DISCLAIMER
Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, dan kejadian di dalamnya merupakan hasil imajinasi penulis. Visualisasi idol hanya digunakan sebagai referensi karakter dan tidak berkaitan dengan kehidupan nyata mereka.
Dilarang keras melakukan plagiarisme tanpa izin penulis.
Selamat membaca! ♡
.
.
.
.
.
Terik matahari tak menghalangi warga pesisir mencari nafkah. Deburan ombak menyertai para pekerja yang menyusuri pantai, membungkuk untuk mencari kerang di antara pasir dan bebatuan.
Di pelabuhan, sebuah kapal besar perlahan merapat. Jovan berdiri di geladak, memandang garis pantai yang mulai terlihat jelas. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang pernah begitu akrab baginya. Sepuluh tahun.
Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di desa itu.
"Van, lo bengong aja dari tadi," tegur temannya.
"Ayo, barang-barangnya diturunin."
Jovan mengangguk. Ia mengambil tasnya, lalu mengikuti rombongan menuju dermaga.
Kali ini, ia datang bukan sebagai mahasiswa yang menjalani Kuliah Kerja Nyata.
Ia datang bersama rombongan volunteer untuk kegiatan sosial yang diselenggarakan perusahaannya. Ada pembagian bantuan untuk warga, pemeriksaan kesehatan, dan beberapa kegiatan perbaikan fasilitas desa.
Kehidupannya telah berubah jauh sejak terakhir kali ia datang.
Ia sudah menikah. Memiliki pekerjaan tetap, rumah yang nyaman, dan seorang istri yang menunggunya pulang.
Tidak ada alasan baginya untuk merasa gelisah.
Sampai ia melihat seorang perempuan di dekat meja pembagian bantuan.
Perempuan itu berdiri dengan salah satu kaki yang tampak kaku. Ia mengenakan pakaian sederhana, rambut hitamnya diikat ke belakang. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.
Jovan hanya melirik sekilas sebelum kembali memperhatikan petugas.Namun, ketika perempuan itu menoleh, langkahnya terhenti.
Zahira.
Nama itu seolah muncul begitu saja di dalam kepalanya.
Perempuan yang pernah ia kenal sepuluh tahun lalu kini berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya telah berubah, tampak lebih kurus dan lelah. Tetapi Jovan masih mengenali matanya. Mata yang dulu selalu menatapnya dengan harapan.
"Bu, ini bantuannya," ujar petugas. Zahira mengangguk, menerima paket yang diserahkan kepadanya.
"Terima kasih." Anak laki-laki di sampingnya membantu memegang paket itu.
"Pegang yang kuat, Nak," ucap Zahira.
"Iya, Bu."
Jovan menatap anak itu.Ada sesuatu pada wajahnya yang terasa begitu akrab. Bentuk matanya, garis hidungnya, bahkan cara ia mengerutkan dahi ketika berusaha mengangkat paket.
Jovan menelan ludah. Perempuan itu kemudian menoleh. Pandangan mereka bertemu.
Zahira terdiam.
Jovan pun begitu. Seolah-olah waktu yang telah berlalu mendadak menyusut, menyisakan dua orang yang pernah saling mengenal, tetapi tak pernah benar-benar menjalani hidup bersama.
"Zahira?" panggil Jovan.
Perempuan itu menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.
"Jovan." Hanya satu nama. Tidak ada pelukan. Tidak ada tangis. Tidak ada pertanyaan tentang ke mana ia pergi selama ini. Jovan melangkah mendekat.
