Prolog

2 0 0
                                        

Between Love & Us

Senja selalu percaya bahwa pernikahan akan terasa berbeda setelah dijalani.

Bukan seperti di film. Bukan juga seperti cerita yang sering orang ceritakan tentang dua orang yang akhirnya hidup bahagia setelah menikah.

Ternyata, pernikahan lebih sederhana dari itu.

Ada bangun kesiangan karena semalam terlalu banyak ngobrol. Ada rebutan kamar mandi. Ada makanan yang lupa dimasukkan ke kulkas. Ada tagihan yang tiba-tiba datang bersamaan.

Dan, tentu saja, ada Senandika.

"Senja."

Suara itu terdengar dari ruang makan.

Senja yang sedang berdiri di depan lemari langsung menoleh.

"Apa?"

"Ini punya kamu?"

Sena mengangkat sebuah kaus dari kursi.

Senja menyipitkan mata.

"Punya kamu kali."

"Warnanya pink."

"Terus?"

Sena melihat kaus itu sekali lagi, lalu menatap istrinya.

"Kenapa baju aku bisa ada di rumah ini kalau bukan punya aku?"

Senja terdiam dua detik.

"Karena kamu suami aku?"

"Logikanya dari mana?"

"Ya dari pernikahan kita."

Sena tertawa kecil.

"Aku nyesel nanya."

Senja ikut tertawa sebelum kembali mengambil barang-barangnya.

Begitulah kehidupan mereka.

Tidak selalu romantis. Kadang malah lebih banyak debat nggak pentingnya.

Tapi justru itu yang membuat Senja menyukai kehidupan kecil mereka.

Rumah yang tidak terlalu besar.

Dua cangkir yang selalu diletakkan berdampingan di meja makan.

Sepasang sandal yang sering tertukar.

Dan satu orang yang hampir selalu berhasil membuat hari biasa terasa sedikit lebih menyenangkan.

Sena.

Laki-laki yang dulu hanya ia kenal sebagai seseorang yang menyebalkan.

Sekarang menjadi seseorang yang paling sering ia cari ketika pulang.

"Senja."

"Iya?"

"Kalau nanti kita punya anak..."

Senja berhenti bergerak.

Sena masih sibuk merapikan kemejanya.

"Kenapa?"

"Aku mau anak perempuan."

Senja mengangkat alis.

"Kenapa langsung anak perempuan?"

"Boleh dong berencana."

"Boleh."

Sena tersenyum.

"Kalau anaknya perempuan, aku mau jadi Daddy paling keren."

Senja tertawa kecil.

"Percaya diri banget."

"Harus."

"Terus kalau anaknya laki-laki?"

Sena berpikir sebentar.

"Ya tetap aku sayang."

Senja mengangguk puas.

"Nah, gitu."

"Tapi kalau perempuan..."

Sena berhenti sebentar, lalu menatap Senja.

"Aku mau punya dua perempuan di rumah yang bisa aku sayangin."

Senja langsung memutar mata.

"Gombal."

"Fakta."

Sena mengambil kunci mobil di atas meja.

"Aku berangkat dulu."

Senja mengangguk.

"Hati-hati."

Sena baru berjalan beberapa langkah sebelum berbalik.

"Oh iya."

"Apa lagi?"

"Jangan lupa makan siang."

Senja tersenyum.

"Iya, Daddy."

Sena tertawa.

"Jangan panggil aku begitu."

"Katanya mau jadi Daddy paling keren?"

"Itu kalau nanti punya anak."

"Yaudah. Berarti belum keren."

Sena menggeleng sambil tersenyum.

"Dasar."

Pintu rumah akhirnya tertutup.

Senja masih berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja dilewati Sena.

Entah kenapa, percakapan sederhana tadi membuatnya tersenyum sendiri.

Mungkin begitulah rasanya membangun kehidupan bersama seseorang.

Tidak selalu tentang hal-hal besar.

Kadang hanya tentang kaus yang salah ambil, rencana kecil soal anak, dan seseorang yang mengingatkan untuk makan siang.

Mereka belum tahu seperti apa hari-hari yang akan datang.

Belum tahu akan ada banyak hal yang harus mereka lewati bersama.

Untuk sekarang, mereka hanya tahu satu hal:

mereka sedang membangun rumah yang mereka sebut sebagai tempat pulang.

Dan bagi Senja, selama ada Sena di dalamnya, rasanya rumah itu sudah cukup.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 09 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BETWEEN LOVE & USStories to obsess over. Discover now