Kanvas dan Ketakutan Tanpa Nama

17 3 0
                                        

Udara di dalam studio pribadi itu selalu berbau sama: perpaduan menyengat antara cat minyak, pelarut turpentine, dan keheningan yang dingin.

Xiao Zhan berdiri mematung di hadapan kanvas dengan lukisan setengah jadi. Jemari tangan kanannya yang memegang kuas menggantung di udara dengan getaran halus yang tak kunjung reda. Di meja kayu di sampingnya, tertumpuk dua hal yang saling bertolak belakang: sekumpulan dokumen analisis struktur arsitektur, dan sebuah jurnal bersampul kulit tempat psikiater pribadinya membubuhkan catatan evaluasi berkala.

"Melukis bukan lagi untuk mengontrol duniamu, Zhan. Melukis adalah caramu melepaskan kendali itu."

Kalimat sang terapis bergema halus di kepalanya. Tiga tahun lalu, Xiao Zhan melarikan diri. Ia melepas seluruh jabatan eksekutif di perusahaan keluarganya, mengisolasi diri dengan menghilang, dan berjuang merakit kembali jiwanya yang hancur. Ia melatih dirinya untuk membuang seluruh sifat posesif dan obsesif masa lalunya yang beracun, lalu membangun sebuah topeng baru yang amat tenang, sopan, dan berjarak dari siapa pun.

Galeri Seni Green Pavilion adalah ujian kelulusan atas pemulihan jiwanya. Sebuah ruang pameran independen yang dirancang untuk menampung karya-karyanya, tempat ia bisa berdiri sebagai pelukis utuh mewujudkan mimpinya tanpa bayang-bayang masa lalu.

Goresan kuasnya di atas kanvas terhenti ketika pintu studio terketuk pelan. Asisten pribadinya melangkah masuk membawa sebuah bundel berkas tebal bermeterai.

"Tuan Xiao, kurator independen telah menyelesaikan proses seleksi anonim untuk proyek gedung galeri," ujar sang asisten seraya meletakkan berkas itu di meja. "Dari dua puluh proposal arsitektur anonim yang masuk, draf dengan kode desain 'Green Dreams' meraih nilai tertinggi dari seluruh dewan juri karena kesesuaian konsep dengan detail yang Anda harapkan. Sesuai prosedur, Anda memegang hak veto akhir sebelum penandatanganan kontrak besok pagi."

Zhan meletakkan kuasnya, mengelap tangannya dengan kain perca, lalu melangkah menghampiri meja.
Sebagai seorang Arsitek Senior yang juga menguasai presisi teknis, Zhan membuka lembar cetak biru itu dengan kacamata bacanya. Namun, dalam hitungan detik, napas Xiao Zhan tertahan di tenggorokan.

Logika ruangannya teramat jenius. Integrasi selubung bangunan dengan pencahayaan alami (daylighting) dihitung secara presisi untuk melindungi pigmen cat kanvas dari radiasi ultraviolet. Namun, yang membuat jantung Zhan berdenyut kencang bukanlah kalkulasi beban anginnya, melainkan jiwa dari bangunan itu.

Atap kanopi gantungnya yang melengkung teduh, sudut bukaan jendela yang menghadap lereng bukit, serta teras kayu melayang... semuanya terasa begitu familier. Arsitek yang mendesain ini seolah tahu apa yang benar-benar ingin Zhan tampilkan secara detail.

Siapa pun arsitek di balik draf ini... ia memahami cara mataku memandang cahaya, dan menggambarkan apa yang benar-benar aku inginkan, batin Zhan, dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang asing.

Tanpa ragu, Zhan membubuhkan stempel persetujuan di lembar akhir berkas anonim tersebut. "Proses ini bersih. Jadwalkan rapat penandatanganan kontrak dengan studio dan arsitek pemenang di ruang utama besok pagi."

Ruang rapat utama di lantai dasar bernuansa minimalis dengan dinding kaca yang membiarkan cahaya matahari pagi menembus masuk.

Xiao Zhan duduk di ujung meja kayu panjang, merapikan kemeja linen putihnya. Ia melatih napasnya, memasang senyuman tipis yang sangat sopan dan tenang, sebuah pertahanan diri yang telah ia latih selama tiga tahun agar tidak ada satu orang pun yang bisa membaca kerentanannya lagi.

Pintu ganda ruang rapat berderit terbuka.

"Arsitek pemenang draf dari Firma Studio Utama telah tiba," umum staf sekretariat.
Langkah kaki tegap berirama konstan bergema di atas lantai beton teraso. Seorang pria berpostur tinggi tegap masuk, mengenakan kemeja hitam berpotongan tajam tanpa dasi, dilapisi mantel abu-abu gelap.

Masterpiece of ShadowsStories to obsess over. Discover now