Jam istirahat selalu punya cara sendiri untuk membuat waktu terasa lebih cepat.
Suara sendok beradu dengan kotak makan, obrolan dari meja sebelah, dan sesekali tawa beberapa orang memenuhi ruangan. Aku duduk sambil memainkan ponsel, sesekali membuka media sosial tanpa benar-benar memperhatikan apa yang muncul di layar.
Di depanku, Rena sedang sibuk menghabiskan makan siangnya.
"Libur nanti lo mau ke mana?" tanyanya tiba-tiba.
Aku mengangkat kepala.
"Libur apaan?"
"Ya libur lah. Masa nggak tahu?"
Aku terkekeh kecil. "Belum tahu. Kayaknya di rumah aja."
"Serius?"
"Iya."
Rena meletakkan sendoknya, lalu menatapku seolah jawaban yang baru saja keluar dari mulutku adalah sesuatu yang sangat mengecewakan.
"Main kek. Jalan sama pacar."
Aku langsung tertawa.
"Pacar dari mana?"
"Oh iya, lupa. Lo sekarang nggak punya."
"Terima kasih sudah mengingatkan."
"Ya makanya cari."
Aku hanya menggeleng sambil kembali melihat ponsel.
"Udah males."
"Males apanya?"
"Males deketin orang. Ribet."
Rena diam sebentar. Tatapannya berubah seperti seseorang yang baru saja menemukan sebuah ide.
"Kalau Elvan gimana?"
Jempolku berhenti bergerak.
"Elvan?"
"Iya."
Aku menatap Rena dengan dahi sedikit berkerut.
"Bukannya dia punya pacar?"
"Udah putus."
"Hah?"
"Udah putus, katanya."
Aku menghela napas kecil. Entah kenapa, nama itu terasa asing sekaligus tidak asing. Aku tahu siapa Elvan. Setidaknya, aku pernah mendengar namanya beberapa kali.
"Terus?"
"Ya deketin."
"Ngapain?"
"Siapa tahu cocok."
Aku terkekeh pelan.
"Lo gampang banget ngomongnya."
"Emang susah?"
"Ya iya."
Rena kembali mengambil makanannya.
"Dia juga kerja di PT yang bonafit, loh."
Aku menatapnya datar.
"Terus hubungannya sama gue apa?"
"Ya nggak ada. Cuma informasi."
Aku tertawa kecil.
"Gue nggak punya energi buat beginian, Ren."
"Coba dulu."
"Enggak."
"Kenapa?"
Aku mengangkat bahu.
"Gue lagi nyaman sendiri."
Rena mendengus pelan, seperti tidak percaya dengan jawabanku.
"Alasan."
"Bukan alasan."
"Yaudah. Terserah."
Aku kembali memainkan ponsel. Obrolan itu seharusnya selesai sampai di sana. Setidaknya, begitulah yang kupikirkan. Sampai beberapa menit kemudian Rena kembali membuka suara.
"Eh, ngomong-ngomong, jadi kondangan bareng nggak?"
Aku mengernyit.
"Kondangan siapa?"
"Temen kita yang nikah itu, astaga."
"Oh iya."
"Gimana?"
Aku berpikir sebentar. "Gue paling sama abang gue."
"Raka?"
"Iya."
"Berangkatnya bareng?"
"Iya, mungkin."
"Jam berapa?"
"Kayaknya siang sama dia. Kalau nggak ya paling malam." Rena mengangguk-angguk kecil.
"Kirain bareng gue."
"Kalau gue sama Raka, lo sama siapa?"
"Belum tahu."
Aku tersenyum tipis.
"Yaudah, nanti aja."
Rena kembali melanjutkan makanannya. Aku pun kembali menatap layar ponsel, sama sekali tidak memikirkan percakapan kami beberapa menit terakhir. Tentang liburan. Tentang kondangan. Tentang seorang laki-laki bernama Elvan.
Saat itu, semuanya terdengar begitu biasa.
Aku tidak tahu bahwa satu nama yang hampir kulewatkan begitu saja dalam percakapan makan siang itu...
akan menjadi awal dari cerita yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
YOU ARE READING
Over before it strated
Non-FictionAda seseorang yang datang dengan begitu sederhana, lalu perlahan menjadi bagian dari banyak hal yang kuanggap istimewa. Sampai suatu hari, aku dihadapkan pada pilihan, tetap bertahan pada seseorang yang kucintai, atau menyelamatkan hati yang tersisa.
