Bab 1 - Tempat yang Selama Ini Hanya Kulihat dari Layar

1 0 0
                                        

Ada banyak tempat yang ingin kudatangi.

Gunung adalah salah satunya.

Entah sejak kapan aku mulai menyukai pemandangan gunung. Mungkin sejak aku sering melihat foto-fotonya di layar ponsel. Puncak yang diselimuti kabut, langit yang luas, hamparan awan dari ketinggian, pepohonan yang terlihat kecil dari kejauhan.

Semuanya terlihat begitu indah.

Tapi ada satu hal yang selalu muncul setelah aku melihat foto-foto itu.

Aku ingin ke sana.

Bukan hanya ingin punya foto dengan latar gunung.

Aku ingin melihatnya secara langsung.

Aku ingin berdiri di tempat yang selama ini hanya kukenal melalui layar. Ingin merasakan dinginnya udara, melihat luasnya langit, mendengar suara alam, dan menyaksikan sendiri bagaimana indahnya bumi yang Tuhan ciptakan.

Aku ingin ketenangan.

Bukan berarti aku ingin berada di tempat yang benar-benar sunyi. Alam pun tidak pernah benar-benar diam. Ada suara angin, langkah kaki, daun yang bergesekan, air yang mengalir, dan burung-burung yang berkicau.

Tapi bagiku, suara-suara itu terasa berbeda.

Walau alam berisik dengan kicauan burung, itu lebih baik daripada kicauan mulut manusia.

Mungkin karena alam tidak pernah bertanya kenapa aku diam.

Tidak pernah memintaku menjelaskan perasaanku.

Tidak pernah membuatku sibuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangku.

Di alam, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.

Melihat.

Bernapas.

Berjalan.

Sayangnya, keinginan untuk pergi tidak semudah membayangkannya.

Ada banyak hal yang harus dipikirkan.

Dan yang paling utama adalah uang.

Aku bisa membuat daftar gunung sepanjang apa pun. Bisa menyimpan foto tempat-tempat indah sebanyak apa pun. Bisa membayangkan perjalanan itu berkali-kali sebelum tidur.

Tapi kalau dana belum ada, semuanya tetap menjadi keinginan.

Belum lagi mencari waktu.

Mencari teman.

Mempersiapkan perlengkapan.

Dan tentu saja mempersiapkan tubuh.

Aku juga punya ketakutan.

Takut tersesat.

Takut salah jalan.

Takut tubuh tiba-tiba tidak kuat di tengah perjalanan.

Takut sudah jauh-jauh pergi, tetapi akhirnya harus menyerah sebelum sampai.

Tapi aku tahu, rasa takut tidak akan hilang hanya karena aku terus menunggu.

Kalau suatu hari aku benar-benar ingin mendaki, aku harus belajar mempersiapkan diri.

Tubuh harus dilatih.

Perlengkapan harus disiapkan.

Dana harus dikumpulkan.

Dan yang paling penting, aku harus belajar bahwa perjalanan tidak selalu tentang memaksakan diri sampai tujuan.

Kalau tubuh sudah tidak mampu, berhenti bukan berarti gagal.

Mungkin justru itu bagian dari belajar.

Untuk sekarang, aku belum tahu kapan perjalanan pertamaku akan dimulai.

Mungkin Andong.

Mungkin tempat lain.

Yang jelas, aku ingin mencoba.

Aku ingin suatu hari nanti berdiri di sebuah puncak, melihat luasnya bumi dari sana, lalu menyadari bahwa sesuatu yang selama ini hanya ada di wishlist akhirnya benar-benar ada di depan mataku.

Mungkin aku akan menangis.

Bukan karena sedih.

Tapi karena akhirnya aku sampai.

Namun, semakin kupikirkan, aku sadar bahwa mungkin perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai puncak.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang ingin kucari.

Aku ingin tahu sejauh apa aku bisa berjalan.

Seberapa kuat aku bisa bertahan.

Seberapa banyak tempat yang bisa kulihat.

Dan mungkin, di antara perjalanan-perjalanan itu, aku akan menemukan jawaban tentang diriku sendiri.

Karena aku belum tahu akan menjadi siapa.

Aku juga belum tahu akan sampai di mana.

Tapi mungkin aku tidak perlu tahu semuanya sekarang.

Aku hanya perlu mulai berjalan.

"Aku belum tahu akan menemukan siapa di ujung perjalanan. Mungkin, justru diriku sendiri."
~ Aru

Sebelum Aku SampaiDes histoires addictives. Découvrez maintenant