BAB 1

6 0 0
                                        

Pagi hari yang indah ketika Peony ingin berangkat kerja langkah kaki beralaskan heelsnya lebih dulu mampir, menginjaki tanah berumput menuju kebun bunga. Bau semerbak bunga seketika tercium bercampur air seusai disirami nozzle spray terhirup segar dalam indra penciuman perempuan itu.

Cahaya matahari menyinari sekitar taman memberikan manfaat bagi bunga-bunga bisa berfotosintesis agar tumbuh subur, sehat, dan ternutrisi. Sekitar membuktikan kupu-kupu dan lebah madu menikmati hasil kebun bunga ini.

Dari kejauhan Robert berusia 61 tahun menyungging senyum kepada Peony sebagai bos-nya.

Sudut bibir Peony terangkat membalas senyum ramah.

Pria tua itu sedang sibuk mengecek dedaunan serta kelopak bunga, bila saja ada yang rusak, menguning, atau kering, tangan ajaib Robert-lah bersiap memperbaikinya.

Robert sudah lama bekerja menjadi tukang kebun selama 3 tahun yang sebenarnya kebun bunga ini sebelumnya pernah dirawat oleh kedua orang tua Peony, semenjak mereka meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat 4 tahun lalu. Hal tersebut menimbulkan luka mendalam tersimpan permanen di hatinya. Maka kenapa Peony mempertahankan serta merawat bunga di kebun untuk mengurangi sayatan hati, akibat rasa duka selalu ia pendam. Berharap bunga-bunga itu bisa mengobati dengan terus mampir setiap pagi hari.

Peony menghela nafas sesaat sambil memejamkan mata, sebelum benar-benar pergi bekerja sebagai pemilik toko pakaian ternama. Setelah itu kaki jenjangnya berbalik keluar kebun, memasuki mobil sedan putihnya. Meninggalkan pekarangan rumah berdesain mewah namun minimalis.

Tibanya mobil milik Peony berhenti di lahan parkir depan toko pakai nya, bernama Eternal Glory tertera jelas di dinding gedung toko yang menjual dress dan gaun. Begitu memasuki belah pintu berlapis kaca, para pegawai berada di dalam memberi hormat serta sapaan mereka kepadanya.

"Selamat pagi bu."

"Selamat pagi."

Berhenti depan pintu ruang kerjanya Peony masuk setelah memutar kunci lalu menutup kembali. Tas sedari tadi menggantung manja di lengan, ia letakan benda berbahan kulit itu ke atas meja kerja, lalu duduk di kursi beroda menghadap komputer.

Ia mulai serius bekerja.

Suara ketukan pintu menginterupsi, padahal bokong belum lama mendarati kursi. Dengkusan mengalun penjuru ruangan kosong hanya terdapat dirinya seorang.

"Iya ada apa?"

"Saya Jiah ehmn.. mau bilang soal pelanggan ingin memesan pakaian yang memang kehabisan stok bu, kita hanya menyimpannya sebagai pakaian pajangan saja."

"Masuklah kita bicarakan saja di dalam."

"Iya bu!"

Perempuan bernama Jiah selaku kepala staf-nya itu membuka pintu hati-hati, lalu menutupnya tanpa menimbulkan bunyi. Menunjukkan betapa segan sikapnya kepada Peony sebagai atasan.

Gerakan tangan Peony terulur mempersilahkan duduk depan kursi menghadap langsung arah meja kerjanya.

Jiah membungkuk memberi hormat, sebelum menduduki kursi.

Lengan Peony menyilang bersandar pada meja, sedikit mencondongkan tubuh. "Pelanggan bernama siapa? Memesan pakaian apa?"

Jiah meremas jari. "Bernama Felincia Lauren, pakaian ia pesan sebuah gaun berada di depan hiasan kaca toko bu."

Peony tertegun sesaat mengingat sembari melongo bersandar ke kepala kursi. "Ahh... gaun itu ya."

Mengangguk. "Iya bu, gaun yang kata ibu sulit untuk mendapatkan stoknya!"

FLOWER MANHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora