Sepotong Cokelat yang Ujungnya Digigit Tikus

3 0 0
                                        

Aku menyadari bahwa mungkin alasan Tuhan memberiku hidup ialah untuk menyadari bahwa menjadi makhluk Tuhan adalah bentuk kuasa-Nya yang paling indah.

...

Barangkali nasibku tak lebih baik dari mereka yang mengeluh terus-menerus — meski aku mungkin termasuk ke dalamnya. Menjadi seorang yang dilanda gelisah di setiap malamnya kurasa bukanlah hal yang baik. Entah karena gelisah esok hendak memakai pakaian yang mana, entah karena belum minum kopi di hari itu. Alasan-alasan itu selalu hadir tepat waktu, tanpa absen sedikitpun. Meski terkadang, alasan itu terkesan sepele dan nyeleneh.

Sore tadi Ibu membangunkanku dari tidur siang yang lumayan panjang. “Ibu punya cokelat batang, barangkali kamu hendak membuat sesuatu,” katanya sembari tersenyum simpul. Dia menyodorkan satu bungkus cokelat yang ujungnya seperti habis digigit itu di depan muka lusuhku yang masih terkantuk-kantuk. “Sempat digigit tikus, tapi sudah Ibu bersihkan,” katanya lagi.

Sejenak aku terdiam dan memandangi cokelat itu dengan seksama. “Kapan Ibu beli ini?” tanyaku pelan.“Dua minggu yang lalu.” Ibu kembali tersenyum lalu keluar dari kamarku.

Jawabannya tak menjelaskan pertanyaan ‘mengapa tak dikeluarkan dari hari-hari sebelumnya?’ yang hendak kulontarkan di detik berikutnya. Sekilas aku mengingat bahwa kemarin lusa aku membuat semangkuk pudding cokelat untuk merayakan ulang tahunku. Sedikit gagal, sih. Mengingat bahan yang kugunakan terbatas. Jika kubahas sehabis ini, mungkin Ibu akan menjawab, “Kau tak bertanya dan Ibu bukan MahaTahu untuk tahu yang kaumau.”

Itu sudah cukup memberiku satu alasan gelisah nanti malam. Mempertanyakan sepotong cokelat. Apa yang dipikirkan cokelat itu — jika ia sanggup berpikir dan memiliki kekuatan untuk protes kepada manusia , perihal ia yang dibeli dan teronggok di sudut kamar Ibu lantas digigit tikus bau yang kelaparan. Jika cokelat itu serupa pemerintah dengan asasnya yang suci digigit tikus-tikus bau dengan jas-jas mengkilap , apakah pemerintah akan bersikap seperti Ibu?

“Kami tak tahu dan tak mengira cokelat itu digigit. Bukan salah kami sebab kami yakin sudut kamar adalah tempat terbaik. Pun kami bukan MahaTahu yang tahu segalanya. Lagipula cokelat itu masih enak bukan? Potong saja ujungnya sedikit, selepas itu masih layak dimakan.”

Ah, semoga aku tak sakit perut setelah ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 30 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Segelintir KataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang