Gubuk Reyot

27 0 0
                                        

Tok tok tok

Seorang gadis cantik berdiri dengan sorot mata penuh ragu di depan pintu sebuah gubuk yang mulai reyot. Pemandangan di sekitarnya sangat tak biasa, seperti tertinggal zaman. Sepi, jarak antar rumah warga berkisar 1 kilometer masing-masing, bahkan lebih.

Tak ada hiruk pikuk di sana. Hanya ada bisik pepohonan rimbun yang bergoyang gemulai ditiup angin, tumbuh menjulang tinggi hampir menyelimuti gubuk tua itu. Bayangan di tanah tampak memanjang. Kilau jingga berterbangan di udara. Sepertinya hari menunjukkan sekitar pukul lima sore. Sebentar lagi malam menyapa. Entah sehening apa nantinya di tempat itu.

Kreeek

Pintu usang itu terbuka pelan, seorang nenek tua yang tak lagi tegap muncul dari baliknya.

Sreppp

Gadis cantik tadi sontak menarik langkah ke belakang. Tatapan ragu miliknya di awal tadi kini telah berubah menjadi tatapan takut.

"Ada keperluan apa?" suara parau dan sedikit bergetar sang nenek langsung menyapa, menyadari perubahan sikap gadis di hadapan.

Gadis itu tak mampu menjawab, hanya gelengan kepala tak berarti yang diperlihatkan olehnya sembari melingkarkan reflek satu tangan di perutnya yang rata.

Melihat gestur gadis di hadapan, senyum penuh yakin tampak terbit di kedua sudut bibir kerutan sang nenek tua.

"Mari masuk," ucapnya mantap setengah berbisik, seolah Ia memahami keseluruhan situasi. Ia lanjut masuk ke dalam gubuk tuanya tanpa menunggu anggukan persetujuan sang gadis di hadapan. Dan memang betul saja, gadis itu mengekor pelan di belakang.

"Sudah berapa bulan?"

Kini, gadis itu terduduk di tepi ranjang dengan binar mata yang campur aduk. Tak ada tempat duduk lain di sana selain ranjang itu. Gubuk itupun hanya ada satu ruangan saja. Dapur, kamar, ruang tengah, semuanya menjadi satu kesatuan.

"E-Empat bu-bulan," sang gadis menjawab lirih disertai takut yang menjadi-jadi di kedua sudut matanya. Namun kali ini Ia memutuskan tak lagi banyak menimbang dalam hati. Ia mulai meyakinkan diri sendiri bahwa orang di hadapannya kini bukanlah orang awam yang harus ia wanti-wanti bila bertutur mengenai kondisi yang sedang dialaminya.

"Sudah lumayan besar, kenapa baru datang sekarang?"

Gadis cantik itu tak menjawab, ia hanya menggeleng bersama cemas yang turut menyelinap di wajahnya.

"Ini lumayan beresiko, karena janinMu sudah besar dan mengeras."

"Dengan kamu berani menginjakkan kaki ke tempat saya hari ini, artinya kamu sudah tau aturan bermain kita. Saya tidak menanggung dampak buruk apapun yang terjadi dari kamu, tugas saya hanya mengeluarkan janin itu."

Tak ada sahutan dari gadis cantik yang belum diketahui namanya itu. Hanya tatapan ketakutan luar biasa yang tersisa. Bahkan jemarinya terlihat bergetar samar.

"Apa laki-laki yang sudah membuatMu mengalami musibah ini ikut bersama ke sini?"

Lagi dan lagi gadis itu tak mampu menjawab. Wajahnya kini kian pucat pasi. Ingin melarikan diri, tapi ini satu-satunya jalan menyelamatkan masa depannya yang masih panjang.

Sang nenek tua balas menghela napas berat, tanpa diberitahupun Ia sudah menggenggam jawabannya. Tampak dari raut wajah keriputnya jika Ia sepenuhnya bukanlah dukun mengerikan yang tak berperasaan. Ada terbersit iba juga dalam hatinya kala melihat pasien malang di hadapan, masih sangat muda dan teramat cantik, juga begitu pendiam.

"Baiklah, karena tidak ada yang menemani ke sini, saya akan membiarkanMu tinggal selama tiga hari di sini untuk memulihkan diri. Lebih dari tiga hari, kuat atau tidak kuat, kamu tetap harus meninggalkan tempat ini. Jika kamu tidak berhasil bertahan hidup, saya akan membakar jasadMu"

Dosa Sepupu Berandal Des histoires addictives. Découvrez maintenant