Jika dunia paralel itu ada—dunia mana yang harus aku pahami dari bagian dunia milikmu? Duniamu penuh diam, kemisteriusan, mengacak pikiranku untuk mengoyak setiap hal yang kamu lakukan.
Bukankah dunia tidak memiliki indra perasa? Lantas mengapa duniamu selalu saja memberi perasaan yang mengesalkan. Pojok itu selalu menjadi batasan antara duniaku dengan duniamu yang penuh kehitaman itu. Ingin aku bantah isi warna dalam isinya, namun itu terlalu melekat pekat untuk dirimu yang segila langit.
Siapa yang sebenarnya kutu buku di sini, aku, atau engkau demikian?
"Aku sudah mengantarkan buku itu untukmu, itulah pekerjaanku."
Katalog tak pernah lewat sekalipun bagiku-bahkan hingga ratusan, lalu apa yang dirimu katalogkan dari buku yang berbeda-beda di setiap hari yang kau baca? Di pojok yang sama! Tirai jendela itu bahkan meraung-raung-berkibar mengipasi dirimu untuk bergerak, hingga anak rambut yang menari di kepalamu tak jauh sama dari apa yang kamu lakukan.
***
Muak, namun tak sekedar itu. Kerja semalaman memang membuat lelah, tetapi siapa yang bekerja di pagi-pagi sampai sudah tertidur? Buku penuh bertumpuk setinggi gunung terbagi kanan dan kiri di atas meja yang kokoh menampung kepalanya yang lelap dalam dunia mimpi, namun hanya satu tumpukan pendek ada di depan kepalanya yang menarik perhatian.
Buku yang sudah dikatalogkan, terdaftar dalam komputer, aku tidak ingat mencantum buku-buku yang asing ini dalam kerja paruh waktuku. Lagi-lagi aku kesulitan menebak isi duniamu itu, dasar Alvian, buku-buku ini sudah tercantum namamu sebagai peminjam buku perpustakaan ini, artinya kau hanya mengatalogkan buku yang pernah kamu baca. Bagaimana perasaan yang ingin meluap ke arahmu ini rasanya? Amuk tak ingin, berterima kasih masih tak sudi, rasa yang kuingin hanyalah rasa ingin tahu akan terbukanya duniamu ...
***
"Buku seperti apa yang sering kamu baca itu, Alvian?" tanyaku.
Angin sejuk memberi waktu jeda untuk ia bersuara. Barulah dia menjawab, "Buku pelajaran dan fiksi. Ngomong-ngomong kau tidak marah padaku?"
"Untuk apa aku memarahi batu sepertimu ..." Sudah berkali-kali, tak terhitung jari lagi namaku tercantum dalam buku pada kartu pinjam setiap dalam buku yang engkau baca. Aku bertanya-tanya, kapan namamu itu juga tertulis dalam absen kerja mengatalog buku?
Hening-hanya dentang jam yang menghantui suasana perpustakaan dan gesekan perpindahan lembar buku dari yang ia baca. Sudah terasa klise bagiku untuk memecahkan suasana ini dengan tanya. Namun, kali ini angin jalanan mau mengendalikan ia untuk membuka suara.
"Kirana, aku ada membuat cerpen, lho," ujarnya sembari melirik-lirik tiap kata dalam dunia aksara itu.
"Seriusan? Orang sepertimu membuat cerpen? Coba lihat sini aku ingin membacanya."
"Aku menolak," jawabnya tak acuh.
"Lalu untuk apa kamu mengatakan itu padaku ...?"
"Kepala perpustakaan tempo hari lalu menyarankanku membuat cerpen untuk dibukukan dalam antologi." Alvian akhirnya mengalihkan pandangannya dari buku itu. "Naskahku terpilih dalam buku itu dan ada di perpustakaan ini, kalau kamu ingin mencarinya karena penasaran silahkan."
"Kamu ingin mempermainkanku, ya? Tidak dulu. Kerjaanku masih banyak, kalau ingin aku mencarinya bantu aku dulu sini!" Ujung-ujungnya aku mengeluarkan kalimat klise itu lagi.
Dia kabur dari pojok favoritnya itu, menghindari ajukanku padanya, atau malah hanya ingin mencari buku lain yang ingin dibaca. Bagaimana cara membuka segel buku yang masih terbalut di dalammu itu, Alvian? Setiap buku pasti dapat terbaca setiap kali kau membuka sampulnya, namun bagaimanakah caraku membuka sampulmu agar bisa aku membaca apa isi dari dirimu?
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Love Letter
Romantik"Saat surat itu sampai depan posnya, kuharap semuanya tidak akan terlambat." Inspired from: Love Letter (1995)
