*bergetar, bergetar*
'hah hah'
Kedua kaki Vea bergetar hebat. Tangannya yang sedaritadi hanya merasakan rasa dingin yang menusuk, sekarang mulai ikut bergetar. Wajahnya pucat pasi dan keringat mengucur dari dahinya
'Ya Tuhan! Apa yang barusan gue lakuin!' Vea berlari cepat menyusuri lorong-lorong dengan puluhan mata yang menatap aneh dirinya 'Gara-gara si rese nih!'
"Vea!!" suara baritone yang terdengar jauh darinya membuat Vea membeku ditempat 'sial!'
plak sebuah tangan menyentuh bahu Vea
"Ngapain lo diem gitu?" Sapa suara baritone yang Vea tahu benar siapa si pemilik suara ini
Vea memutar kepalanya "Yah!! Kak Dafin, ngapain sih? Dapet mandat dari Pak Ilham buat nangkep gue ya!? Aduh kak, ntar gue nemuin Pak Ilham sendiri buat ngejelasin yang tadi. Jam pertama gue ada ulangan Biologi nih kak. Gue gak mau besok disuruh ulangan susulan sendiri" cecar Vea yang hanya ditanggapi dengan muka bingung tapi cakep khas milik Dafin
"Apasih Ve? Gue cuma mau ngasih ini" disodorkannya kotak berwarna merah itu "dari nyokap lo" Dafin berucap dan tanpa menunggu jawaban dari Vea, dia sudah menghilang
"Elah tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Cakep sih cakep, pinter? iya. Baik? banget. Populer lagi! Tapi sayang, Aneh!" Vea menggerutu sendiri tanpa menyadari sepasang tangan telah mengambil kotak berwarna merah ditangannya itu
"Makasih Ve!!" teriak seseorang dibelakang punggungnya yang telah berjalan menjauh, Diliriknya kotak berwarna merah itu yang telah bertengger ditangan kanan orang itu
"Reyhan!!!!!!!!!!!"
AN
Hai aku penulis baru/?:b Salam kenal~
Maaf kalau ceritanya tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
Jangan lupa like comment subscribe/?
Jangan plagiat ya~~
Terimakasih MWAHH
11Sep2015 [19:29]
YOU ARE READING
Flashlight
Teen FictionDunia tidak hanya tentang memberi dan menerima, namun juga tentang mengikhlaskan.
