Prolog

21 3 0
                                        

Jika kehidupan ini diibaratkan sebuah buku fiksi di rak perpustakaan, Nugrah adalah jenis karakter yang halamannya paling sering terlipat di bagian tengah tertahan, ragu untuk melangkah ke bab berikutnya, dan terlalu lama berputar-putar di dalam kepalanya sendiri. Bagi orang-orang di sekitarnya, Nugrah adalah sesosok laki-laki yang datar. Ia jarang sekali menjadi pusat perhatian dalam sebuah tongkrongan, tidak pandai melempar lelucon yang membuat seisi ruangan tertawa, dan selalu memiliki jeda yang terlalu panjang sebelum merespons sebuah pertanyaan sederhana.

Bicaranya kaku, ekspresinya irit, dan respons paling amannya atas segala hal yang rumit di dunia ini biasanya cuma satu: diam.

Bukan karena ia tidak peduli atau tidak punya perasaan. Justru sebaliknya, di balik wujudnya yang terlampau dingin dan terkesan pasrah pada keadaan, kepala Nugrah adalah sebuah kota yang riuh tanpa henti. Ada ribuan kalimat yang berdesakan ingin keluar, ada tumpukan skenario masa depan yang terus ia susun dan bongkar kembali, dan ada ketakutan mendalam bahwa apa pun langkah yang ia ambil nantinya akan berujung pada kesalahan.

Untuk merapikan isi kepalanya yang acak-acakan itu, Nugrah punya satu ruang sembunyi: aplikasi Notes di ponselnya. Di sanalah ia menyimpan puluhan draf puisi pendek dan potongan bab novel fiksi yang tak pernah sanggup ia tuntaskan. Puisi-puisinya bercerita tentang jarak, tentang jeda yang terlalu lama, dan tentang keraguan yang menjelma menjadi dinding tebal. Ia lihai sekali merangkai kata di balik layar, tetapi mendadak gagap ketika harus mengucapkannya secara langsung di hadapan manusia.

Bagi Nugrah, menulis puisi adalah cara paling aman untuk jujur tanpa harus menanggung risiko ditolak. Sedangkan menulis novel fiksi adalah eksperimen terbesarnya sebuah usaha untuk mengendalikan takdir karakter-karakternya, ketika ia sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengendalikan arah hidupnya sendiri.

Ia hidup dalam ilusi bahwa waktu adalah hal yang melimpah. Nugrah percaya, selama sebuah cerita belum diberi tanda titik, maka cerita itu masih bisa diperbaiki kapan saja. Ia terlalu naif untuk menyadari bahwa di dunia nyata, tidak semua orang mau bersabar menunggu seorang penulis yang kebingungan menyelesaikan bab pertamanya.

Lalu, datanglah Astarina.

Jika Nugrah adalah kabut tebal yang menyelimuti persimpangan jalan, maka Rina begitu gadis itu biasa dipanggil adalah penunjuk arah berbahan besi baja yang tertancap kokoh di sudut jalan. Rina adalah segalanya yang tidak dimiliki oleh kepala Nugrah yang penuh keraguan.

Gadis itu memiliki mata yang tajam, pembawaan yang tegas, dan cara bicara yang to the point. Rina adalah tipe orang yang selalu tahu persis apa yang ia inginkan besok, bulan depan, bahkan lima tahun dari sekarang. Ia benci hal-hal yang tidak pasti. Ia tidak suka menunda-nunda masalah, paling antipati dengan kalimat "lihat nanti saja", dan paling benci ketika perasaannya digantung oleh keadaan atau oleh seorang laki-laki yang tak kunjung berani mengambil keputusan.

Bagi Rina, hidup ini adalah tentang kalkulasi yang presisi. Tidak mengherankan jika kelak, selepas masa seragam putih-abu berakhir, ia memilih melangkah cepat ke dunia keuangan sebuah startup yang sedang merintis. Sebuah ranah yang menuntut ketepatan angka, efisiensi waktu, dan kepastian strategi. Dalam dunia Rina, satu tambah satu harus menjadi dua. Tidak ada tempat untuk asumsi, tidak ada ruang untuk "mungkin", dan tidak ada toleransi untuk sikap ragu-ragu yang berlarut-larut.

Anehnya, dua kutub yang bertolak belakang ini justru sempat bertemu dan saling bertaut.

Nugrah menemukan sesuatu yang menenangkan dari ketegasan Rina. Di dekat Rina, kepalanya yang bising terasa sedikit lebih tenang karena gadis itu selalu tahu harus berbuat apa. Sementara bagi Rina, di balik sikap kaku dan serba canggung milik Nugrah, ia menemukan sebuah kedalaman emosi yang jarang ia temui pada orang lain. Rina adalah orang pertama yang berhasil menembus benteng pertahanan Nugrah, membaca draf-draf puisi rahasianya, dan memberi Nugrah alasan untuk percaya bahwa dunianya yang sunyi patut untuk didengar.

Untuk sebuah masa yang singkat dan hangat, mereka berdua sempat percaya bahwa perbedaan tersebut adalah potongan puzzle yang saling melengkapi. Nugrah adalah penyeimbang bagi Rina yang terlalu cepat berlari, dan Rina adalah kompas bagi Nugrah yang terlalu sering tersesat di dalam pikirannya sendiri.

Namun, hidup di dunia nyata tidak pernah bersahabat dengan alur cerita romantis yang terlalu idealis.

Selepas lulus SMA, garis kehidupan memisahkan ritme mereka dengan kejam. Nugrah harus berhadapan dengan realita sebagai seorang barista di sebuah kedai kopi lokal. Di sela-sela denting cangkir, raungan mesin espresso, dan kepulan uap air panas, ia berusaha mengumpulkan pundi-pundi rupiah sambil terus memaksakan diri menulis novel fiksinya di sela waktu istirahat yang sempit. Rasa insecure perlahan menggerogoti jiwanya. Melihat teman-temannya termasuk Rina mulai memanjat tangga karir dan memiliki pijakan hidup yang mantap, Nugrah merasa makin kecil dan tertinggal di belakang.

Kesalahan terbesar Nugrah adalah menganggap bahwa Rina akan selalu ada di sana, menunggu di ujung garis batas sampai ia selesai bertarung dengan keraguan dirinya sendiri. Nugrah lupa bahwa ketidakjelasannya, sikap diamnya saat ditanya tentang arah hubungan mereka, alasannya yang selalu berlindung di balik kata "realistis", serta ketakutannya untuk berkomitmen perlahan-lahan diartikan oleh Rina sebagai bentuk pengabaian.

Sesuatu yang bagi Nugrah adalah "rasa takut dan kebingungan", bagi Rina terasa seperti "sikap meremehkan dan menggantungkan perasaan".

Nugrah tidak pernah bermaksud melukai Rina. Ia hanya bingung dengan dirinya sendiri. Ia merasa belum menjadi apa-apa dan belum memiliki apa-apa yang layak untuk dibanggakan. Namun, karena keterbatasan kemampuannya dalam mengekspresikan emosi, ketakutan itu justru ia terjemahkan menjadi sikap dingin, penundaan jawaban, dan garis jarak yang semakin hari semakin membentang lebar.

Ia tidak sadar, bahwa seseorang yang terbiasa hidup dengan arah dan tujuan yang jelas, tidak akan pernah bersedia membiarkan hatinya terombang-ambing selamanya di tengah lautan keraguan orang lain. Rina butuh kepastian yang nyata, bukan sekadar janji manis yang dibungkus kiasan puisi indah.

Dan dari sanalah seluruh keretakan ini berakar.

Ini adalah sebuah pengantar menuju cerita tentang dua orang yang saling mencintai dengan cara yang saling melukai. Tentang bagaimana sebuah hubungan yang dimulai dengan puisi-puisi manis di pojok kelas 12 IPA, perlahan bergeser menjadi tumpukan kekecewaan di antara aroma biji kopi dan lembaran laporan keuangan yang menumpuk.

Ini adalah kisah tentang Nugrah yang terlambat menyadari bahwa kepastian tidak pernah bisa ditunda, dan tentang Rina yang akhirnya memilih berjalan pergi demi menyelamatkan harga dirinya dari hubungan yang tak berarah.

Sebuah perjalanan panjang menuju satu titik paling bawah dalam hidup Nugrah sebuah titik nadir di mana ia harus menyaksikan perempuan yang paling ia cintai bersanding dengan orang lain di atas pelaminan. Momen tragis ketika Nugrah akhirnya sadar bahwa novel fiksi yang ia tulis selama bertahun-tahun harus ditutup dengan bab paling menyakitkan: menjadi seorang tamu undangan yang cuma bisa tersenyum canggung dan mengucapkan selamat atas kebahagiaan orang lain.


Garis Milimeter - BerkontradiksiMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon