Kamar utama di kediaman Ardhana terasa terlalu dingin untuk ukuran malam yang seharusnya menjadi malam paling sakral bagi sepasang pengantin baru. Garis lampu kota Jakarta menembus kaca jendela setinggi langit-langit, memantulkan bayangan dua manusia yang terikat oleh selembar kertas legalitas dan ambisi dua keluarga besar.
Aluna duduk di tepi tempat tidur berukuran king-size. Gaun pengantin putih bermotif renda transparan di bagian lengan masih melekat di tubuhnya. Tangannya yang saling meremas di atas pangkuan gemetar pelan.
Di dekat jendela, Ravel berdiri membelakanginya. Kemeja hitamnya sudah dibuka dua kancing teratas, memperlihatkan garis leher dan dada yang tegas. Jam tangan mewahnya berdetik seraya ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal.
"Aku tidak pernah meminta perjodohan ini," suara Ravel memecah keheningan. Dingin, datar, namun sarat ancaman yang samar.
Aluna menunduk lebih dalam. "Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan keluarga."
Ravel tertawa dingin. Ia berbalik, menyesap minumannya sebelum melangkah mendekati tempat tidur. Setiap langkah pria itu terasa menekan atmosfer di dalam ruangan, membuat napas Aluna tertahan.
Ravel berhenti persis di hadapan Aluna. Ia menunduk, menggunakan jarinya untuk mengangkat dagu Aluna agar mata lembut perempuan itu menatap langsung ke iris matanya yang tajam.
"Keluargamu mendapatkan apa yang mereka mau dari Ardhana Group, dan kamu..." Ravel menatap bibir Aluna yang sedikit terbuka karena gugup. "...kamu terperangkap di sini bersamaku."
"Selama kita masih terikat oleh nama keluarga," lanjut Ravel, suaranya merendah menjadi bisikan di dekat telinga Aluna, "aku tidak akan membuatmu menyesal secara finansial. Tapi jangan pernah berharap cinta."
Aluna merasakan desakan hangat napas Ravel di kulit lehernya, memicu getaran asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kepolosan Aluna berbenturan langsung dengan dominasi Ravel yang intens.
"Aku tidak minta dicintai, Ravel," bisik Aluna dengan suara bergetar namun jujur. "Aku hanya ingin kita menjalani ini tanpa saling menghancurkan."
Ravel menatap mata Aluna yang jernih-tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan. Ada sesuatu dari kepolosan itu yang justru memancing sisi liar dalam diri Ravel untuk menyentuhnya lebih jauh.
"Kita lihat seberapa tahan kamu di kamar ini bersamaku, Aluna."
Ravel meletakkan gelasnya di meja samping tempat tidur, lalu tanpa melepaskan pandangannya dari Aluna, ia mulai melepas jam tangannya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
A Vow We Never Chose
Romance🖤 A VOW WE NEVER CHOSE Alden Xavier × Alessia Clarissa Alden Xavier - cowok paling hyper, berisik, usil, dan susah diatur. Pewaris keluarga Xavier yang hidupnya selalu dipenuhi kemewahan. Hobinya membuat orang kesal, melanggar aturan, dan melakukan...
