Trauma

170 8 4
                                        

Waktu berputar kembali ke tahun 90an akhir, dimana terjadi krisis ekonomi yang membawa keluarga papa ku yang masih keturunan Tionghoa terpaksa harus mengungsi ke daerah yang cukup pelosok. Jauh dari hiruk pikuk kota.

Beberapa toko di jarah dan dibakar, dimana salah satunya merupakan toko dari kakek ku. Kondisi yang membuat banyak orang keturunan yang lumayan berada pindah ke luar negeri, namun bagi keluarga ku yang harta bendanya sudah habis terpaksa bertahan dan tinggal menetap. Dengan pilihan untuk mengungsi ke sebuah daerah yang sama sekali baru, asing, dan memulai semua dari awal lagi.

Setidaknya begitulah cerita dari nenek ku.

Aku terlahir dari keluarga yang jauh dari kata berkecukupan, tinggal di sebuah daerah yang dimana mulai ramai dipenuhi tanaman sawit.

Sejauh ingatan yang masih bisa aku kenang adalah, hari - hari dimana asap merupakan pemandangan yang umum kami jumpai di daerah ini.

Aku Surya, Suryadi Hartanto. Lahir sekitar 22 tahun lalu. Anak bungsu dari 4 bersaudara.

Papa ku keturunan Tionghoa, sedangkan ibu orang Melayu asli. Mereka bertemu ketika keluarga kakek ku pindah ke tempat ini, dan menetap menjadi petani.

Kakak ku yang paling tua saat ini sudah berkeluarga, Ani namanya. Sejak menikah sudah sangat jarang pulang kerumah. Mungkin hanya lebaran yang menjadi momen aku bertemu dengannya.

Kakak kedua ku Mona saat ini bekerja di ibu kota negara. Momen yang nyaris sama jika ingin berjumpa.

Kakak ketiga ku, Asih. Saat ini sudah menikah juga. Keluarga kecilnya masih sangat muda, menikah di tahun lalu dengan seorang mandor panen di perusahaan dekat tempat tinggal ku.

Aku adalah satu - satunya anak laki - laki di keluarga ku. Aku dibesarkan dengan penuh cinta di keluarga ku, khususnya oleh perhatian kedua orang tua ku serta nenek ku itu.

Nenek merupakan sosok yang lebih banyak ku habiskan masa tumbuh kembang ku, karena papa jadi sering keluar masuk hutan untuk bekerja. Membuka lahan dan berpindah - pindah. Karena pekerjaan beliau yang awalnya hanya tukang potong kayu, berkembang menjadi pemborong. Jadi, aku dan ketiga kakak ku lebih sering di titipkan pada nenek.

Nenek suka bercerita, membacakan buku dan bernyanyi sebagai pengantar tidur ku. Aku merasa sangat disayang oleh beliau. Dan hal terbaik yang aku ingat adalah aku suka mendengarkan cerita dari nenek ku itu, kisah - kisah masalalu yang seolah seperti sinetron yang berputar. Namun, aku sendiri tidak pernah bisa bercerita. Karena aku mempunyai sebuah kisah yang terasa aib dan memalukan. Sebuah kisah yang tidak pernah aku ceritakan kepada orang lain ataupun keluarga ku.
........................................................................
Kisah ku yang hidup normal sebagai sosok anak kampung berubah di suatu sore menjelang maghrib. Karena wajah ku yang lumayan berbeda dengan yang lain aku sering menjadi objek perundungan atau bully. Bahkan seolah aku hidup saja merupakan sebuah kesalahan.

"Woi cina, mau kemana kau?" Kalimat yang terdengar sakit di telinga ku, namun nenek sering berkata bahwa abaikan saja.

Aku mencoba untuk mengabaikan segerombolan orang yang sedang berkumpul di sebuah pondok, tercium aroma minuman yang sangat menyengat hidung. Berusaha untuk segera pulang karena hari sudah semakin gelap.

Seseorang berjalan menghampiri. Dan menepuk pundak ku.
"Woi. Kalau dipanggil itu jawab. Kau bisu ya?" Ucapnya sambil mencengkram erat bahu ku.

"Ampun bang, aku mau pulang bang" Ucap ku gemetar.

Aku takut melihat mereka yang sudah beranjak dewasa pada saat itu, beberapa bahkan sudah tamat sekolah. Sedangkan aku masih berusia 12 tahun. Seolah sangat tidak mungkin menang jika melawan mereka.

The Silent StoryStories to obsess over. Discover now