Tara dan Elena telah bersahabat sejak masa kuliah.
Mereka hampir selalu bersama. Makan bersama, pergi berlibur bersama, bahkan saling menjadi tempat pulang ketika menghadapi masalah.
Beberapa menyebut mereka sebagai "Sibling Goals".
Elena dua tahun lebih muda darinya. Mereka sudah melewati begitu banyak hal bersama-tertawa sampai sakit perut, bertengkar karena hal sepele, saling menghibur ketika sedang sedih, bahkan saling menjadi tempat pulang ketika dunia terasa terlalu berat.
Bagi Elena, Tara adalah sahabat terbaiknya.
Namun bagi Tara, Elena adalah seseorang yang diam-diam ingin ia miliki lebih dari sekadar sahabat.
Tara sudah menyimpan rahasia itu selama bertahun-tahun.
Ia mencintai Elena.
Bukan sekadar menyayangi sahabatnya.
Bukan pula sekadar rasa nyaman yang biasa muncul di antara dua orang yang sudah lama bersama.
Tara benar-benar jatuh cinta.
Sayangnya, Tara tidak pernah berani mengatakannya.
Ia takut satu pengakuan akan menghancurkan semuanya.
Malam itu, Tara menginap di rumah Elena.
Mereka duduk di kamar Elena sambil mengenakan pakaian rumahan. Beberapa makanan ringan dan minuman berada di antara mereka.
Elena sedang sibuk dengan ponselnya.
"Kakakku Luna ulang tahun. Kita ikut video call, ya."
Tara mengangguk.
"Ya."
Beberapa saat kemudian, layar ponsel Elena dipenuhi wajah kedua kakaknya.
"Selamat ulang tahun, Kak Luna!" seru Elena.
Tara ikut tersenyum.
"Selamat ulang tahun juga, Kak."
"Eh, Tara!"
Kakak tertua Elena-Luna- langsung menyapanya.
"Kamu juga ada?"
"Iya, Kak. Lagi menginap."
"Jangan sering-sering, nanti benar-benar jadi keluarga."
Tara tertawa kecil.
Elena langsung menyela.
"Jangan didengerin, Tar. Kakakku memang suka asal ngomong."
Malam itu berlangsung hangat.
Sampai kakak kedua Elena Grace tiba-tiba memiliki ide.
"Daripada cuma ngobrol, kita main truth or dare!"
Semua langsung menyetujui.
Grace kemudian menunjuk Tara.
"Pertama, Tara."
Tara menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa aku?"
"Karena kamu paling gampang diganggu."
Semua tertawa.
Tara akhirnya menyerah.
"Ya sudah. Dare."
Kakak kedua Elena tersenyum lebar.
"Berani?"
"Berani."
Ia berpikir sebentar sebelum akhirnya berkata,
"Kalau begitu, kamu harus berperan sebagai sugar mommy-nya Elena."
