Ruang Latihan dan Jarak yang Tak Terlihat
Sejak awal perkenalan di agensi, Eunhyuk adalah sosok yang sangat hangat dan protektif kepada Donghae yang pemalu. Mereka selalu berlatih berpasangan. Kehadiran Eunhyuk yang begitu peduli perlahan menumbuhkan rasa yang salah di hati Donghae. Setiap kali Eunhyuk merangkul bahunya setelah latihan keras, atau memujinya dengan senyum lebar, jantung Donghae berdegup terlalu kencang.
Namun, Donghae tahu ada batas tak kasatmata di antara mereka. Eunhyuk adalah pria normal. Kenyataan itu menghantam Donghae telak suatu malam, ketika ia melihat Eunhyuk tersenyum malu-malu sambil mengetik pesan di ponselnya di pojok ruang latihan.
Sosok Wanita di Antara Mereka
"Hae, kenalkan, ini Sun-hee," kata Eunhyuk suatu sore dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan. Di sampingnya, berdiri seorang gadis manis berambut panjang yang tersenyum ramah.
Donghae merasakan dadanya mendadak sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu habis seketika. Namun, sebagai sahabat yang baik, Donghae memaksakan senyum terbaiknya. "Halo, Sun-hee. Aku Donghae."
Sejak hari itu, perjuangan Donghae bukan lagi sekadar menahan lelahnya latihan fisik, melainkan menahan cemburu yang membakar dada. Ada banyak momen menyakitkan yang harus ia telan sendiri. Seperti saat latihan selesai, Eunhyuk akan buru-buru merapikan baju karena punya janji temu, atau saat Eunhyuk menceritakan betapa ia menyayangi kekasihnya itu kepada Donghae. Donghae hanya bisa menjadi pendengar setia, mengubur dalam-dalam rasa cintanya demi menjaga persahabatan mereka.
3. Sandaran di Masa Sulit
Ujian berat datang ketika ayah Donghae jatuh sakit keras di Mokpo. Dunia Donghae runtuh. Di tengah malam yang sepi di koridor rumah sakit, Donghae merasa sangat hancur dan kesepian. Ia tidak berharap banyak, namun tiba-tiba sosok Eunhyuk muncul dengan napas terengah-engah setelah menempuh perjalanan jauh dari Seoul.
Eunhyuk langsung menarik Donghae ke dalam pelukannya yang hangat. "Hae, maaf aku terlambat. Aku di sini."
Dalam dekapan erat itu, Donghae menangis sejadi-jadinya. Tangisannya bukan hanya karena sang ayah, tetapi juga karena rasa bersalah dan cinta sepihak yang semakin menyiksanya. Ia menghirup aroma tubuh Eunhyuk, menikmati pelukan yang ia tahu tidak akan pernah bisa ia miliki seutuhnya. Di saat yang sama, ponsel Eunhyuk di atas meja bergetar, menampilkan nama kekasihnya. Donghae memejamkan mata erat-erat, sadar bahwa ia harus puas hanya menjadi sahabat nomor satu di hidup Eunhyuk.
Air Mata di Balik Cahaya Debut
Saat pengumuman line-up final grup Super Junior, nama Donghae dan Eunhyuk dipanggil bersamaan. Semua trainee bersorak, dan Eunhyuk langsung memeluk Donghae dengan sangat erat, melompat-lompat kegirangan.
"Kita berhasil, Hae! Kita debut bersama!" seru Eunhyuk gembira.
Malam sebelum panggung debut, mereka berdiri di atap gedung agensi. Eunhyuk bercerita dengan antusias tentang masa depan mereka, dan bagaimana Sun-hee berjanji akan menonton di barisan paling depan. Eunhyuk kemudian merangkul pundak Donghae. "Aku tidak akan bisa sampai di titik ini tanpa kamu, Hae. Kamu sahabat terbaikku selamanya."
Donghae menatap profil samping wajah Eunhyuk di bawah sinar bulan. Kata 'sahabat' terasa seperti belati yang menusuk hatinya, namun Donghae tersenyum tulus. Ia tahu, cintanya mungkin akan tetap menjadi rahasia selamanya. Namun melihat Eunhyuk bahagia dan bisa berdiri di panggung yang sama dengannya, itu sudah cukup untuk saat ini.
Esoknya, di bawah kilatan lampu panggung debut, Donghae bernyanyi dengan seluruh perasaannya. Sebuah lagu tentang cinta yang megah, yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk pria di sebelahnya, yang tak akan pernah tahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
perjalanan
Romanceperjuangan Donghae mendapatkan Eunhyuk,hingga mendirikan perusahaan sendiri demi bisa mengikat Eunhyuk #haehyuk#donghae#eunhyuk
