"Selamat malam, kau sudah bangun?"
Ketika Nero membuka matanya kala itu, dia melihat hamparan langit gelap tak berujung. Suara debur ombak terdengar di telinganya, dan dia langsung menyadari bahwa itu semua hanyalah mimpi.
"... hei. Bukankah kau sudah mati?"
Gadis berambut putih di sebelahnya terkekeh kecil. Dari posisi Nero yang tidur terlentang dan posisinya yang duduk memeluk kaki di sebelahnya, dia terlihat seperti malaikat.
"Itu sapaan yang cukup kasar."
Nero perlahan mendudukkan dirinya, matanya beralih ke sekeliling. Laut terhampar di hadapan, pasir halus di bawahnya, dan di kejauhan terdapat hutan lebat.
"Jadi, kenapa kau di mimpiku? Ciel?" Nero bertanya, kembali memusatkan perhatiannya pada gadis di sampingnya.
"Kenapa, ya ...." Ciel menatap laut, dan Nero mau tidak mau merasa mata berwarna biru itu transparan. "Mungkin aku hanya ingin mengunjungimu."
Si lelaki menatap gadis itu, tidak mengerti dengan ucapannya. Apa maksudnya ingin menemui Nero? Dan bagaimana dia bisa ada di mimpinya? Nero ingin bertanya semua itu, tetapi sebelum dia sempat membuka mulut Ciel telah berdiri.
"Mau jalan-jalan sebentar?"
Masih banyak hal yang tidak dimengerti Nero. Namun sudah lama sekali sejak dia melihat Ciel tersenyum sebahagia itu, dan dia tidak bisa menahan diri untuk mengangguk. Nero mengikuti Ciel saat mereka mulai berjalan di sepanjang pesisir pantai.
"Indah, bukan?"
"Lumayan."
Nero berjalan, memperhatikan rambut putih pendek Ciel berkibar terkena angin. Dia memakai jaket musim panas berwarna hitam dan celana panjang putih, kombo yang tidak pernah Nero sangka akan dipakainya. Pasir amblas ketika mereka menginjaknya, dan langsung terisi lagi ketika mereka mengangkat kaki. Dengan segera jejak kaki mereka menghilang, seolah tidak pernah ada orang di pantai itu.
"Suasana hatimu kelihatannya sedang bagus."
"Ah. Soal itu ...."
Ciel sedikit menoleh. Angin menerbangkan rambutnya, memperlihatkan telinga yang sedikit memerah.
"Aku senang bisa bertemu Nero."
Nero menyadari bahwa gadis itu malu, dan dia merasakan cinta dan kekosongan yang dalam secara bersamaan. Ciel yang dia tahu tidak akan mengatakan hal seperti itu- tidak setelah apa yang dia teriakkan waktu itu. Kenyataan dan imajinasinya terasa tumpang tindih, dan dia hanya ingin segera bangun.
"Hei, Nero!"
Sebelum Nero sempat mendongak, terdengar suara keras dan air terciprat ke wajahnya.
"...."
"Jangan terlalu serius, Nero! Tertawa dan tersenyumlah!"
"Orang gila mana yang tertawa setelah diciprat air?!"
Alunan tawa puas Ciel mendorong Nero untuk berjongkok dan membalas. Karena airnya yang dangkal, sulit untuk memercikkan air dengan benar, jadi dia menggunakan tangan, kaki, dan semua yang bisa dia pikirkan. Tak mau kalah, Ciel juga mulai menggunakan tangan dan kakinya, dan akhirnya mereka terjebak dalam pertarungan.
Untuk mengakhirinya, Nero mendorong dirinya dan Ciel ke bawah, menimbulkan percikan besar air. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena betapa konyolnya hal itu.
"Aku menang!"
"Ya, padahal aku sudah berusaha keras ...."
Rambut putih lembut Ciel bergoyang mengikuti arus air, jaket musim panasnya yang berwarna hitam basah terkena air, dan sejenak dia terpesona dengan kontrasnya. Tangan kanan Nero terulur, membelai rambut Ciel. Dia ingat dulu gadis itu senang sekali membelai rambut Nero seperti ini, dan tanpa sadar itu menjadi kebiasaan di antara mereka berdua.
YOU ARE READING
7-Night Trip
FantasyTujuh malam. Itulah waktu yang diberikan pada Nero untuk bertemu kembali dengan seseorang yang telah tiada. Setiap dia tidur, ia akan menemukan Ciel di sebuah pantai yang tak berujung. Mereka akan berjalan, tertawa, tersenyum, dan menangis seolah ke...
