Raka dan Ranu punya mimpi yang berbeda, tapi selalu mereka dukung bersama. Raka ingin menjadi musisi yang bersinar di atas panggung dengan lagu ciptaannya yang mampu menggerakkan hati. Sementara Ranu ingin menjadi perenang demi menaklukkan air, meng...
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
• • •
Dengan langkah tertatih ia memaksa untuk berdiri di ambang rasa lelah yang tak berkesudahan, merutuki apa yang telah terjadi tanpa bisa mengeluh pada dunia yang merenggut satu-satunya harapan. Jujur saja ia ingin berteriak dan marah, namun ia tetap tak bisa apa-apa. Miris sekali bukan? Tatkala ia harus menerima kenyataan dan menelan pil pahit yang tak pernah lolos ditenggorokan. Hanya menyangkut semakin meyesakkan dada.
Kini ia sudah berdiri di depan cermin yang memantulkan dirinya sendiri. Benar, kan, itu dirinya sendiri? Kenapa tampak beda jauh, ya? Yang ia lihat hanyalah seorang pria bungkuk dengan kantong mata menghitam dan cekung, pucat layaknya mayat, kurus tak terurus. Ke mana dirinya yang ia kenal dulu?
Tangannya mengambang nanggung hendak menyentuh cermin itu. Ragu seketika menyelimuti kala sesak di dada semakin menyerbu. Bibir pecah-pecahnya terbuka perlahan seolah ingin mengatakan sesuatu, namun naas tak ada suara yang enggan keluar. Hanya deru napas panas dan berat mengisi kesenyapan dalam gelap.
Sekali lagi ia membuka mulut, ingin mengatakan apa pun atau setidaknya ada bunyi yang terdengar. Kendati demikian, harapannya kembali hancur berkeping-keping kala dunia pun tak memperdengarkan suaranya.
"Aku takut...." batinnya menatap dalam bola mata kecoklatannya yang sekarang tampak kelam.
Ia sungguh tak sanggup, hampir saja air mata kembali lolos jika tak ia tahan. Lekas ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah sampai tatapannya menangkap beberapa lembar kertas yang berserakan di lantai dekat jendela. Dengan langkah berat ia menuju ke sana, memungut satu persatu seraya memperhatikan apa yang tertulis pada tiap carik dan tinta.
"Untuk Ranu, yang selalu bilang aku akan bernyanyi di panggung suatu hari nanti."
Gagal. Air mata yang berusaha ia tahan tadi jatuh deras membasahi pipi, beranak-pinak tanpa henti. Oh, Tuhan, jangan lagi... dadanya bagai dikoyak secara gragas dan tanpa henti, tak membiarkan barang sedetik pun mempertahankan diri. Dan lebih menyakitkannya lagi, rasa sakit itu tak pernah membiarkannya mati.
Ia merosot ke lantai sembari memeluk lembaran kertas itu erat, mendekap kuat sampai lembarannya berkedut dan mungkin sebentar lagi akan robek jika ia tak lepaskan.
"Ranu...." gumamnya tanpa kata. "Ranu...." Sekali lagi ia membaca tulisan di ujung kertas yang dipenuhi balok nada. "Untuk Ranu, yang selalu bilang aku akan bernyanyi di panggung suatu hari nanti."
Sampai, matanya tak menangkap apa pun lagi selain kegelapan. Ia jatuh terkapar di lantai bersama kertas-kertas lagu yang ia ciptakan sendiri. Bait lagu dari hatinya terdalam, pesan yang ingin ia sampaikan, nada yang ingin ia perdengarkan.
Sebelum laut mengambil suara Raka, kita tidak pernah tahu bahwa sebuah mimpi ternyata bisa karam tanpa tenggelam.
• • •
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.