamu sama Ben. Kalo ga mau, liat aja nanti kamu jadi apa di rumah." ucap papa menyetujui perkataannya.
"YAUDAH TERSERAH", jawabku sambil meninggalkan mereka berdua dan menuju ke parkiran. Aku dengar tawaan mereka di belakangku dan Ben yang sedang pamit kepada papa.
****
"Mana mobil lu?" tanya Ben saat kami berada di parkiran.
"Ini." jawabku sambil menekan kunci mobilku. Dapat kulihat ekspresi terkejut muka Ben saat melihat mobil gagah yang aku gunakan.
YOU ARE READING
The New Beginning
RomanceBerhubungan selama hampir 6 tahun menurut ku merupakan waktu yang lama untuk mengenal satu sama lain. Menurut ku, hubungan ku dengannya merupakan hubungan yang serius, meskipun aku masih kelas 3 SMA. Tapi entahlah, mungkin menurut dia hubungan ini h...
