SEOUL, SOUTH KOREA, 20 MEI 2026
"Anka gitu banget ih, nyebelin! Pokoknya aku ngambek," seru Havi merengek mengerucutkan bibirnya.
"Ih, itu bibir kenapa dimaju-majuin? Masih 4 hari lagi loh, baru kita sah," goda Anka membuat Havi semakin kesal.
"Kalau gitu, batalin aja pernikahannya," ujar Havi asal, namun mampu membuat Anka menegang saat mendengar kalimat seperti itu.
"Kamu pikir pernikahan itu main-main? Terserah deh, aku capek ngeladenin kamu yang suka ngambekan."
Havi tersentak kaget mendengar ucapan Anka, padahal ucapannya tadi hanya asal, tapi Anka justru menanggapinya serius.
"Maafin aku, ya? Aku tadi cuma bercanda kok, nggak niat buat batalin pernikahan ini, habisnya kamu ngeselin sih," ujar Havi pelan menahan rasa takut di dalam dirinya.
Anka menghela nafasnya kasar. "Sebelum kita mutusin buat bina rumah tangga, lebih baik dipikirin dulu deh, entar kamunya nyesel lagi. Pernikahan ini bukan buat main-main," ujar Anka lembut namun tersirat tegas dalam menanggapi candaan Havi.
Havi menggeleng, "aku udah mikirin mateng-mateng buat nikah sama kamu. Please, maafin aku, ya?".
"Kita intropeksi diri dulu selama 24 jam, dalam waktu sehari itu kamu boleh ngebatalin pernikahan kita," jawab Anka lalu pergi keluar dari rumah Havi.
Air mata Havi tak terbendung lagi, ia tak akan mungkin membatalkan pernikahan yang sudah menjadi impian mereka selama 6 tahun yang lalu. Havi berniat mengejar Anka, namun suara petir menggelegar menghentikannya.
Dalam batin Havi berteriak, "Anka pasti takut dengan keadaan mencekam ini. Anka takut sama hujan!".
Havi segera mengambil payung dan keluar dari rumah. Tetesan-tetesan air hujan membuat penglihatan Havi sedikit mengabur, meskipun begitu Havi tetap kekeuh dan menajamkan penglihatannya kesana kemari.
Havi yang kehilangan jejak Anka, hanya bisa terduduk di tengah jalanan sambil meringkuk melindungi dirinya sendiri. "Kalau Anka sedang ketakutan dalam kehujanan, maka aku juga harus kehujanan," tekad Havi dalam hati.
Havi merasakan tubuhnya perlahan tidak terkena tetesan air hujan. Havi mendongakkan kepalanya melihat siapa orang baik yang memayungi dirinya. Mata Havi membulat tak percaya melihat Anka dihadapannya sambil tersenyum getir, meskipun begitu Havi dapat melihat jelas ketakutan yang terselubung dalam bola mata tajam Anka.
"An-Anka, kamu ngapain?!" Tanya Havi keras bersamaan dengan derasnya suara hujan yang turun.
"Melindungi kamu seperti kamu yang selalu melindungi aku saat hujan tiba," ujar Anka lirih.
Havi buru-buru berdiri dan memeluk Anka, berusaha menyalurkan kekuatan dalam pelukan cintanya.
"Aku harap setiap hujan, kita bisa memeluk seperti ini sampai maut memisahkan. Maafin aku, aku gak mau batalin pernikahan kita. Aku cinta sama kamu," ujar Havi mengeratkan pelukannya pada Anka.
" Aku cinta sama kamu, cinta banget malah. Mungkin seiringnya jalannya waktu, ketakutan ku sama hujan udah berkurang. Mungkin sekarang aku malah mengidap Thantophobia, aku takut kehilangan kamu," balas Anka dengan senyum tulusnya.
"Dasar. Suka banget gombalin aku. Mending sekarang kita pulang terus ganti baju deh," ajak Havi. "Ya udah, yuk."
Anka dan Havi pulang dengan bergandengan tangan, tautan genggaman mereka berdua tidak terlepas walaupun akhirnya sudah sampai di rumah. Memang jarak tempat mereka berdua main hujan-hujanan tidak jauh dari rumah Havi. Kini, Havi sedang menyiapkan pakaian untuk Anka. Dari arah belakang tiba-tiba Anka memeluknya sambil menenggelamkan kepalanya di lekukan lehernya. "Aku harap, kamu bisa menyiapkan baju untuk aku nanti dan selamanya," ujar Anka lembut yang membuat Havi tersenyum tenang.
✨✨
"Gue gak mau tau, pokoknya lo harus dateng!" Ancam Havi pada Jazel yang kini sudah berada di tempat Cafe yang jauh dari jarak rumah mereka berdua. Katanya sih sekalian refreshing untuk otak. Havi mengerucutkan bibirnya mendengar alasan-alasan Jazel yang tak ada habisnya jika disuruh menghadiri pernikahannya nanti.
"Pokoknya gue gak mau tau, inget ya! Oh iya, jangan lupa ajak korban-korban gue deh ya, biar mereka tau kalau dulu Havi si tukang bully mau kawin," pesan Havi pada Jazel.
Jazel menggerutu mendengar pesan pengingat untuknya. "Korban bully-an lo udah gak bisa dihitung lagi, Vi. Lo dengan gampangnya nyuruh gue ngundang pernikahan mereka ke pernikahan lo. Bangkrut pulsa gue nanti! Lagian lo yang nikah malah kenapa gue yang harus ribet?".
"Lo temen gue apa bukan sih? Temen lo udah mau kawin, Zel! Udah sewajibnya gue tobat, gak boleh deh nge-bully anak orang mulu, amit-amit entar anak gue di bully." Havi bergidik ngeri membayangkan karmanya harus ditanggung oleh darah dagingnya sendiri.
Jazel memutar bola matanya malas. "Eh tukang bully, lo cowok ya, jadi mana bisa hamil, bego!"
"Kalau gue bisa hamil, lo harus beliin gue motor pengeluaran terbaru, gimana?"
"Enak aja lo! Dikira gue cabang duit apa," omel Jazel.
"Dulu aja ada tuh tahun 2007 cowok hamil," sahut Havi.
"Siapa?" tanya Jazel penasaran.
Havi mengedikkan bahunya, "gak tau, lupa."
"Oalah asu."
"Btw, tapi enak sih kalau nikahnya sama musuh bebuyutan kita sendiri," goda Jazel mengingat awal kisah cinta Havi yang sedikit rumit baginya.
"Ih Zel apaan sih? Lagian yang namanya jodoh gak ada yang tau," sahut Havi.
"Lo sih dulunya sok-sokan bilang gak bakal jatuh cinta sama Anka. Taunya apa? Kemakan omongan sendirikan lo? Enakkan?" tanya Jazel disela tawa mengejeknya pada Havi.
"Gue harus banyak berterima kasih sama hujan, karena setiap hujan tersirat banyak kenangan gue sama Anka," jawab Havi yang tengah menerawang masa-masa dimana awal bertemunya bersama Anka.
"Ya udah deh ya, Zel. Pokoknya lusa gue harus lihat batang hidung lo. Lo gak pengen apa lihat sahabat lo bahagia bersanding di pelaminan bersama pujaan hatinya?" tanya Havi.
"Iya, iya, entar gue usahain datang. Sekarang kita habisin makanan ini terus pergi ke tempat lain."
Havi menganggukkan kepalanya dan melanjutkan aktivitas bersenang-senangnya bersama Jazel, sebelum nantinya kehidupannya akan berubah setelah sah menjadi pasangan hidup untuk Anka.
YOU ARE READING
LOVE LINE (nohyuck)
Romance"Cowok nyebelin kayak lo ternyata mengidap OMBROPHOBIA, ya? Bisa turun deh pamor lo kalau satu sekolahan tau," ujar Havi sambil tertawa mengejek meninggalkan Anka dalam keadaan meringkuk kedinginan di tengah derasnya hujan. Setelah Havi melangkah pe...
