Melawan Penyakit

1 0 0
                                        

Warning!!
Full of Tata POV

::
::

"Turut berduka cita ya. Semoga keluarga diberikan kesabaran dan kekuatan." Hari ini 17 Agustus, kami sekeluarga berkumpul di rumah duka untuk mengantarkan kepergian Mamaku.

'Nanti, tanggal 17 Agustus kita kumpul-kumpul lagi ya. Bakar-bakar lagi seperti hari ini' aku kembali mengingat perkataan mama beberapa bulan lalu.

Disaat itu, disaat hari libur beberapa hari. Mama meminta keluarga besar berkumpul di rumah untuk mengadakan acara bakar-bakar di rumah.

Kami melakukannya dan makan di lantai dua, dan mama hanya berada di kamar bawah bersama dengan nenek karena kemampuan berjalannya menghilang karena penyakit yang dideritanya. Bahkan untuk makanpun mama tidak nafsu, hanya bisa masuk 4 sendok makan.

Dan benar ma, tanggal 17 Agustus kami berkumpul kembali. Tetapi kenapa kehadiranmu harus menghilang? Kenapa aku harus melihatmu begitu cantik dalam peti ini?

Mamaku, dia telah berpulang pada 16 Agustus jam 23.45, tepat 15 menit sebelum pergantian hari.

Malam itu, disaat papaku memberitahukan bahwa mama telah tiada, aku langsung pergi ke rumah sakit. Tidak peduli bahwa saat itu sudah tengah malam. Yang ada dalam pikiranku, aku ingin melihat mama.

Akupun berangkat menuju rumah sakit bersama adikku Bebel, dan Saudara kembarku Nana bersama dengan suaminya. Saudara kembar Bebel, Lala sudah berada di rumah sakit bersama dengan papa karena jadwal mereka yang jaga mama.

Hatiku kacau, aku menangis sepanjang perjalanan. Kenapa mama dipanggil begitu cepat? Mama masih berusia 66 tahun. Aku iri dengan seseorang yang masih bisa bersama dengan mamanya hingga berusia setengah abad. Kenapa aku hanya ditemani mama dikala dua bulan lagi usiaku akan memasuki 30 tahun?

Setibanya di rumah sakit, kami mengurus administrasi atas kepergian mama dan selesai dari itu kami langsung berangkat ke rumah duka. Kakak laki-laki-ku langsung datang dari luar kota bersama dengan adik sepupuku.

Bahkan seseorang yang mama bilang tentangnya 'Kamu lihat nanti ya, kita gak tau kedepannya orang akan bersikap seperti apa. Jadi jangan terlalu dipikirkan ya.' juga ikut datang mengantar mama ke rumah duka.

Kami berkumpul di ruang jenazah, melihat mama diberikan zat pengawet. Baru setelah petugas berkata bisa pulang, kami pulang. Karena besok pagi, kami harus mengurus acara pelepasan mama.

Dan inilah yang terjadi saat ini, kami sekeluarga kembali berkumpul. Tidak melakukan acara bakar-bakar keluarga, tetapi kami bersama melepaskan mama agar dapat ditempatkan di tempat terbaik di atas sana.

Sebenarnya awal mulanya bagaimana? Kenapa aku bisa tiba di hari menyedihkan ini? Kenapa mama meninggalkanku, kenapa mama tidak menemaniku di setiap proses berharga hidupku.

Aku kembali mengingat saat mama memberitahuku tentang hal menyedihkan itu dan bagaimana perjuangan mama selama ini. Mama adalah wanita terkuat yang kukenal selama hidupku.

::
::
::

Semuanya bermula dari sini, awal Desember 2 tahun lalu. Saat aku baru kembali dari luar kota berkumpul di rumah kami. "Ta, Na, minggu depan mama mau operasi. Kalian temani mama ya." aku dan saudaraku Nana saling tukar pandang dengan terkejut.

"Operasi apa ma?" tanyaku dengan perasaan penuh khawatir.

"Pengangkatan kelenjar getah bening." aku dan Nana yang tidak begitu paham saat itu, hanya menganggukkan kepala dan besoknya mengatur jadwal cuti kerja untuk menemani mama selama operasi dan masa pemulihannya.

Pengangkatan kelenjar getah bening adalah prosedur bedah untuk mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar getah bening untuk mengetahui penyakit yang diderita dan bagaimana mengobati penyakit tersebut. -sumber : internetsejutaumat

Singkat cerita, mama telah selesai melakukan operasi. Kamipun menunggu hasilnya dengan cemas. Sebenarnya penyakit apa yang diderita mama. Karena kelenjar itu berbentuk benjolan bulat.

Hari dimana hasil mama telah keluar, tulisannya bertuliskan 'ca mammae dextra' lagi-lagi bahasa yang tidak kumengerti. Tapi saat itu aku tidak berpikir untuk langsung mencarinya di internet.

Hingga akhirnya tiba waktunya untuk konsultasi dengan dokter onkologi. Dan kami harus mendengar kabar lebih menyedihkan lagi. "Kalau saran saya, diangkat semuanya bu. Karena takut ada penyebaran lebih luas." mamaku yang tidak mau ambil pusing akhirnya mengikuti keputusan dokter.

Lagi-lagi mamaku harus menjalankan operasi. Ya, ca mammae dextra, kanker payudara sebelah kanan. Sehingga berikutnya mama akan menjalani operasi pengangkatan payudara di awal januari tahun depan.

Mamaku adalah orang yang kuat, bahkan disaat dokter berkata mama terkena penyakit serius dia masih bisa menjalani hidupnya dengan biasa saja. Tapi tidak dengan hati anaknya yang bersedih tapi tidak ingin menunjukkannya agar mama tidak ikut bersedih.

Disaat terkena penyakit itu, akhirnya mama memutuskan untuk berhenti bekerja. Sekuat itu mamaku, bahkan saat usianya sudah 64 tahun dia masih bekerja. Dan tinggallah aku dan saudaraku yang kali ini berjuang untuk keluarga kami.

Hingga tidak terasa, operasi pengangkatan payudara mama sudah selesai. Sekarang sudah berganti tahun, hari-hari sibuk dilalui dengan mama yang berjuang dengan penyakitnya. Melakukan kemoterapi 8 x 2x siklus dan juga infus tulang agar tulangnya tetap sehat.

Setiap kemoterapi, mama selalu ditemani oleh kedua adikku Lala dan Bebel disaat jadwalnya jatuh di hari kerja. Apabila jatuh di sabtu, maka aku yang menemani mama berobat. Nana tidak bisa menemani karena dia ada bimbingan pranikah untuk acaranya di awal tahun depan lagi.

Mama selalu berjuang, bahkan disaat mama tidak nafsu makan karena efek kemoterapi, mama tidak menunjukkan bahwa dia kesakitan. Disaat perlahan rambutnya mulai rontok, mama tetap bisa tersenyum dan berkata 'nanti juga tumbuh lagi'.

Bahkan untuk pernikahan Nana, mama mengajukan diri untuk membuat gaun pesta untuk-ku, nenek, dan kedua adikku. Selain itu untuk mama sendiri dan calon mertua. Total gaun yang dibuat sebanyak 8 gaun.

Sungguh kekuatan yang luar biasa bagi seorang ibu yang sudah cukup berumur dan memiliki penyakit serius tetapi masih ingin berjuang untuk anaknya. Membuat gaun bukanlah hal yang mudah karena butuh tenaga lebih dan ketelitian.

Aku yang menemani mama menggunting kain, memasang mote, pergi ke tukang jahit untuk menutup ujung kain. Semua hari-hari bersama mama sungguh berarti bagiku. Aku selalu berpikir mama pasti akan sembuh, mama akan pulih seperti sedia kala.

Mama adalah orang yang kuat, mama bisa melewati segala yang terjadi dalam hidupnya. Sehingga dia bisa membesarkan keempat anak perempuannya hingga dewasa.

Hanya saja aku tidak tahu rencana Tuhan, kenapa dia memberikan penyakit tersebut kepada mamaku. Apakah mama belum cukup berjuang semasa hidupnya? Padahal dari sudut pandangku mama sudah sangat berjuang keras.

Tapi kenapa mama harus terkena penyakit itu? Ca mammae, tidak bisakah kamu tidak muncul dalam kehidupan mamaku?

::

::

Masih berlanjut

Mama, Andaikan Saat itu Kamu SembuhStories to obsess over. Discover now