Drew look at me
I fake a smile so he won't see
Kamu memandang lama ke arahku. Meneliti dari atas sampai bawah, aku tau jika aku tak sempurna. Tapi aku hanya memasang senyum kecil agar kamu tidak menyadari kegelisahanku.
Entah kenapa kita jadi sedikit akrab. Kamu terkadang bertingkah konyol dan membuat semacam lelucon. Melihatmu tersenyum saja bisa menular apalagi memperhatikanmu sedang tertawa. Walaupun tidak lucu, aku tetap memasang senyum kecil.
Lalu semakin lama kamu bercerita tentang perempuan itu untuk mengisi obrolan yang sering kali terjadi di antara kita. Kamu bercerita tanpa melepaskan senyum indah itu. Lagi-lagi aku harus memasang wajah cerminan dari kebahagianmu.
Aku yakin, perempuan itu pasti sempurna. Dia pasti memiliki sikap yg feminim, anggun, dan pasti tidak sembrono sepertiku. Dia itu perempuan beruntung karena dia tidak perlu menangis untuk mendapatkan perhatianmu apalagi hatimu. Dengan mudah dia bisa memiliki cinta darimu.
3 tahun sudah aku memendam rasa yang tidak pernah berani untuk di ucapkan. Bukan karna aku takut, tapi tak sewajarnya aja perempuan itu mengejar lelaki. Aku hanya menunggunya sadar.
Apa selama ini kamu tak pernah sadar, selama kita berjalan berdampingan aku selalu menahan napas. Oksigen di sekitar serasa lenyap. Kenapa kamu terlalu berpengaruh padaku?
Saat perempuan itu melambaikan tangannya, seketika kamu menghilang dari pandanganku. Lalu ku cari-cari ternyata kamu sedang berjalan ke arahnya. Hanya menatap punggungnya saja bisa membuatku tersenyum. Terlalu sempurna untuk upik abu macam ku. Pangeran sepertimu pasti tidak akan tertarik.
Seketika fikiran itu muncul. Logikaku berkata kalau sekarang hatimu akan semakin jauh untuk kusentuh. Sungguh hebat perempuan itu bisa mengambil hatimu tanpa perlu bersusah payah.
"Taukan jalan mundur?" Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh dan menatap dua pasang mata hitam pekat yang selalu jadi sandaranku, selalu menerima setiap kegelisahanku, kegundahanku.
"Tanpa perlu kita tuntun," dia melanjutkan kalimatnya yang menbuatku menunduk menatap sepatu converse buluk karna sejak awal tidak pernah dicuci.
Aku merasakan 4 tangan yg merengkuhku, memelukku seakan mentransfer kekuatan. Ani dan Arna, dua sahabat yang selalu jadi berkah dalam hidup ini.
"Seharusnya gue sadar dari awal, faktanya mau seberusaha apapun, hati dia pasti menolak untuk ku sentuh karna kecantikan yang perempuan itu punya akan kalah dengan ketulusan dan pengorbanan gue selama ini. Mau gue jatuh dan tertatih buat dapetin cintanya semuanya bakalan sia-sia. Gue serasa mengejar sesuatu yg menurut hati gue ada tapi otak gue bilang gak ada. Kenapa perasaan ini harus ada kalau akhirnya juga di patahkan juga, kalo ujungnya bakalan kecewa. Apa semenyedihkan ini hidup? Gue serasa gak pantes buat merasakan namanya mencintai sekaligus dicintai. Selalu aja gue yang dapet title 'mencintai' harusnya gue sadar dari dulu kan ya? Gue bakalan coba buat mundur kok!" Aku tersenyum tipis dan menatap kosong ke bawah.
