Hai Namaku Naragni Elvara Danendra.
Orang-orang memanggilku Nara.
Aku adalah anak perempuan terakhir di keluarga Dha Nadendra. Anak yang lahir setelah saudara kembarku, meskipun jarak kelahiran kami hanya beberapa menit. Kami tumbuh di rumah yang sama, makan di meja yang sama, mendapatkan pendidikan yang sama, bahkan memiliki tanggal ulang tahun yang sama.
Tapi entah kenapa, sejak kecil aku selalu merasa seperti seseorang yang hanya kebetulan tinggal di sana.
Keluargaku bukan keluarga biasa.
Nama Danendra sudah cukup dikenal di kalangan bisnis. Papa adalah pemilik perusahaan yang dibangun dari generasi sebelumnya dan sekarang menjadi salah satu perusahaan yang cukup besar. Rumah kami pun lebih pantas disebut mansion daripada rumah. Bangunannya terdiri dari beberapa lantai, memiliki halaman luas, garasi yang mampu menampung banyak mobil, taman di bagian belakang, serta ruang-ruang yang bahkan jarang digunakan.
Kalau orang melihat kehidupan keluargaku dari luar, mereka mungkin akan berpikir aku adalah gadis paling beruntung di dunia.
Aku punya uang.
Aku punya rumah besar.
Aku punya keluarga.
Aku punya saudara.
Aku punya teman.
Aku bahkan punya seseorang yang selama bertahun-tahun selalu berada di dekatku.
Raka.
Tapi orang-orang hanya melihat apa yang ada di permukaan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa tinggal di rumah sebesar ini terkadang membuatku merasa jauh lebih sendirian daripada ketika berada di tengah kerumunan.
Pagi itu, aku berdiri di depan cermin kamar sambil membenarkan kerah seragam sekolahku. Rambut panjangku kuikat asal menggunakan karet hitam, sementara beberapa helai rambut dibiarkan jatuh di sisi wajah.
Aku memperhatikan pantulan wajahku beberapa detik. Tidak ada yang istimewa.
Hanya wajah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang terlihat sedikit mengantuk.
Tanganku terangkat untuk merapikan poni yang jatuh di dahi. "Lumayan."
Aku memiringkan kepala ke kanan. "Masih bisa masuk sekolah." Sudut bibirku terangkat. Aku memang sering berbicara sendiri. Bukan karena tidak punya teman. Aku hanya sudah terlalu terbiasa menghibur diri sendiri.
Setelah memastikan seragamku rapi, aku mengambil tas dari kursi di dekat meja belajar. Sebelum keluar, pandanganku sempat jatuh pada beberapa foto yang terpajang di dinding.
Ada foto keluargaku. Ada foto ketika aku masih kecil. Ada foto bersama saudara kembarku.
Dan ada satu foto yang memperlihatkan aku, Raka, serta beberapa anak laki-laki lain ketika kami masih sangat kecil.
Aku tersenyum ketika melihat foto itu. "Dulu kalian nggak nyebelin." Jari telunjukku menyentuh permukaan foto tersebut. "Sekarang nyebelin semua."
Aku tertawa pelan sebelum akhirnya membuka pintu kamar. Aku berjalan keluar dan mulai menuruni tangga.
Suara peralatan makan terdengar dari ruang makan yang berada tidak jauh dari tangga. Semakin aku turun, semakin jelas suara percakapan keluargaku.
Aku bisa mendengar suara Papa yang sedang membicarakan pekerjaan dengan salah satu abangku. Aku juga mendengar suara Mama.
Mereka terdengar seperti keluarga biasa.
Hangat.
Akrab.
YOU ARE READING
NIRASA
FantasyNaragni Elara Danendra, Itu lah nama panjangnya. Sejak lahir, Nara sudah dianggap sebagai kesalahan. Ia terlahir sebagai anak perempuan di keluarga yang menginginkan penerus laki-laki. Bahkan ketika ia lahir bersama saudara kembarnya, kasih sayang...
