Di sudut ruangan sebuah kamar kos - kosan yang lumayan redup. Duduk seorang pemuda yang masih cukup belia, usia yang masih 18 tahun.
Perkenalkan nama ku Alvian rivan, aku sudah setahun menganggur. Kesibukan ku saat ini hanyalah mengisi waktu luang dengan berjualan online sebagai drop shipper, dan sebagian lagi dengan melakukan kegiatan yang sangat nyaman bagiku namun sangat asing buat orang lain.
Ya, aku seorang crossdresser. Sudah dua tahun lamanya aku berkecimpung didunia ini. Dunia yang seolah membuatku punya dua kepribadian, dunia dimana aku bisa menjadi diriku sendiri sesuai dengan kehendak ku.
Aku terlahir di keluarga yang sangat sederhana, di sebuah desa yang bahkan sinyal internet tergolong cukup sulit untuk di akses. Namun setahun ini aku lebih banyak berada di ibu kota sebuah provinsi di pulau Sumatera.
Merantau, istilah bagi sebagian orang yang mencoba mengadu nasib dan peruntungan di kota besar.
Namun bagiku, bukan hal mudah untuk bertahan dalam terpaan dan kondisi ekonomi seperti sekarang ini.
Penghasilan ku lumayan untuk kebutuhan ku sehari - hari, namun tidak terlalu banyak untuk mengikuti pergaulan anak - anak muda seusia ku.
Balik ke kegiatan kedua ku, aku sudah cukup lama melakukan kegiatan crossdressing. Bahkan mungkin di usia yang tergolong sangat muda. Karena di lingkungan ku dulu, rata - rata anak seusia ku adalah anak perempuan. Dan aku lebih banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama mereka.
Kebiasaan ini membuat ku merasa nyaman, sekaligus asing. Aku ingin berdandan seperti mereka, dengan baju gamis dan jilbab. Namun makian yang ku dapatkan dari bapak membuat ku sadar. Aku terlahir pria.
Hal itu terus ku bendung dan mencoba ku tahan hingga akhirnya pada dua tahun lalu, kakak ku sudah duluan mencari kerja ke kota. Tinggal aku dan kedua orang tua ku dirumah. Aku bungsu dari dua bersaudara.
Setelah kakak ku pindah, kamar yang biasa di tempati kakak kini boleh aku pakai. Biasanya aku tidur di ruang tengah beralaskan tikar, karena kondisi rumah ku yang lumayan sempit.
Kamar kakak bagaikan surga bagiku, ada banyak pakaian yang bisa dengan leluasa aku coba setiap malam.
Walaupun pakaian bekas yang menurut nya sudah tidak layak pakai, namun bahan baju - baju itu sangat lembut dan membuat ku nyaman.
Ku pilih beberapa yang menurut ku kondisinya masih sangat baik, aku pisahkan dan keluarkan dari kardus usang tempat kakak ku menyimpan pakaian yang sudah dia tidak kehendaki.
Dan malam - malam berikutnya aku mulai memberanikan diri mencoba satu persatu pakaian itu. Dengan make up sisa yang masih tersimpan di lemari rias didepan kasur, dan pengetahuan ku yang minim mengenai make up. Aku mencoba satu persatu semua itu.
Aku membayangkan teman - teman sebaya ku. Meniru bagaimana mereka berias, bagaimana mereka tersenyum. Dan bagaimana mereka merapikan jilbab.
Ada sebuah kelegaan, rasa yang selama ini seperti terkekang sekarang terlepas. Rasa yang selama ini terasa salah sekarang kembali menemukan jalannya.
Aku seperti hidup dalam dunia yang seharusnya aku jalani sedari dulu. Dunia ku sebagai seorang perempuan.
Ku pandangi cermin didepan ku.
"Hai cantik" Gumam ku.
Aku terdiam sejenak, wajahku sangat mirip dengan wajah kakak ku.
Aku tatap lama pantulan dari cermin itu.
"Andai aku terlahir perempuan, mungkin aku secantik kakak" Ujar ku lirih.
Baju itu terasa sangat pas di badan ku, sebuah gamis bercorak polkadot dengan warna lavender lembut.
Dipadukan dengan postur ku yang mungkin tergolong lambat berkembang, dan tinggi hanya 156 cm dan berat 48 kg. Bahkan kakak ku lebih tinggi sedikit dari ku.
Sehingga size baju kakak rata - rata muat di badan ku.
"Aku alvian rivan" Ujar ku seperti berbisik.
"Masa cewek namanya alvian rivan" Ujar ku sembari bergumam.
Aku pikirkan beberapa nama yang menurutku cocok. Dan setelah sekian lama akhirnya aku memutuskan untuk menamai diriku sendiri.
"Asyifa" Nama yang sangat cantik menurutku saat itu.
Ku abadikan setiap moment dengan HP jadul ku. Beberapa foto selfi dan foto dengan posisi menghadap cermin tersimpan didalam memori HP ku itu.
Hal itu menjadi rutinitas ku setiap malam, membuat ku semakin ekspresif dalam mencoba berbagai gaya dan ekspresi yang aku coba tiru dengan memperhatikan teman - teman sebaya ku.
Namun hal itu tidak dapat berlangsung lama, karena tahun lalu menjelang kelulusan ku dari sekolah. Kakak ku mendadak pulang, tanpa aku ketahui. Dan seperti biasa aku dengan semua dandanan yang aku lakukan, dan kamar yang terkunci.
Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar.
"Tok tok"
"Dek, kok di kunci sih" Ujar kakak dari balik pintu.
Aku meloncat panik, aku berusaha secepat mungkin menanggalkan semua pakaian yang aku kenakan dan menyimpan di lemari. Menghapus riasan yang menempel di wajah ku.
Setelah ku rasa aman, aku membukakan pintu
"Ya kak, sebentar" Ucapku pelan
"Habis ngapain sih?" Ucap kakak ku
Dia memperhatikan seluruh kamar, lumayan berantakan.
"Kamu" Dia berbicara sembari berjalan ke arah ku.
"Kamu pake make up dek? Astaghfirullah" Ujarnya kaget.
"Hah? Ngga kak" Ujar ku malu dan mencoba mengusap wajah ku.
"Ngga apanya, sini lihat" Ujarnya sembari menarik wajah ku
"Kamu pake lipstik? Ini apaan sih dek?" Ujarnya terkejut.
"Aku.... " Suara ku tercekat
Perasaan takut bercampur malu berkecamuk didalam diriku.
Bapak yang sedari tadi diluar ternyata juga ikutan masuk.
Setelah beberapa saat kakak membuka lemari pakaian dan baju - baju lama yang berserakan didalam. Dengan bau keringat bekas pakai ku. Kecurigaan kakak ku semakin kuat.
Aku hanya bisa terdiam, suara semakin meninggi namun aku tidak bisa mencerna ataupun mendengar apa yang di ucapkan oleh kakak ku.
Suara bapak juga ikut meninggi. Aku ditarik keluar dari kamar, sebuah hantaman mendarat di punggung ku. Sebatan rotan yang sering aku Terima ketika melakukan kesalahan.
"Bikin malu" Ucap bapak sambil terus memukuli ku.
Ibu dan kakak ku memandangi ku dari balik kamar.
Aku berusaha mempertahankan diri dan melindungi diriku. Namun semua terasa sia - sia. Tak terhitung jumlah sabetan yang aku terima. Bahkan rotan yang digunakan untuk memukul ku terbelah menjadi dua.
"Kamu itu lanang nak, untuk apa kamu berdandan seperti itu" Teriak bapak.
"Aku membesarkan mu menjadi seorang pria, seorang anak yang kuat dan bertanggung jawab" Lanjutnya
"Apa kamu mau jadi banci?" Suaranya meledak dan hendak kembali memecut rotan yang ada di tangannya.
Ibu menarik tangan bapak, dia terlihat kecewa namun juga tidak ingin bapak menghukum ku lebih jauh.
"Udah pak, kamu mau dia mati?" Ucap Ibu sambil menangis.
"Bagusan mati buk, daripada jadi banci" Ucap bapak.
Bapak berjalan keluar dari rumah, entah pergi kemana.
Ibu memeluk ku dan memperhatikan luka - luka di tubuhku.
"Nak, jangan di ulangi lagi" Ucap Ibu
"Janji sama ibu nak" Ucapnya lirih
Aku hanya terdiam, aku menangis keras. Aku sudah tidak bisa membedakan apakah aku sedang kesakitan, malu, hancur atau karena apa. Namun setelah hal itu, semua pakaian kakak yang lama di sumbangkan setelah di cuci.
Dan sisa pakaian yang lain di masukkan kedalam lemari dan di kunci.
Sejak hari itu, aku melihat diriku menjadi sangat berbeda. Ada rasa bersalah dan rasa ingin menghilang dari muka bumi.
Aku melanjutkan sisa waktu ku dengan perbanyak belajar karena ujian sudah dekat. Tekat ku hanyalah segera tamat sekolah dan hidup mandiri
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Baru Sebagai Asyifa
Fiksi UmumBacaan dengan unsur 21+ mengandung unsur LGBTQ dan sejenisnya
