ENVY: his baby.

3.5K 256 7
                                        

Harusnya aku sadar, jadi yang kedua tidak akan pernah menyenangkan. persetan dengan selusin kata cinta yang ia janjikan padaku seumur hidupku. Aku tetap akan jadi yang kedua. Posisiku tidak akan berubah. Aku hanya orang ketiga. Penggangu dalam setiap hubungan. Hama setiap padi.

Jika aku dan wanita itu adalah sepatu, kami adalah dua jenis sepatu yang berbeda. Aku adalah sepatu dengan model terbaru yang digemari oleh semua orang sekarang ini. Tapi, aku adalah versi murahan. Dibariskan di pinggir jalan, terkena sinar matahari dan nyaris buluk. Hargaku murah, tren sementara, lalu setelah tren itu surut, aku akan dibuang. Tidak dianggap. Persetan dengan kenyataan kalau pemilikku pernah menggunakanku ke acara favoritnya di beberapa minggu pertama.

Tapi, dia? Dia adalah sepatu yang modelnya begitu-begitu saja. Tipikal sepatu klasik dengan warna yang tertebak-antara hitam, coklat atau kecoklatan. Tapi, harganya mahal. Dijajarkan dengan harga selangit dan kuantitas terbatas. Kualitas? Terjamin. Meski jarang dipakai, tapi, awet. Dipakai dalam keadaan penting. Tipikal sepatu yang akan dicari jika sedang ada pertemuan dengan orang penting yang mencintai ergonomis lebih dari estetika.

Persetan!

Persetan!

Persetaaan!

Dia bilang, aku harus mengerti. Dia bilang, posisinya sulit. Dia bilang, ini itu ini itu sampai telingaku nyaris berasap saking seringnya mendengar kalimat yang sama berulang kali. Aku lelah. Sampai nyaris berdarah.

Aku harus mengerti?! Lalu, kapan dia mengerti? Kapan dia mengerti kalau aku lelah hanya bisa bertemu beberapa jam sehari dan hanya di tiap akhir pekan? Itu pun dengan ketakutan tertangkap basah? Kapan dia mengerti kalau aku mau mengenalkannya pada teman-teman, saudara dan keluargaku? Kapan dia mengerti kalau Ibuku setengah mati ingin bertemu dengannya?

Dia juga bilang, posisinya sulit. Seriously? Dia kira aku tidak? Aku yang paling terpojok kalau posisiku terendus satu orang yang membeberkannya ke seluruh muka bumi. Aku yang akan dilabrak, dipermalukan dan dijadikan bahan tertawaan massal.

Kalau wanita itu memang benar-benar tak lagi membuatnya bahagia, tak lagi membuatnya paham arti cinta, tak lagi membuat setiap tarikan dan helaan napasnya berguna, tak lagi merasa dibutuhkan, kenapa dia tak memilih menakhiri semuanya saja? Memilihku. Mengulang semuanya bersamaku. Membuat sebuah kisah yang kekal, abadi dan menyenangkan.

"Kata 'selamanya' itu terlalu lama untuk sebuah kisah cinta, sayangku," ujarmu waktu itu. Aku punya otak, sayangku. Aku tahu maksudmu. Itu artinya, kau akan pergi setelah rasa bosan menyergapmu. Aku mengerti, sayang. Aku mengerti. Sangat mengerti.

Tapi, bahkan setelah aku tahu semua konsekuensi yang harus kugenggam jika memilih bersamamu, aku tidak pernah-sedikit pun-mengambil jalan berbalik, menjauhimu. Karena, meskipun setitik, aku berharap, ada setitik bahagia yang kudapat jika mempertahankanmu. Setitik kebahagiaan yang akan kita perjuangkan bersama. Setitik kebahagiaan yang akan kita wujudkan. Setitik kebahagiaan yang lebih dari sekedar omong kosong.

***

"Kamu datang malam ini?" tanyaku melalui sambungan telepon. Jarum panjang nyaris menyentuh angka 12, pertanda tepat tengah malam akan datang. Harusnya, di setiap sabtu, dia datang berkunjung. Tapi, sabtu akan berakhir dan dia tetap tidak datang menengokku.

"Maaf, bayiku akan lahir," sahutmu dari seberang sana dengan satu tarikan napas. Satu tarikan napas yang melambangkan kebahagiaan. Satu tarikan napas yang menunjukkan kalau kau tidak menyesal sedetik pun karena tidak bisa datang ke tempatku hari ini.

"Selamat kalau begitu," ujarku cepat-cepat. Lalu mematikan sambungan telepon. Telepon genggam mahal yang kubeli dengan mencicil dua belas bulan itu kusimpan buru-buru di tempat aman. Jangan sampai ledakan emosiku memuat benda mahal itu jadi korban. Dia lebih berharga dari bajingan yang berjanji menomorsatukan orang kedua seperti aku ini.

Bajingan sialan yang kemudian perlahan memudar dari hidupku.

Bajingan perlahan yang menjadikan bayi mungil yang lahir dari rahim seorang perempuan yang katanya tidak ia cintai lagi itu.

Secepat itu.

Secepat itu hubungan dua tahun kami luntur.

Secepat itu ia menghilang.

Hanya karena sebuah bayi

Seorang bayi yang tak akan pernah kuketahui wajahnya.

Harusnya aku tahu, konsekuensiku dari awal sebagai 'hiburan'. Harusnya aku tidak menggenggam perasaan ini sendiri. Harusnya aku pergi. Harusnya aku.......

Persetan, semua sudah terlambat.

***

Jangan tanya bagaimana keadaanku dua minggu terakhir. Kata kacau adalah kata terakhir yang bisa menggambarkannya. Meskipun kata itu sebenarnya masih kurang dari cukup. Ini adalah pengkhianatan paling mematikan dalam hidupku. Aku membangun tembok kepercayaan untuknya. Aku membangun tembok harapan untuknya. Aku bertahan di antara puing-puing hatiku. Dan aku tidak mau semuanya itu hanya berakhir dengan kekecewaan.

Awalnya dia bilang, bayi itu butuh perhatian.

Awalnya dia bilang, bayi itu merengek padanya.

Awalnya dia bilang, bayi itu butuh perhatian lebih.

Lama-lama, semuanya hanya untuk bayi itu. Semua harus berhenti. Aku mencintaimu. Dan kamu juga bilang, kamu juga mencintaiku. Sekarang, kamu harus buktikan.

"berbahagialah di surga sana, bayi kecil," ujarku pada seorang bayi yang sedang tersenyum. Tapi, semua terhenti di sana. Tanganku yang memegang belati melayang di udara. Senyumnya meluruhkan hatiku.

Sekarang aku mengerti kenapa lelaki itu memilih bayi ini. Bukan aku.


karena ada dua jenis kekecewaan di dunia ini, kekecewaan untuk sebuah ucapan yang berbentuk janji. dan kekecewaan untuk sebuah janji tak tersirat yang tergenggam erat. iya, kan? -cor


kumcer: SEVEN DEADLY SINSWhere stories live. Discover now