Hati Seekor Serigala Putih - Bagian 1

48 0 0
                                        

Kehidupan di sirkus sangat menyenangkan, walaupun aku hanya sebagai MC dan Grand Finalè. Semula, aku hanyalah pemuda pemberani yang cukup penakut dan aktor di atas panggung yang menyenangkan.

Tapi sekarang, aku adalah seorang pemuda tinggi berumur 19 tahun yang menjadi model yang mengecat rambut menjadi pirang muda, menindik telinga kiriku dan memasang anting dengan batu kecil berwarna merah, terkadang biru, terkadang hijau, sesuai mood. Aku juga memanjangkan rambutku sedikit dan menjalankan misi dengan sadis. Ya. Aku berubah banyak di 'Circus of Dark Days'.

Hari ini, 12 Maret. Sirkus kami sudah keliling dari negeri orang Yuka hingga ke negeri orang Pinay dan negara tujuan kami sekarang, Brazil, dengan penghasilan total ditargetkan 10 juta dollar Amerika.

Aku dan semua anggota sirkus sangat senang saat menginjak 'surganya burung tropis' ini, apalagi saat bertepatan dengan parade burung tahunan. Mulai dari awal, di pesawat Jumbo Jet yang kami naiki (sirkus ini cukup kaya), kami mulai menyusun rencana dan misi. Pak Ordlè terlihat senang sekali melihatku dan yang lainnya berbaur.

"Rencananya, kalian mau ke mana?" tanya Toura.

"Mungkin ke pantai, sekaligus memeperbaiki kulitku," kata Senji sambil menguap. "Bagaimana dengan kakak?"

"Um... ke pantai? Aku kurang yakin, Sen. Aku sebenarnya lebih pilih wisata daripada ke pantai melihatmu berenang," kata Ashiya sambil meminum jus yang ia ambil dari kulkas pesawat kelas spesial dunia.

Aku tertawa. Sudah sebulan sejak kejadian Senji dan sirkus kami selalu berhasil untuk mentupi masalah. Ashiya masuk ke sirkus ini dan ia adalah orang satu-satunya dan yang pertama untuk masuk ke sirkus ini di tengah tur dunia (karena menurut kak Zuya, ia jarang sekali mau menerima member baru yang masuk saat tur).

"Ashiya, mungkin kau lebih tergoda untuk memotret wanita Brazil di sana?" tanya Herb dengan nada menggoda.

"Ah, tidak juga," jawab Ashiya dengan malu.

"Tapi, mumpung kita di Brazil, mau menemaniku bekerja?" tanya kak Zuya.

"Itu pekerjaanmu. Lagipula, aku juga bekerja, kok," kata Hyakki dengan senang.

"A... aku juga, kak. Aku harus mengumpulkan darah untuk kakak dan aku dan Hojosa. Bagaimana, Hojo-ki?" tanya Ryuu sambil menatap Hojosa, yang langsung menyetujuinya.

"Kalau kamu, Yusuke?" tanya Herb.

"A... aku?"

Aku tidak tahu harus bekerja apa. Memang sih, kak Zuya dan Hyakki adalah super model, sementara Herb dan Ryuu adalah aktor. Aku hanyalah murid biasa. Murid Harvard biasa. Aku tidak punya pengalaman bekerja sebagai model. Tapi, kak Zuya berkata lain.

"Bagaimana kalau kau menginjak dunia ayahmu, Yusuke?" tawar kak Zuya sambil memberikan padaku sebuah pin, disusul oleh rasa khawatir semua orang. Aku tentu saja cukup tahu apa itu: Agen sekaligus pembunuh bayaran.

"Tenang, Yuu. Bukan hanya kamu yang jadi pembunuh. Senji, Toura, Hashimoto, aku, Zuya, dan Herb adalah pembunuh professional paling diincar. Kalau kau mau, aku bisa melatihmu," kata Hyakki. "Lagipula, kau sudah siap, kok, jadi pembunuh seperti ayahmu."

"Ya. Ayahmu pintar sekali dalam membunuh. Apalagi setelah memotong..."

"Hei, Herb. Itu kau, kali," kata Senji sambil menyindir Herb, yang langsung tidak disukainya.

"Haha, sudahlah. Aku tidak sekejam itu, kok..."

Tiba-tiba saja ada turbulensi di pesawat, yang membuat kami semua hampir terjatuh dari kursi kami. Sesaat kemudian, semua orang tidak sadarkan diri. Dan ketika aku menatap mukaku di gelas wine milik kak Zuya, aku melihat darah yang mengucur dari kepalaku. Tapi, aku tidak tahu apa-apa setelah Behemia melihatku.

Circus Of Dark Days [Done]Where stories live. Discover now