Lukis menatap papan pengumuman yang terpampang di hadapannya dengan raut sulit diartikan.
Lukis tahu dia telah melakukan yang terbaik untuk semester kemarin, bukti itu terpampang jelas dalam bentuk cetak. Dia tidak sedang gagal, namanya tercetak di sebelah kotak berisikan nomor satu.
Yang menjadi masalah adalah ada yang tidak sama dari pengumuman itu.
Beasiswa secara penuh tidak lagi diberikan kepada mahasiswa yang menempati peringkat satu dan dua.
"Hah ...?" Lukis membuka mulutnya setelah beberapa waktu memutuskan untuk mematung.
Terjadi penyesuaian beasiswa di universitas Ranjaya akibat dari efisiensi pihak kampus.
Sebenarnya hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat sempat ada berita terkait penurunan dana pendidikan dari pemerintah di 2026. Namun sebagai mahasiswa yang sangat mengandalkan beasiswa, Lukis tidak menyangka hal tersebut berdampak padanya sekalipun peringkat satu masih tetap berada di genggamannya.
"Aman, Kis?" Dani yang berdiri di sebelah Lukis menepuk bahu Lukis.
Itu jelas hanya basa-basi. Tidak mungkin Lukis masih merasa aman di posisi tersebut.
"Mana mungkin aman, Dan. Mana ada aku uang buat bayar yang nggak di-cover beasiswa. Buat makan aja udah ngepas."
"Ini kalau aku buat surat yang isinya aku keberatan gitu ... bisa ga, ya?"
Bagas menggeleng. "Maaf ikut nimbrung, tapi untuk yang itu kayaknya nggak bisa, ya. Memang kondisi keuangan kampus lagi susah banget. Rumornya, pihak internal sempat berusaha mati-matian supaya nominal beasiswa tertinggi nggak dikurangi lebih dari 25%."
"Oh .... gitu. Terima kasih infonya, Kak." Lukis mengangguk canggung ke arah Bagas.
Lukis tidak akrab dengan Bagas, tetapi dia tahu dengan jelas kalau Bagas adalah mahasiswa yang sangat aktif dalam organisasi kampus. Koneksinya ada di mana-mana dan mendapat berita internal seperti itu merupakan suatu hal mudah baginya.
"Sama-sama. Kalau butuh info part time atau loker, aku ada beberapa yang masih open. Mau coba kah?"
Lukis menggeleng.
"Terima kasih tawarannya, Kak. Nanti kalau butuh, aku kontak ke kak Bagas, ya."
-
"Baik, saya tunggu minggu depan untuk hasil tugasnya. Sekian."
Pak Hendra mengucapkan salam penutup sebelum beliau mengambil langkah untuk keluar dari kelas.
Ini adalah kelas terakhir Lukis di hari Rabu. Hari yang seharusnya indah. Hari dengan dua kelas, dan bisa pulang tepat sebelum matahari terbenam bila sedang tidak ada tugas.
Hanya saja ... Rabu kali ini tidak terasa seperti itu.
Lukis tidak dapat fokus pada materi dan tugas hari ini. Pikirannya menolak untuk pergi dari papan pengumuman nilai yang mengungkapkan dirinya perlu membayar 25% uang kuliah.
Bagi sebagian orang, nilai 25% tentu saja tidak tinggi, bahkan mungkin mereka akan sangat bersyukur karena hanya perlu membayar persentase tersebut. Mereka mungkin akan dipuji dan dibanggakan oleh orang tua karena hal itu.
Namun tidak dengan Lukis. Dia tidak kaya. Mampu berkuliah seperti ini adalah suatu keajaiban yang terjadi padanya.
Lukis terlalu menikmati keajaiban itu sampai dia sempat lupa kalau keajaiban itu tidak memiliki jaminan ada untuknya selamanya. Sama seperti apa yang terjadi sekarang. Keajaiban itu tidak lagi sempurna dan dunia Lukis sudah terasa hampir runtuh.
"Eh, Kis, mukamu pucet banget." Dani menatap temannya itu.
"Kamu nggak mau coba tanya ke kak Bagas? Tadi kan dia bilang ada info loker, siapa tahu cocok dan bisa nambah-nambah buat bayar uang kuliah."
"Aku nggak yakin bisa ambil itu, Dan." Lukis menunduk lesu.
"Kenapa enggak? Seorang Lukis yang selalu dapet IPS bagus ya kali nggak bisa dapet kerjaan. Lagian kenapa coba tadi langsung nolak? Bukannya kamu bilang uang dari ortu nggak akan cukup kalau buat bayar uang kuliah?"
"Karena ...." Lukis menghela napas. "Aku masih belum yakin bisa ambil pekerjaan yang mengharuskanku ketemu banyak orang tiap hari."
14/09/2026
YOU ARE READING
LUNCERI: ketika kata tak terucap, ada bunga yang bercerita ✅
General Fiction"Gampang aja lah, cuma jualan bunga." Terpaksa bekerja untuk membayar kekurangan uang kuliah, Lukis mengambil keputusan untuk berjualan bunga. Awalnya, dia mengira semua akan berjalan mudah. Bunga adalah sesuatu yang cantik, semua orang pasti menyu...
