Senin pagi selalu sama.
Suara sepatu beradu dengan lantai koridor, suara anak-anak yang masih sibuk cerita soal akhir pekan, beberapa guru yang mulai masuk kelas, dan suara bel yang sebentar lagi berbunyi. Beberapa siswa masih berlari kecil karena takut terlambat, sementara yang lain santai berjalan sambil membawa buku dan bercanda dengan teman-temannya.
Di antara keramaian itu, satu nama terdengar lebih sering dari yang lain.
“Byan!”
“Yan, sini!”
“Byan, nanti futsal jadi, kan?”
Byan cuma mengangkat tangan sekilas tanpa benar-benar berhenti. Tasnya disampirkan di satu bahu, langkahnya tetap santai menuju kelas XII Bahasa 3.
Sudah biasa.
Orang-orang mengenalnya. Teman-temannya ada di mana-mana. Hampir setiap kali dia lewat, selalu ada saja yang menyapa, memanggil namanya, atau sekadar memperhatikan.
Bian tidak pernah terlalu memikirkan itu.
Buat Byan, semua perhatian tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya di sekolah. Dia tidak perlu berusaha untuk terlihat. Entah bagaimana, orang-orang selalu menemukannya lebih dulu.
Sampai hari itu.
Hari ketika untuk pertama kalinya dia bertemu seseorang yang justru sibuk menundukkan kepala agar tidak diperhatikan siapa pun.
Seorang gadis dengan beberapa buku di tangan.
Namanya Aya.
Dan saat itu, Byan bahkan belum tahu kalau pertemuan singkat di depan sebuah kelas tersebut akan menjadi awal dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia rencanakan.
Sesuatu yang perlahan membuatnya keluar dari sorotan yang selama ini selalu mengikutinya.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
OUT OF THE SPOTLIGHT
RomantikByantara Purnama Lim terbiasa menjadi pusat perhatian. Anak kelas dua belas, pemain inti tim sepak bola, berasal dari keluarga berada, ganteng, berani, dan punya aura yang membuat hampir semua orang mengenalnya. Banyak yang suka Byan. Tapi Byan cuma...
