PROLOG

8 1 0
                                        

Seumur hidupnya, Arunika hanya tahu satu alasan tentang ketidakhadiran seorang pria dalam hidupnya. Alasan yang diulang Aruna setiap kali pertanyaan itu muncul di mata Arunika yang berusia tujuh tahun, sepuluh tahun, hingga akhirnya ia memilih berhenti bertanya.

"Ayahmu tidak pernah menginginkan kita."

Satu kalimat itu menjadi fondasi tempat Arunika tumbuh. Ia dibesarkan bersama rasa benci pada sosok yang tak pernah punya wajah dalam ingatannya-pria yang katanya memilih untuk tidak pernah hadir. Bagi Arunika, ayahnya hanyalah bayangan tanpa nama.

Sampai malam itu-12 Oktober 2026.

Kamar Aruna beraroma minyak kayu putih dan kertas tua. Di meja kerja yang berantakan-di balik tumpukan dokumen milik ibunya yang tertidur lelap di sofa ruang depan-Arunika menemukan sebuah buku catatan bersampul cokelat dengan sudut-sudut yang mulai lapuk.

Rasa penasaran menuntun jemarinya membuka lembar demi lembar. Tulisan tangan Aruna di sana terukir rapi, bagaikan seseorang yang menahan napas saat menggoreskan setiap kata. Hingga di lembar pertengahan, sebuah nama terpahat berulang kali.

Arka.

Bukan nama seorang musuh. Bukan pula nama seseorang yang dibenci. Tulisan di lembar itu justru berbisik sebaliknya:

"Aku tidak pernah membencinya."
"Aku seharusnya bertanya sebelum pergi."
"Seandainya waktu bisa diulang, aku ingin kembali ke hari sebelum semuanya dimulai."

Dada Arunika berdesir. Ibu yang ia kenal tidak pernah memperlihatkan celah rapuh. Lantas, siapa Arka? Mengapa ada penyesalan yang tersimpan begitu rapi di bawah tumpukan kertas ini?

Tepat di bawah buku catatan itu, ada sebuah benda bulat berbahan tembaga yang terasa dingin di telapak tangan Arunika. Sebuah pocket watch tua dengan ukiran huruf A yang mulai memudar di permukaannya. Saat jemarinya menekan tombol kecil di bagian atas, penutup jam itu terbuka dengan denting halus.

Jarum jamnya tidak berdetak ke depan. Jarum itu berputar ke kiri-cepat, makin cepat, hingga menyatu dalam bayangan kabur.

Udara di sekitar Arunika mendadak pekat. Suara dengung rendah memenuhi ruangan yang tertutup rapat, menyapu helai-helai rambutnya. Kamar Aruna mulai mengabur, menyerupai cat basah yang tersiram air.

Arunika tidak pernah tahu bahwa pada detik itu, perjalanan untuk mencari kebenaran baru saja dimulai. Ia terlempar sembilan belas tahun ke belakang-ke masa ketika Aruna masih berusia dua puluh satu tahun, ketika luka itu belum ada, dan ketika pria bernama Arka masih menjadi orang asing dalam hidup ibunya.

Sebelum Aku Memanggilmu AyahStories to obsess over. Discover now