Sore itu, Nolia dan Giovanno duduk berdampingan di sofa ruang keluarga. Cahaya matahari perlahan menyusup melalui celah jendela, jatuh di atas lantai dan memantul pada beberapa sudut ruangan yang selama bertahun-tahun hanya mereka bayangkan dalam kepala.
Mereka memandangi sekeliling.
Ruang yang dulu hanya berupa angan-angan, kini benar-benar menjadi tempat mereka pulang.
Setiap sudutnya menyimpan cerita. Sofa yang mereka pilih setelah berhari-hari mencari, meja kecil yang sempat mereka perdebatkan, hingga beberapa furnitur yang bahkan sudah mereka rancang sejak bertahun-tahun lalu. Tidak ada yang datang dengan mudah. Semua membutuhkan waktu, tenaga, kesabaran, dan tentu saja, banyak pengorbanan.
Nolia tersenyum kecil.
Sulit rasanya membayangkan bahwa dulu mereka hanya dua orang yang berani bermimpi terlalu jauh. Mereka pernah berbicara tentang rumah seperti ini, tentang kehidupan yang ingin mereka bangun, tentang hari ketika mereka akhirnya bisa duduk bersama dan berkata, "Ternyata kita berhasil sampai di sini."
Namun perjalanan menuju tempat ini tidak selalu indah.
Ada hari-hari ketika semuanya terasa begitu berat. Ada rencana yang gagal, keadaan yang tidak sesuai harapan, pertengkaran yang membuat mereka hampir menyerah, dan masa-masa ketika masa depan terasa terlalu jauh untuk digapai.
Bahkan, pernah ada saat ketika mereka tidak yakin apakah mereka benar-benar akan sampai di titik ini.
Tapi sore itu, keraguan-keraguan tersebut terasa seperti bagian dari masa lalu.
Nolia, perempuan berusia dua puluh tujuh tahun, mengusap perlahan perutnya yang mulai membesar. Anak pertama mereka sedang tumbuh di sana-sebuah kehidupan kecil yang menjadi bagian baru dari perjalanan panjang mereka.
Di sampingnya, Giovanno Mahendra menyeruput kopi yang dibuat Nolia sore itu. Sesekali keduanya saling bertukar pandang, kemudian tertawa kecil saat mengingat berbagai kejadian yang pernah mereka lewati bersama.
Mereka bernostalgia tentang masa-masa sulit.
Tentang bagaimana mereka pernah memulai semuanya dari hampir tidak memiliki apa-apa. Tentang mimpi-mimpi yang dulu terdengar terlalu besar. Tentang langkah-langkah kecil yang mereka ambil satu per satu sampai akhirnya membawa mereka ke ruangan ini.
Nolia kembali menatap sekeliling.
Ternyata, semua yang mereka miliki hari ini bukan sekadar rumah, furnitur, atau kehidupan yang terlihat sempurna dari luar.
Ini adalah kumpulan dari hari-hari yang pernah membuat mereka ingin menyerah, air mata yang pernah jatuh, tawa yang pernah memenuhi perjalanan mereka, dan keputusan untuk tetap berjalan meski berkali-kali tidak tahu akan berakhir di mana.
Masa lalu mereka memang tidak mudah.
Namun mungkin, justru karena itulah sore ini terasa begitu berharga.
Nolia dan Gio akhirnya menyadari satu hal-
mimpi yang dulu hanya mereka susun dalam percakapan sederhana, perlahan telah berubah menjadi kehidupan yang benar-benar mereka jalani.
Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi hanya membayangkan tentang "nanti".
Karena ternyata, nanti itu adalah hari ini.
YOU ARE READING
IF WE NEVER MAKE IT THERE
Romancehgdghgcvgvvvvggg "Kenapa sih, Pah? Harus Abang? Ada Kakak, loh. Dia anak sulung. Pindahin aja kuliahnya ke Bandung, Pah, bukan Abang!" Papahnya yang sejak tadi berusaha menahan emosi akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu Gio sedang marah, tetapi...
