Angin malam di pelabuhan Sungai Xiangjiang membawa bau lumpur basah dan minyak mesin kapal yang menyengat. Changsha di awal musim gugur selalu menyimpan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang, tetapi di dalam ruang kerja kediaman Zhang Qishan, sang Panglima Komando Militer sekaligus Ketua Sembilan Keluarga (Jiumen) suasana terasa jauh lebih membekukan.
Zhang Rishan berdiri tegap di samping meja mahoni besar. Seragam militernya terpasang rapi, kancing-kancing kuningan berkilau tertimpa cahaya lampu gantung. Di depannya, Zhang Qishan-Fo Ye-sedang menyesap teh hitam yang sudah mendingin, matanya menatap tajam ke arah peta wilayah utara yang terbentang di meja.
"Misi ini tidak bisa diwakilkan oleh prajurit biasa, Rishan," suara Fo Ye berat, bergema pelan di ruangan yang hening. "Anomali di makam kuno wilayah Dongbei bukan sekadar perampokan makam biasa. Ada jejak cabang klan Zhang tua di sana. Jika pihak luar atau militer asing menyentuhnya lebih dulu, rahasia darah klan kita bisa terbongkar."
Rishan merapatkan tumit boots kulitnya, memberikan penghormatan militer yang sempurna. "Saya mengerti, Fo Ye. Saya akan berangkat malam ini juga melalui jalur kereta api utara."
Fo Ye mengangkat pandangannya, mengamati ajudan kepercayaannya itu. "Dongbei sedang bergejolak. Perjalanan ini mungkin memakan waktu berminggu-minggu, atau bahkan lebih lama. Selesaikan dengan bersih, lalu kembali ke Changsha."
"Siap, Fo Ye!"
Zhang Rishan memutar badannya dan melangkah keluar dari kediaman Fo Ye.
Namun, alih-alih langsung menuju stasiun kereta api tempat pasukan pengawalnya menunggu, langkah kaki Rishan justru membawanya menyusuri gang-gang sempit Kota Tua Changsha. Langkahnya teratur, ketukan boots-nya memantul di dinding-dinding batu bata tua yang lembap.
Tujuannya hanya satu sebuah bangunan kayu dua lantai bermenara kecil dengan lentera kertas merah yang tergantung agak miring di depan pintunya. Kediaman sekaligus toko barang antik milik Qi Tiezui, yang lebih dikenal seluruh penjuru Changsha sebagai Ba Ye, sang ahli ramal dari Sembilan Keluarga.
Tanpa mengetuk pintu, Rishan mendorong pintu kayu tua yang berderit nyaring.
Di dalam, ruangan itu berantakan seperti biasa. Gulungan kertas mantra bertumpuk di atas meja, buku-buku kuno bertebaran di lantai, dan bau dupa cendana bercampur dengan aroma minyak angin yang tajam. Di balik meja kerjanya, seorang pria dengan kacamata bulatl sedang mengaduk-aduk mangkuk proselen berisi obat herbal.
"Aiya! Siapa yang masuk tidak pakai salam-" Ba Ye mendongak, omelannya terhenti seketika saat melihat sosok jangkung berseragam militer berdiri di ambang pintu.
Ba Ye langsung membetulkan posisi kacamatanya yang miring dengan telunjuk, lalu mendengus pendek. "Ah, ternyata kamu, Wakil Perwira Zhang. Ada apa malam-malam begini datang ke tempatku? Mau minta diramal nasib perjodohan? Atau Fo Ye mengirimmu untuk menyuruhku memecahkan teka-teki benda aneh lagi?"
Rishan tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya untuk menghalau angin malam yang dingin, lalu berjalan mendekati meja Ba Ye. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang kacau sebelum tertuju pada pria di depannya.
"Ba Ye..," panggil Rishan dengan nada datarnya yang khas. "Saya datang untuk berpamitan."
Gerakan tangan Ba Ye yang sedang memegang sendok mendadak terhenti. Ia menatap Rishan dari balik lensa bulatnya, mengedipkan mata beberapa kali. "Berpamitan? Mau ke mana? Bukankah besok kau ada jadwal patroli rutin di sektor barat?"
"Saya mendapat tugas khusus dari Fo Ye. Saya harus meninggalkan Changsha malam ini menuju Dongbei," jawab Rishan pendek.
"Dongbei?!" Suara Ba Ye langsung melengking tinggi, kepalanya terteleng heran. Ia berdiri dari kursinya begitu cepat sampai-sampai jubah kain sutra abu-abunya tersangkut di sudut meja.
YOU ARE READING
Fly Towards On You
FanfictionSetelah selamat dari bahaya ekspedisi Pegunungan Pingding, Qi Tiezui (Ba Ye) terbaring di kediamannya akibat cedera tulang rusuk dan racun. Di saat Zhang Rishan-perwira senior yang menjadi pelindung Ba Ye sedang memiliki misi khusus untuk meninggalk...
