The One Who Is Never Enough

9 4 8
                                        

Tumpukan jurnal ilmiah berdiri miring di samping wajah seorang perempuan yang tertidur. Cahaya monitor menyinari wajah kelelahan tersebut. Dengung komputer yang bekerja terlalu keras tidak bisa membangunkannya. Sudah tiga hari dia memaksakan diri bekerja hingga dini hari, sehingga tubuhnya akhirnya menyerah, dan dia tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya menempel di meja, di antara kertas penuh coretan dan gelas-gelas yang dasarnya terkotori kerak kopi.

Dhania, perempuan malang tersebut, harus membenahi hasil pemetaan akibat revisi "minor" yang dia terima dari reviewer jurnal penelitiannya. Satu perubahan itu ternyata menghasilkan banyak perubahan beruntun lain. Akibatnya, dia terpaksa bekerja lembur agar bisa mengunggah ulang hasil kerjanya sebelum deadline.

Dunia para peneliti selalu seperti ini, menuntut kesempurnaan pada manusia yang tidak mungkin akan sempurna. Orang-orang menyebutnya sebagai academia, tempat dimana pembelajar paling jenius sekalipun selalu dihantui impostor syndrome. Mungkin, semakin jenius seseorang, semakin kuat juga perasaan insecure yang dirasakan.

Suara alarm berbunyi pelan kemudian makin keras karena Dhania bergeming. Baru setelah volume tinggi menusuk kuping, sepasang mata Dhania tergerak. Bulu mata panjangnya bergetar halus, seiring dengan usaha perempuan berkulit sawo matang itu untuk bangun.

Dia merasa renta. Seluruh tulang-belulangnya seakan melawan ketika berusaha digerakkan. Dengan usaha besar, tangan kirinya menjangkau ponsel demi mematikan alarm. Setelah jemari panjangnya berhasil menggesek layar dan bunyi gaduh langsung lenyap, dia mengerang.

Sampai kapan aku mau hidup seperti ini? Damn it! Perempuan rambut panjang itu tidak sanggup menahan makian. Namun, tubuhnya terlalu lelah. Dia membiarkan dirinya beristirahat lebih lama sebelum akhirnya bangkit dengan kepala pening.

Sambil menggumam, Dhania berjalan ke dapur apartemennya untuk membuat kopi. Langkahnya melewati buku-buka yang berserakan di lantai, berhati-hati agar tidak melangkahi satu buku pun. Dia dibesarkan dengan pemujaan kepada Dewi Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan, sehingga kebiasaan menghormati buku masih terpatri di dirinya meski doa bukan lagi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun.

Ketika kopi sudah siap dan sepotong roti tawar sudah ditemani mentega serta bacon, dia duduk di samping jendela. Uap kopi terlihat hangat ketika disandingkan dengan langit Inggris yang kelabu. Musim dingin belum tiba, tetapi kelamnya musim gugur sudah cukup membawa depresi. Dhania selalu membenci cuaca Inggris. Namun, di sini terasa lebih familier dibandingkan rumahnya sendiri di sebuah pulau tropis yang katanya pulau dewata. Di sana, dia hanyalah perempuan berkulit gelap yang selalu diingatkan seberapa kurang beruntung dirinya karena kulit Asia Tenggara alami tersebut. Jauh berbeda dengan orang-orang di Inggris yang masih bisa mengapresiasi warna kulit eksotis.

Dia merindukan kampung halaman tetapi juga membenci tempatnya dilahirkan.

Sambil memakan sarapannya, Dhania membuka email lewat ponsel. Ada dua email baru dan keduanya adalah penolakan atas lamaran posisi yang dikirimnya bulan lalu. Dia pun menghela napas berat. Tidak mudah mendapatkan posisi tetap di universitas, terutama karena dirinya berasal dari negara yang kurang prioritas. Meski sudah menjajal post-doctoral di empat negara dan tiga benua, tetap saja sulit mendapatkan posisi Assistant Professor. Dia harus punya dukungan akademik dan juga kolega.

Sepuluh tahun sudah berjalan sejak dia memutuskan untuk melanjutkan karir di dunia academia jauh dari Indonesia. Terlihat jelas kalau ini adalah dunia yang tidak mudah menerimanya. Semakin dia berusaha, semakin tinggi pula kesulitan yang dihadapi. Ketika juniornya mendapatkan apa yang tidak bisa dia dapatkan, dia makin merasa tidak cukup. Mungkin selama ini sebenarnya dirinya tidak secerdas yang dia bayangkan.

Dia pun menutup email dan melanjutkan sarapan. Tidak ada gunanya berpikir berlebihan. Yang penting, dia masih punya penghasilan yang cukup meski perjuangannya berdarah-darah.

Sambil mengunyah, rasa sunyi terasa makin hampa. Dhania melirik gelang perak yang dikenakannya. Sebuah leontin terukirkan lambang Acintya berpendar putih di tengah dinginnya suhu musim gugur. Kehangatan merambat dari pergelangan tangannya menuju ke seluruh tubuh.

 Kehangatan merambat dari pergelangan tangannya menuju ke seluruh tubuh

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Tak terpikirkan. Acintya melambangkan bahwa kekuatan Tuhan tidak pernah bisa dibayangkan manusia. Jika tidak ada yang bisa terpikirkan lagi, mungkin sebenarnya seseorang sedang dibawa menuju jalan kebenaran. Itulah yang dikatakan orang yang memberikan Dhania gelang tersebut. Dua puluh tahun sudah berlalu tetapi kekuatan yang ditinggalkan di gelang tersebut tidak pernah sirna. Sayangnya, orang yang memberikannya menghilang dua belas tahun yang lalu, tepat ketika Dhania berencana pergi ke luar negeri untuk studi doktoral. Hingga kini kekosongan yang ditinggalkan masih mengiris hati. Anehnya, rasa sakit kerinduan justru menjadi rasa yang paling menguatkan Dhania di tengah perjuangannya.

"Genta, you f*cking heartbreaker!" gumam Dhania ketus.

Laki-laki itu pembawa patah hati terburuk. Tidak pernah melukai, selalu membawa ketenangan, tetapi tiba-tiba lenyap seakan dimakan bumi. Sampai sekarang, hilangnya Genta masih terselubungi misteri besar. Dhania tidak pernah tahu bagaimana caranya menemukan jawaban. Sialnya, sisa kehangatan spiritual di gelangnya membuatnya tidak sanggup menepis masa lalu. Laki-laki itu masih membayanginya tanpa benar-benar pergi.

"I am an idiot for believing in you." Dhania menurunkan tangan, berusaha mengabaikan perasaannya.

Kehidupan terus berjalan dan dua bulan lagi dia harus mendapatkan pekerjaan baru. Kontraknya nyaris berakhir. Supervisornya sudah tidak mau memperpanjangnya lagi karena menemukan kandidat lain yang lebih brilian, kandidat yang baru saja lulus PhD dari salah satu lima besar perguruan terbaik dunia, kandidat yang menunjukkan kalau Dhania tidak lagi cukup.

Jika tidak mendapatkan posisi tetap, Dhania berencana meninggalkan dunia akademia dan bekerja sebagai pekerja blue collar. Dia akan rehat dari pergulatan akademisi. Masalahnya, hal itu terasa seperti akhir yang menyedihkan setelah berjuang sekian lama di universitas. Kegagalan adalah kata yang akan terus memarkai dirinya kalau sampai dia terpaksa keluar dari sini.

Karena perasaan hatinya makin gelap, nafsu makan Dhania langsung hilang. Udara terasa lebih dingin daripada seharusnya. Dia kembali ingat bagaimana ketika masih sekolah dia selalu dikatai jelek dan disingkirkan. Tidak ada yang menginginkannya sebagai teman.

"No!" Dhania menggeleng, membuang semua pikiran buruk yang tiba-tiba timbul. Dia bangkit dari kursi kemudian membuang sisa sarapannya. Perempuan itu meletakkan piring di dalam sink yang sudah ditumpuki piring-piring kotor lain. Saatnya untuk kembali bekerja. Saatnya berfokus pada hal-hal yang lebih penting daripada memikirkan masa lalu yang buruk.

Dhania kembali ke mejanya yang penuh kertas, gelas, dan berbagai macam hal. Layar komputernya memperlihatkan peringatan error berwarna merah. Dia langsung mengerang frustasi karena harus mengecek kesalahan kode lalu mengulangi proses komputasi. Waktu hidupnya tersia-siakan lagi.

Di tengah stress, sebuah notifikasi email muncul di layar komputer. Dari headernya, email tersebut adalah pemberitahuan apakah lamaran pekerjaan Dhania diterima atau ditolak. Dengan jantung berdebar-debar, Dhania memutar bola mata. Dia takut isi email itu adalah penolakan ke-21. Dia perlu menguatkan mental sebelum membacanya.

Beberapa saat kemudian, tangannya menggerakkan mouse lalu membuka email tersebut. Sebuah surel panjang muncul memenuhi layar. Dhania mengepalkan tangan dan mulai membaca dengan hati-hati.

***

Narake Wimukthi Stories to obsess over. Discover now