PROLOG
Dunia yang Tak Sama
Dunia yang tak sama dipaksa untuk berjalan beriringan.
Lalu pertanyaannya tinggal satu-
apakah itu takdir, atau sebuah kesalahan?
Katanya, setiap pertemuan memiliki alasan.
Ada seseorang yang datang untuk menetap, lalu perlahan menjadi rumah. Ada yang hadir hanya untuk meninggalkan kenangan, sebelum mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Dan ada pula mereka yang dipertemukan oleh sesuatu yang tak pernah benar-benar dapat dijelaskan, hanya untuk kemudian dipisahkan oleh keadaan yang tak mampu mereka lawan.
Namun, bagaimana jika dua manusia yang seharusnya berjalan di jalan masing-masing justru dipertemukan oleh sebuah benang merah?
Benang yang tak terlihat.
Tak dapat disentuh.
Tak dapat ditarik untuk mengetahui ke mana ujungnya.
Tak dapat dipotong hanya karena manusia menganggap pertemuan itu seharusnya tidak pernah terjadi.
Tak seorang pun tahu kapan benang itu mulai mengikat dua kehidupan.
Mungkin sejak sebuah tatapan pertama.
Mungkin sejak langkah yang tanpa sengaja membawa mereka ke tempat yang sama.
Atau mungkin jauh sebelum keduanya mengenal nama satu sama lain-ketika hidup masih berjalan seperti biasa dan tak seorang pun menyadari bahwa takdir sedang perlahan mendekatkan dua jalan yang seharusnya tidak pernah bersinggungan.
Blue dan Charlotte berasal dari dunia yang berbeda.
Berbeda cara memandang kehidupan.
Berbeda cara memahami cinta.
Berbeda luka yang mereka bawa.
Bahkan berbeda jalan yang sejak awal seharusnya mereka tempuh.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Ia mempertemukan mereka bukan ketika keduanya telah siap.
Bukan ketika keadaan mengizinkan.
Melainkan pada saat pertemuan itu justru menjadi awal dari perubahan yang tidak mungkin mereka hentikan.
Pada awalnya, mereka percaya bahwa perasaan adalah sesuatu yang dapat dikendalikan.
Bahwa cinta bisa dipilih.
Bahwa selama seseorang cukup kuat untuk bertahan, cukup berani untuk melawan, dan cukup tulus untuk mencintai, maka akhir cerita dapat ditentukan oleh mereka sendiri.
Mereka salah.
Karena manusia hanya mampu berusaha.
Tidak lebih.
Ada begitu banyak hal dalam hidup yang dapat diperjuangkan, tetapi tidak semuanya dapat dimenangkan.
Dan ada hal-hal yang bahkan cinta paling besar sekalipun tidak mampu lawan.
Blue memahami itu lebih cepat daripada yang ia inginkan.
Ia tahu bagaimana caranya menyelamatkan seseorang.
Tangannya telah terbiasa menghadapi luka, menahan darah, memperbaiki sesuatu yang rusak, dan berusaha mempertahankan kehidupan ketika tubuh seseorang mulai menyerah.
Ia tahu cara menyembuhkan.
Ia tahu cara bertahan.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa ia pelajari-
bagaimana menyelamatkan seseorang dari takdirnya sendiri.
Karena itu, di antara keinginannya untuk mempertahankan dan ketakutannya akan kehilangan, Blue pernah berkata,
YOU ARE READING
red thread
Non-FictionCerita fiksi tentang sebuah benang merah antara dua insan manusia yang berbeda cara pandang tentang dunia dan dipertemukan untuk mengisi hidup masing-masing.
