BELLA NATASYA
"Gue sama Al udah putus. Baru kemarin."
Aku mengusap air mata yang sedaritadi menetes, aku tidak tahu rupa wajahku saat ini seperti apa. Yang jelas moodku memang kurang stabil karena hari ini adalah endingnya. Akhir cerita aku dan Aldrian.
Aku putus dengannya.
Kulihat motor ninja tiba-tiba berhenti di depan halte bus, tanpa melihat siapa pengendaranya, aku sudah tahu itu Kemal. Setelah melepas helm-nya dan turun dari motor, dia duduk di sampingku.
"Mendingan lo pergi karena gue nggak mau dituduh yang enggak-enggak sama pacar lo itu." kataku langsung to the point.
"Gue sama Vania nggak pacaran." jawab Kemal sengit.
"Yaudah sana pergi, gue lagi nggak mau diganggu."
Kemal hanya tertawa kecil, "Emangnya gue ngeganggu elo? Nggak kan?" tanyanya sambil merogoh saku seragamnya, "Nih tisu, elap air mata sama ingus lo itu. Nanti orang-orang ngira gue yang nangisin elo.."
Aku langsung mengambil tisu itu, "Makasih. Tapi mulai sekarang lo nggak usah sok baik sama gue. Gue duluan," aku beranjak berdiri begitu bus yang kunanti telah tiba.
Kudengar Kemal berseru, "Hati-hati" tapi aku tidak menghiraukannya. Kulihat samar-samar sosok cowok jangkung itu menatapku di balik kaca bus--dan disana air mataku pun kembali menetes.
***
Aku memegangi lutut sambil menyeka keringat dengan punggung tangan, kemudian Helen dan Keenan datang menghampiriku, "Ayo Bel..lari lagi..." seru mereka sambil membantuku untuk berlari tiga keliling lagi.
Belum setengah lapangan kulewati, aku sudah menunduk sambil terus memegangi lutut, "Gue nggak kuat Hel, Kee. Kalian duluan aja" kataku lemas.
"Ayo Bel, masa lo mau yang ketinggalan dibelakang? Tuh liat, anak-anak cowok bentar lagi selesai lari. Kita harus gercep" ujar Helen sambil membantuku untuk berlari kecil.
"Mereka kan cowok, jelas aja cepet." sergahku pelan.
"Tuh liat! Si Kemal, Mores, sama Willi udah main basket aja!" seru Keenan sambil menunjuk genk brutal-nya Kemal yang sedang asyik bermain basket. "Ayo Bel, semangat! Biar kita bisa cepet ke kantin!"
Aku menghela napas lalu mulai berjalan sedangkan Helen dan Keenan berlari di depan. Untuk berjalan saja kakiku sudah gemeteran, apalagi untuk berlari? Ini salahku karena tidak sarapan tadi pagi lantaran menghindar dari telat.
"Kem! Lempar bolanya kesini!" seru Willi yang sudah melambaikan tangannya.
"Siap bos!" balas Kemal, cowok itu langsung melempar bola ke arah Willi, tapi ternyata kurasakan kepalaku ditodong benda keras lalu semuanya menghitam.
***
Aku membuka kedua mataku dan langsung tercium aroma minyak kayu putih, kulihat Helen dan Keenan berteriak senang begitu melihatku.
"Lo nggak apa-apa kan Bel?" tanya mereka berdua khawatir.
Aku menggeleng pelan, "Ini kenapa sih?" tanyaku lemas.
"Tadi lo pingsan! Gue sampe kaget ngeliat lo tiba-tiba ambruk!" jelas Helen sambil memasang tampang khawatir, "Ini semua emang gara-gara si Kemal sih! Dia ngelempar bola basket ke arah lo jadi lo pingsan deh" timpal Keenan. "Tapi dia baik sih, buktinya dia yang gotong lo ke UKS" sambungnya.
Aku sedikit tersentak mendengar cerita dari kedua sahabatku. "Orang-orang yang baru kenal Kemal pasti bakal bilang cowok itu nakal, jahat, bandel, tapi sebenernya dia punya hati yang baik. Gue jadi curiga, kayaknya dia suka sama elo deh Bel" celutuk Helen.
BINABASA MO ANG
A Loveship
Teen Fiction[Completed] Ini bukan masalah persahabatan atau cinta biasa. Ini masalah ketika kalian sudah tidak bisa merasakan apa itu cinta sejati walaupun kalian sudah menetapkan cinta tersebut kepada seseorang. Rasanya aneh memang. Tapi kalian tidak bisa mer...
