Aku terus berlari tiada henti.
Sampai akhirnya aku terpojok pada jalan yang buntu.
Napasku memburu, aku sangat ketakutan.
Sementara itu, di belakangku seorang pria menghampiriku dengan shot gun di tangannya.
"Mau lari kemana kau? Kau takkan bisa lepas dariku, lelaki kecil yang malang," ucap pria itu dingin, mengintimidasi.
"Ja... Jangan..." lirihku itu parau. Aku belum pernah merasa setakut ini.
Pria itu menyeringai.
"Anak Malang, bersiaplah menghadapi ajalmu," pria itu mengarahkan shot gun tepat pada kepalaku.
DOR!
Peluru itu nyaris saja merenggut nyawaku kalau saja tak ada seorang perempuan yang mendorongku, menyelamatkanku.
"Eh?"
"Cepat ikuti aku! Kau akan selamat!" perempuan itu menarik tanganku -entah kemana- dengan langkah yang sedikit terseok.
Kulirik pergelangan kakinya sekilas, darah mengucur di sana.
"Hey! Kau berdarah! Apa tadi kau tertembak?" seruku saat kami berada di sebuah bangunan tua, bersembunyi. Aku yakin, penjahat yang tadi mengejarku, takkan menemukan keberadaan kami.
Ia tersenyum. "Ah, tak apa, hanya tergores sedikit," jawabnya.
Aku pun mengambil sapu tanganku dari saku dan memberikannya pada gadis itu.
"Ini, balut lukamu dengan ini!" suruhku. Ia mengangguk.
"Makasih, ya? Kamu udah nyelametin aku," ucapku.
"Iya, sama - sama" sahutnya riang, seolah tak terjadi apapun.
"Ehm, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu" ucapku memecah keheningan.
"Tanya aja," sahutnya.
"Kenapa kamu mau nyelametin aku? Kita, kan nggak saling kenal?" tanyaku sedikit ragu.
Ia tersenyum, lagi.
"Menolong seseorang tidak harus beralasan, kan?"
*TBC*
a.n.
Hai, salam kenal! Ini gaje banget ya? Haha maaf ya baru belajar, vomment kalo suka! :)
