PROLOG

96 37 202
                                        

1. TERBUANG

Prolog

Orang-orang bilang, keluarga adalah tempat pertama untuk pulang. Tempat di mana luka seharusnya dirawat dan air mata seharusnya jatuh tanpa perlu disembunyikan.
Tapi, bagaimana jika rumah justru menjadi tempat pertama seseorang belajar tentang rasa sakit?

"Orang-orang bilang semua akan terasa bahagia kalau kita punya keluarga. Kok aku nggak, sih? Kok aku malah menderita?"
Hazel pernah percaya bahwa keluarga adalah rumah. Namun, semakin lama ia tinggal di dalamnya, semakin ia merasa seperti tamu yang keberadaannya tidak pernah benar-benar diinginkan.

Ada yang bilang, hidup harus memiliki pahit agar terasa seimbang.
Kalau begitu, bukankah seharusnya ada sedikit manis untuk Hazel?
Sedikit saja.
Namun, bahkan secuil kebahagiaan terasa seperti sesuatu yang terlalu mahal untuk ia miliki.

____

"GAK SEMUA HAL YANG LU MAU HARUS DITURUTI, HAZEL!"

Hazel menundukkan kepalanya.
Tapi aku jarang minta sesuatu...
Ia hanya ingin sekali-sekali didengar. Hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang dibanggakan.
Namun, setiap kali ia mencoba, harapannya selalu dipatahkan seperti ranting kering yang diinjak tanpa sengaja.
____

"Mah... maaf aku cuma dapat juara dua di lomba ini," ucapnya pelan, nyaris ketakutan.
"ANAK GAK TAU DIUNTUNG! SAYA CAPEK-CAPEK SEKOLAHIN KAMU! MASA LOMBA GINI DOANG GAK MENANG?!"
Hazel terdiam.
Semua orang pasti punya kekurangan, kan?
Ia hanya gagal sekali.
Apa salahnya?
Apa seorang anak harus selalu sempurna agar pantas dicintai?

───

"Bang, mana janji abang? Katanya mau ajak aku ke taman hiburan."

"Lu tuh, ya, cuma taunya main-main doang. Lo gak lihat gua lagi pusing, hah?"
Hazel menggigit bibirnya.

"Kan abang udah janji sama Hazel. Emang Hazel salah? Cuma aku yang belum pernah ngerasain ke taman bermain, loh."

Janji itu sederhana.
Hanya sebuah taman bermain.
Hanya beberapa jam untuk tertawa tanpa merasa bersalah.
Namun, bagi Hazel, janji kecil itu seperti seberkas cahaya yang terlihat dari balik jendela kamar yang selalu tertutup. Ia menunggunya dengan sabar, meski berkali-kali cahaya itu menghilang sebelum sempat ia genggam.

───

"Pah, beliin aku HP baru, sih. HP aku udah jelek banget. Udah gak support juga buat aku sekolah."

"Gak ada HP baru, HP baru! HP kamu itu masih bagus. Hazel, gak usah boros, bisa gak? Kamu tuh harusnya belajar biar pintar, bukan HP aja. Jadi bego, kan?"

Hazel menatap ponsel tua di tangannya.
Ponsel itu sudah menemaninya selama enam tahun.
Ia membelinya sendiri.
Bukan meminta.
Bukan memaksa.
Hanya berusaha bertahan dengan apa yang ia punya.

"Ini kan HP Hazel beli sendiri, dan itu juga udah enam tahun lalu. Dan... maaf kalau Hazel masih bodoh. Padahal Hazel udah berusaha keras. Maaf kalau Papah belum puas sama hasil dan usaha Hazel."

Namun, rupanya usaha pun tidak selalu cukup untuk mendapatkan sebuah kata bangga.

____

Kalimat itu datang
Kalimat yang kelak akan menjadi luka paling dalam.

"HARUSNYA KAMU GAK PERNAH LAHIR! SIALAN! NYESEL SAYA LAHIRIN BEBAN YANG MENJIJIKKAN SEPERTI KAMU!"

Hazel membeku.
Hazel gak pernah minta dilahirin, Mah...
Air matanya jatuh tanpa suara.

"Anak sampah, gak guna, mati sana kamu. Saya gak sudi punya anak kayak kamu. Jijik saya kalau ingat kamu."

Hazel tersenyum kecil.
Senyum yang tidak memiliki bahagia sedikit pun.

TerbuangStories to obsess over. Discover now