Bab 11 : Perkara Tabir Surya

0 0 0
                                        

Menjalani hari demi hari bekerja antara sawah dan kantornya dengan penuh semangat adalah rutinitas yang tak akan pernah membuat Quinn jemu. Ditemani sekotak coklat dari Jakarta yang kini ikut terpampang di meja tamunya. Quinn akui, coklat yang dibawa Rayn bukanlah merek kaleng-kaleng. Harganya pun membuat dirinya berpikir berulang kali jika ingin membelinya dalam jumlah yang banyak.

Namun hal seperti itu tentu tidak berlaku bagi Rayn yang merupakan direktur dari sebuah grup perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, dimulai dari hulu dan berakhir hingga ke hilir pada bidang agrobisnis yang memproduksi banyak produk makanan dan kebutuhan rumah tangga. Hal seperti membeli coklat mahal hingga enam lusin tentu saja hal yang mudah baginya. Ia yang merupakan generasi ketiga pendiri Grup Narpati sudah pasti memiliki kekayaan yang fantastis. Jika dibandingkan dengan aset keluarga Quinn, maka tentu bukan bandingannya.

Hari ini Quinn hanya berjaga di kantor karena lahan sawah sudah selesai dipupuk tahap awal dan juga sudah dibajak. Saat ini ia dan tim petaninya sedang menunggu bibit tumbuh dengan baik di pesemaian. Kurang lebih mereka harus menunggu sekitar dua pekan. Hanya ada beberala petani yang setiap hari mengecek tinggi air pada masa pesemaian bibit agar tidak terlalu banyak maupun terlalu sedikit, sementara dirinya hanya tiga hari sekali pergi ke kotak-kotak pesemaian untuk meninjau.

Jadi kini, sudah masuk waktu santai Quinn sehingga ia hanya berjaga di kantor untuk melayani para pembeli beras. Sekarang waktu telah lewat tengah hari. Quinn sudah merasa lelah melayani para pembeli lalu memutuskan untuk menutup kantornya. Eka yang diberi komando seperti itu gegas membereskan dan menutup rolling door gudang dan pabrik penggilingan, serta memasang label tutup. Sementara Quinn masih asik dengan coklat dan ponsel di ruang kerjanya menunggu Eka selesai menutup toko. Sebelum pulang mereka terbiasa melakukan pembukuan terlebih dahulu.

Tak ada hal yang istimewa hari ini hingga Quinn pun memiliki waktu untuk membuka kolom komentar unggahan terbaru Lingga yang baru saja muncul di berandanya. Banyak komentar yang menyiratkan bahwa kini Lingga sudah jomlo. Banyak juga yang mengatakan bahwa Lingga kini sedang mencari pasangan baru. Komentar-komentar ini tentu saja menarik perhatian Quinn yang kini sangat amat terkejut mengingat belum lama ini Quinn bertemu dengan kekasih Lingga. Sontak ini membuatnya khawatir, bukan terhadap Lingga melainkan terhadap dirinya sendiri.

Gawat! Aku sudah tanda tangani kontraknya. Bisa dibatalkan tidak, ya?

Putusnya Lingga dan Sisil menjadi sebuah rambu hati-hati untuk Quinn yang belum bisa melupakan Lingga. Jika otaknya mengingat Lingga sebagai seorang lajang, maka proses melupakan Lingga akan jauh lebih sulit. Apalagi saat ini ia sudah terikat kontrak untuk menjadi tamu perdana pada acara garapan Lingga yang pasti akan mempertemukan mereka berdua. Jangan sampai semua ini membuatnya tergoda untuk kembali mengejar cintanya Lingga. Walaupun dia berusaha mendekati Lingga, sebenarnya belum tentu berhasil hanya karena Lingga jomlo. Tapi proses move on-nya sudah pasti gagal jika ia benar-benar kembali menginginkan Lingga.

Tidak boleh! Aku harus melupakan Lingga. Dia bukan untukku!

Quinn masih terlarut dalam lamunannya, namun dibuyarkan kehadiran Eka yang kedua tangannya penuh dengan kardus yang langsung terlihat berat.

"Kak, ini ada paket," ujarnya menggembol dua dus paket.

"Untukku?" Quinn bertanya karena merasa tak memesan apa pun.

"Tentu saja. Kulihat alamat pengirimnya dari Narpati Tower," terang Eka sambil menaruh dus di atas meja tamu.

Quinn beranjak dari duduknya dan segera mengecek paket tersebut. Ia mengulurkan tangan meminta Eka untuk mengambilkan gunting. Sambil menunggu gunting, ia memfoto paketnya lalu mengirimkannya pada Rayn.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: a day ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BALADA QUINNStories to obsess over. Discover now